Jumat, 20 Desember 2013


Di Daerah Istimewa Yogyakarta dan daerah - daerah lain yang merupakan wilayah kerajaan Islam biasanya memiliki banyak tinggalan budaya, terutama pada Bulan Suro dan Bulan Sapar. Salah satu daerah yang memiliki budaya pada Bulan Sapar adalah Gamping, Sleman yang terkenal dengan bekakaknya atau tepatnya pada hari Jumat antara tanggal 10 - 20 Sapar. Bekakak sendiri merupakan sepasang pengantin yang dibuat dari ketan, juruh (gula jawa cair) dan aksesoris pengantin berbusana jawa.


Pembuatan bekakak di lakukan pada Hari Kamis pagi dan harus selesai sebelum Adzan Maghrib di kediaman Pak Dukuh. Kemudian malam harinya bekakak di arak menuju kantor kecamatan dan didiamkan hingga Jumat siang sebelum bekakak akan dikirab menuju tempat penyembelihan. Sewaktu bekakak berada di kantor kecamatan, bekakak dianggap sedang dalam proses malam widodareni.

Hari Jumat siang kedua bekakak tersebut di kirab menuju dua tempat penyembelihan yang berbeda, yang pertama di Gunung Keliling yang terletak di depan Stikes Ahmad Yani, bekakak yang kedua di sembelih di Gunung Gamping yang terletak di Dusun Tlogo. Tempat penyembelihan bekakak di Gunung Keliling sekarang sudah mengalami perpindahan tempat / altar penyembelihan. Awalnya alatar penyembelihan berada di tanah yang sekarang menajdi stikes, tetapi sekarang dipindah di depan Stikes.


Penyembelihan bekakak di Gunung Keliling mungkin tidak seramai penyembelihan di Gunung Gamping, tetapi masyarakat tetap antusias untuk menyaksikan acara penyembelihan bekakak dan berebut gunungan. Selain itu, ada juga hiburan jathilan di Utara altar penyembelihan.

Link terkait : http://tinyurl.com/jw6sac9

Senin, 16 Desember 2013

Candi Barong

Posted by Unknown On 06.18 No comments

Candi Barong merupakan sebuah candi yang terletak di perbukitan batur agung, tepatnya berada di Dusun Candisari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman yang berjarak tempuh kira - kira 25 km dari Kota Jogja. Candi ini diperkirakan dibangun sekitar abad 9 Masehi dan merupakan Candi dari agama Hindu.

 
Candi ini memiliki keunikan dengan memiliki dua buah bangunan utama tanpa ruang dengan empat buah relung pada sisi - sisinya. Selain itu, kedua bangunan utama tersebut juga menyatu dengan sebuah altar yang sama. Kedua bangunan utama tersebut posisinya juga tidak simetris, yang satu berada hampir di tengah yang satu berada di banagaian Selatan altar. hampir lurus dengan bangunan utama yang tengah terdapat portal candi yang menghadap ke arah Barat dan terdapat tangga di bawahnya.

 
Karena keletakan Candi Barong yang berada diatas bukit batur agung bagaian Barat, maka pemandangan yang disuguhkan juga menawan. Kota Jogja dapat dilihat dari tempat ini.

Rute menuju tempat ini cukup mudah diingat, dari timur pasar prambanan atau gapura batas provinsi tinggal ke Selatan terus arah goa Ratu Boko, di pertigaan goa Ratu Boko ambil ke arah kiri. Candi ini belum ditarik retribusi masuk maupun tempat parkir, pengunjung tinggal mengisi buku tamu saja. Jadi cukup menarik jika ingin menambah ilmu tentang sejarah di Indonesia.

Selasa, 03 Desember 2013


Pangeran Diponegoro merupakan salah satu pejuang yang harus diketahui dan diteruskan perjuangannya oleh generasi sekarang. Mungkin banyak orang yang mendengar nama Pangeran Diponegoro tetapi tidak tahu bagaima perjuangan Pangeran Diponegoro untuk bangsa ini.


Tetapi ada salah satu seniman yang mengapresiasi perjuangan Pangeran Diponegoro di negeri ini, beliau adalah Landung Simatupang melalui pembacaan dramatik kisah Pangeran Diponegoro yang di beri judul Sang Pangeran di Karesidenan. Landung Simatupang memilih tempat pembacaan di Pendopo Bakorwil II Jawa Tengah karena di tempat itulah Pangeran Diponegoro di khianati dan di tangkap oleh Belanda. Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda pada bulan Syawal. Awalnya Pangeran Diponegoro di undang oleh De Kock ke karesidenan, Pangeran Diponegoro yang lebih muda dari De Kock memenuhi undangan tersebut karena tradisinya ketika bulan Syawal yang muda berkunjung ke tempat yang lebih tua. Di depan Karesidenan waktu itu banyak tentara Belanda dan Pangeran Diponegoro tidak curiga karena setiap Hari Minggu tempat itu memang untuk kumpul para tentara Belanda dengan jumlah yang lebih banyak dibandingkan hari lainnya.

Ketika Pangeran Diponegoro berada di ruangan De Kock, Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda dengan curang dan kemudian Pangeran Diponegoro di bawa ke Karesidenan Semarang untuk kemudian di bawa ke Batavia.


Pembacaan dramatik di ex. Karesidenan Kedu Magelang memang sudah berakhir sampai penangkapan Pangeran Diponegoro, tetapi rangkaian pembacaan dramatik masih dilanjutkan di lain waktu pada tempat yang berbeda yaitu di Tegalrejo, Yogyakarta yang dahulu merupakan kediaman Pangeran Diponegoro, kemudian di Gedung Stadhius Jakarta (Museum Fatahilah) sebagai tempat pengasingan pertama Pangeran Diponegoro, terakhir di Benteng Rotterdam Makasar sebagai tempat mengkebumikan Pangeran Diponegoro. Pembacaan dramatik iki juga menggandeng teater Gadjah Mada sebagai pemeran tokoh - tokoh dalam cerita PAngeran Diponegoro serta karawitan Sanata Darma sebagai pengiring musik Jawa.


Para penonton pembacaan dramatik yang tidak hanya berasal dari Magelang saja diajak masuk ke dalam Museum Diponegoro untuk melihat kursi tempat Pangeran Diponegoro ditangkap, jubah Pangeran Diponegoro sepanjang 2 meter, Al-Qur'an, alas shalat, dan cangkir.

Senin, 18 November 2013


Bunga matahari memang meniliki pesona bagi setiap orang yang melihatnya, dengan warnanya yang kuning melingkar seperti membentuk lidah matahari semakin menambah pesona bunga tersebut. Bunga yang berasal dari Amerika ini juga menarik perhatian bagi para serangga seperti lebah. Selain itu biji bunga matahari juga merupakan cemilan enak ketika sudah diolah.

Bunga ini semakin lama semakin banyak yang membudidayakan, salah satu tempat yang membudidayakan bunga ini untuk kepentingan wisata adalah Gunung Api Purba (GAP) Nglanggeran sejak tahun 2012 kemarin. Kehadiran bunga matahari di Gunung Api Purba Nglanggeran semakin memperindah pemandangan di sekitar gunung api yang sudah mati sejak 60 juta tahun yang lalu ini, selain itu juga dapat merubah pandangan Gunungkidul yang dipandang sebagai daerah gersang.


Kebun bunga matahari ini memang kurang begitu luas, tetapi cukup menyambut setiap pengunjung yang akan menaiki Gunung Api Purba Nglanggeran karena letaknya yang berada di dekat Pendopo Kalisong.Setiap pengunjung diperbolehkan untuk memfoto atau berfoto dengan background bunga ini tetapi tidak boleh memetiknya karena masih banyak pengunjung - pengunjung lain yang ingin melihat bunga matahari di Gunung Api Purba Nglanggeran.

Jumat, 08 November 2013

Jamasan Pusaka Suroloyo

Posted by Unknown On 21.17 No comments

Tanggal 1 Suro merupakan tahun baru dalam penanggalan kalender Jawa, banyak orang yang memperingati malam tanggal 1 ataupun pas tanggal 1 nya dengan tradisinya masing - masing. Sebagaian besar orang - orang memperingatinya dengan melakukan penjamasan atau pembersihan terhadap pusaka yang sudah diwariskan dari leluhurnya atau orang yang berperan penting dalam kehidupannya.


Di Puncak Suroloyo yang berada di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kulonprogo memiliki pusaka yang merupakan pemberian dari Sri Sultan HB IX  sebagai penada kalau Suroloyo merupakan Sultan Ground. Pusaka tersebut adalah Tombak Kyai Manggolo Murti dan Songsong Kyai Makuta Dewo. Kedua pusaka tersebut selalu dijamas di Sendang Widodaren setiap tanggal 1 Suro agar masyarakat Suroloyo menjadi ayem tentrem.


Prosesi dimulai sejak malam 1 Suro dengan kenduri dan tirakatan, kemudian pagi harinya pusaka tersebut di arak dari patung semar menuju sendang. Banyak masyarakat yang antusia untuk menyaksikan penjamasan pusaka ini dan ingin berebut air bekas penjamasan. Setelah penjamasan selesai, acara ditutup dengan pertunjukan jathilan di dekat Puncak Suroloyo.

Sabtu, 02 November 2013

Pacuan Kuda Sri Sultan HB X Cup

Posted by Unknown On 05.37 No comments

Stadion Sultan Agung kembali berdebu ketika para atlet pacuan kuda dan kudanya kembali meramaikan kompetisi Pacuan Kuda Sri Sultan Hamnegku Buwana X Cup. Tetapi bukan berarti Stadion Sultan Angung yang berada di Bantul ini menjadi kotor akibat debunya, karena lokasi race pacuan kuda berada di sebelah Barat Stadion. Acara yang dimulai sejak pukul 10.00 WIB ini berlangsung selama dua hari yaitu hari Sabtu tanggal 2 November sampai Minggu 3 November 2013.


Hari pertama diawali dengan balapan bendi sebanyak empat race. Sistem penilaian balapan bendi bukan hanya pada siapa yang masuk garis finish pertama kali, tetapi bendi mana yang dapat berjalan secara selaras. Peserta balapan bedi ini juga cukup unik dalam menggunakan kostum, para peserta balapan bendi ini kebanyakan menggunakan jaket dan helm modern seperti layaknya orang akan bepergian ke luar kota menggunakan motor.


Sekitar pukul 11.15 WIB lomba yang sangat ditunggu - tunggu akhirnya muncul, yaitu pacuan kuda. Pada Hari Sabtu, pacuan kuda cuma sebanyak 11 race saja dengan kelas lokal dan kuda anjing sedangkan pada hari Minggu akan diadakan pacuan sebanyak 18 race dengan kelas Nasional. Acara pacuan kuda kali ini dapat dibilang cukup dekat jaraknya dengan Pacuan Kuda Pakualam Cup pertama yang berlangsung pada Bulan September lalu.

Selasa, 29 Oktober 2013


.....jugijagijug gijag gijug
kereta berhenti
jugijagijug gijag gijug
hatiku bahagia.....

Itulah sebuah lirik lagu yang sering terdengar di radio pada akhir - akhir ini, tetapi bunyi .....nguuuuk nguuuuuk nguuuuuuuuuuuuuuuuuk...... barulah sebuah bunyi yang dapat didengar sejak tahun 1867 sampai sekarang. Bunyi tersebut berasal dari sebuah lokomotif kereta yang merupakan sarana transportasi darat yang dibawa oleh Belanda ke Indonesia. Dari tahun 1902 sampai tahun 2013 ini tentunya sudah banyak perkembangan mengenai transportasi darat berupa kereta api yang pada waktu itu berbahan bakar uap air yang dimasak didalam lokomotif menjadi lebih praktis dan simpel. Akibat dari perkembangan tersebut cara yang ribet dan lama menjadi ditinggalkan, seperti kereta lokomotif uap yang sekarang sudah diganti dengan kereta modern yang pengoperasiannya tidak memerlukan waktu lama dan bahan bakar yang semakin sulit didapat. Tetapi lokomotif uap tidak boleh ditinggalkan begitu saja karena sekarang sudah menjadi salah satu bagaian dari sejarah transportasi di negeri ini.

Di Museum Kereta Ambarawa, ada tiga buah lokomotif uap yang sampai sekarang masih dapat dan dioperasikan untuk wisata. Seperti yang sudah dibilang tadi, pengoprasionalan lokomotif uap memerlukan waktu persiapan yang lama dan biaya yang mahal. Persiapan untuk menjalankan sebuah lokomotif uap memerlukan waktu sekitar dua sampai tiga jam untuk memasak air hingga matang dan mengeluarkan uapnya, untuk memasak air tersebut juga diperlukan puluhan batang kayu yang besar - besar sehingga biaya yang dipergunakan untuk pegoperasiannya saati ini menjadi mahal.

Tetapi pada beberapa waktu lalu admin mendapat kesempatan untuk menaiki kereta yang ditarik dan didorong oleh lokomotif uap ini. Berawal dari sebuah sms dari teman yang menawarkan kesempatan ini dengan waktu daftar kurang dari 24 jam dan bantuan teman yang memberi tawaran tadi akhirnya admin berhasil mendapatkan kesempatan tersebut.

Sabtu pagi pukul 08.00 admin dan teman - teman lain berangkat dari kantor surat kabar Magelang Ekspres menuju Ambarawa. Dan sesuai target, pukul 09.00 rombongan sudah sampai di Ambarawa untuk menyaksikan dahulu proses pemasakan air pada lokomotif. Setelah sekitar dua jam menunggu, lokomotif sudah siap untuk menarik dua buah gerbong dengan kapasitas mencapai delapan puluh hingga sembilan puluh orang. Tetapi terjadi sedikit masalah pada lokomotif yang sangat tua tersebut sehingga harus berganti lokomotif B2503 dan menunggu sekitar dua jam lagi.


Akhirnya pukul 13.00 lokomotif B2503 sudah siap dan rombongan satu persatu memasuki gerbong. Sesudah semua penumpang memposisikan dirinya, rambu - rambu semboyan 40 di angkat dan peluit ditiup sebagai tanda kereta sudah siap untuk berangkat. Suara lokomotif yang nyaring mengiringi keberangkatan rombongan dari Ambarawa atau Stasiun Williem menuju Stasiun Bedono.

Selepas dari Ambarawa, pemandangan yang dilihat sangat menakjubkan, ada Pegunungan Telomoyo dan Gunung Merbabu serta sawah yang dapat dilihat sepanjang perjalanan. Kemudian kereta melewati pemukiman dan berhenti di Stasiun Jambu untuk membalik lokomotif yang awalnya menarik gerbong menjadi mendorong gerbong. Lokomotif harus dibalik karena jalur kereta mulai dari Stasiun Jambu sampai Stasiun Secang berupa perbukitan yang naik turun, sedangkan posisi Stasiun Jambu dan Stasiun Bedono berada jauh sebelum Stasiun Secang.


Perjalanan dilanjutkan dan kereta kembali berhenti di tepi jalan raya Semarang untuk mengisi air yang diambil dari parit. Karena letaknya yang berada di tepi jalan raya, moment langka dan unik ini menarik perhatian para pengguna jalan. Tidak jarang pengendara roda dua yang berhenti dan pengendara roda empat yang memperlambat laju kendaraannya.

Setelah air di dalam lokomotif dirasa penuh, perjalanan dilanjutkan menuju Stasiun Bedono. Dalam perjalanan menuju Stasiun Bedono, admin melihat Gunung Ungaran yang berada di belakang lokomotif dan penduduk yang ramah - ramah dengan lambaian tangan serta senyumannya.


Akhirnya sampailah di Stasiun Bedono, di stasiun ini lokomotif kembali diisi air hinga penuh dengan pipa pengisi air lokomotif yang ada sejak jamannya. Mungkin pengisian air kali ini luput dari perhatian teman - teman yang ikut dalam rombongan karena saat pengisian air ini hanya satu dua orang yang manyaksikan. Setelah air penuh, lokomotif kembali disambungkan pada gerbong dan melanjutkan perjalanan untuk kembali menuju Ambarawa tanpa berhenti lagi.

Total perjalanan dari Ambarawa - Bedono - Ambarawa ada sekitar tiga jam dan proses pemasakan air membutuhkan waktu sekitar dua jam, jadi jika teman - teman lainnya ingin mencoba sensani menaiki kereta yang ditarik lokomotif tua dan ingin menyaksikan prosesnya dari awal membutuhkan waktu sekiatr lima jam dengan posisi sudah berada di Ambarawa dua jam sebelum jadwal keberangkatan kereta.

Admin juga sempat membuat video yang berisi proses pemasakan air, pemberangkatan, dalam perjalanan, dan beberapa fenomena untuk seperti tradisi anak kecil yang selalu berlari menegejr kereta serta anak kecil yang mendapat uang dari para penumpang kereta :



Link terkait : Foto Lokomotif B2503

Jumat, 25 Oktober 2013

Dosa Dosa Pertama

Posted by Unknown On 00.54 No comments

Dosa Dosa Pertama, ketika mendengar kata itu pasti akan muncul berbagai pertanyaan, mungkin juga dapat muncul sebuah pemaknaan yang negativ. Tetapi dosa dosa pertama sebenarnya bukanlah hal yang negativ. Dosa Dosa Pertama merupakan sebuah akronim dari Dolan Sabtu Dolan Santai yang dilakukan pertama kali oleh admin dan teman - teman kuliahnya. Memang admin sering sekali dolan, tetapi sudah lama jarang main bareng dengan teman - teman yang berjumlah banyak 

Pada Dosa Dosa Pertama ini rencananya mengunjungi sekitar 10 situs dan tempat wisata di Kulonprogo, tetapi karena banyak halangan maka cuma 2 situs dan sebuah tempat wisata saja yang dapat dikunjungi. Perjalanan diawali dengan berkumpul di Bonbin, sebutan untuk sebuah kantik di UGM. Pukul 10.00 kami berangkat dari sana dan mampir dahulu ke sebuah toko 24 jam yang berada di Jalan Godean. Di situlah insiden pertama terjadi ketika ada ban motor yang bocor terkena kawat, akhirnya perjalanan sempat tertunda sekitar 30 menit.


Setelah selesai menambal ban motor yang bocor, kami segera melanjutkan perjalanan. Tujuan pertama adalah Candi Pringtali, Puncak Suroloyo dan beberapa situs yang ada disekitar sana, tetapi karena jalanannya yang naik turun maka tujuan itu kami skip. Akhirnya kami langsung menuju Candi Pohpohan yang berada di Kecamatan Nanggulan. Mungkin ketika mendengar kata candi, yang terlintas di pikiran adalah sebuah bangunan yang tinggi dan besar. Tetapi di candi ini, tidak seperti yang dipikirkan tersebut. Candi Pohpohan yang terbuat dari bata bentuknya sudah sulit untuk diketahui dan tertutup dedaunan yang rontok dari pohon pohpohan diatasnya.

Walaupun bentuk candi sulit untuk dikenali, tetapi harsat untuk narsisi tetap ada pada diri kami. Setelah kami selesai berfoto di atas candi dan berfoto di dekat kandang sapi, kami langsung melanjutkan perjalanan ke tempat berikutnya. Dalam perjalanan, kami sempat mampir dahulu ke Kota Wates untuk makan siang sambil menunggu teman yang akan menyusul kami. Karena mie ayam merupakan makanan wajib ketikan dolan, makan yang kami cari adalah mie ayam.


Setelah semua kenyang, perjalanan langsung dilanjutkan ke Stupa Glagah yang berada tepat dipinggir Jalan Raya Daendels. Di Situs Stupa Glagah kami juga tidak berlama - lama karena sudah tercium bau pantai yang ingin segera kami datangi.


Pukul 15.00 kami sudah berada di Pantai Glagah, kebetulan di Pantai Glagah juga sedang ada acra Festival Layang - Layang Nasional 2013. Kami cuma melihat festival layang - layang tersebut dari pinggir laguna sambil menunggu empat teman kami yang tercecer sebelum menaiki perahu wisata. Tak terasa ternyata kami menaiki kapal wisata selama 30 menit untuk memutari laguna Pantai Glagah.


Karena berkunjung ke Glagah belum dianggap ke Glagah jika belum sampai ke ujung dermaga, maka kami berjalan kesana dan lupa jika masih ada beberapa tempat yang akan kami kunjungi sekalian perjalanan pulang ke Jogja. Polah tingkah di atas dermaga juga bermacam - macam, ditambah lagi ketika ada sebuah motor lawas, semua pada narsis dengan gayanya masing - masing. Ada yang berpose seolah - olah sedang pemotretan prewedding, ada juga yang berobsesi sebagai model yang sangat sexy, dan polah tingkah lainnya.

Tak terasa waktu sudah menjunjukkan pukul 17.00, akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Tetang tempat tujuan berikutnya, kami akan mampir jika langit masih terlihat terang. Ketika kami melewati tujuan selanjutnya, langit sudah gelap dan kami memutuskan untuk menskipnya dan langsung pulang ke tempat masing - masing. Tetapi sebelum pulang kami tidak lupa untuk makan malam dahulu di daerah Gamping.

Rabu, 23 Oktober 2013


Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan sebuah darah yang dipimpim oleh Raja yang menjadi Gubernur. Selain itu Daerah Istimewa Yogyakarta juga terkenal dengan budayanya. Dan semakin ke depan acara kirab semakin sering diadakan di Daerah Istimewa Yogyakarta dan biasanya kirab tersebut dijadikan agenda tahunan. Tetapi kali ini ada sebuah kirab yang hanya ada sekali seumur hidup, yaitu Kirab Dhaup Ageng pernikahan GKR Hayu dengan KPH Notonegoro. GKR Hayu sendiri adalah putri dari Sri Sultan Hamengku Buwana X.

Diawali dengan Nyekar di Pajimatan Imogiri pada tanggal 13 Oktober, kemudian dilanjutkan dengan prosesi pernikahan lain pada tanggal 21 - 22 Oktober dan kirab serta pamitan pada tanggal 23 Oktober.


Pada tanggal 23 Oktober pagi, seluruh masyarakat baik dalam Jogja maupun luar Jogja sudah memadati Malioboro untuk menyaksikan kirab ini. 12 kereta dengan 78 kuda serta ratusan prajurit beriringan dari Kraton menuju Kepatihan untuk melakukan resepsi. Pada pukul 09.30 5 kereta menjadi rombongan pertama dalam kirab ini, kemudian disusul oleh 6 kereta berikutnya pada rombongan kedua. Pukul 10.00 kirab sudah selesai dan 12 kereta yang digunakan dalam kirab ini dikembalikan lagi ke dalam Museum Kereta yang berada di sebelah Barat Kraton Yogyakarta.

Selasa, 22 Oktober 2013


....ku ambil bambu sebatang
ku raut dan kutimbang dengan benang
ku jadikan layang - layang...

Itulah sebuah lirik lagu anak - anak yang sekarang sudah jarang didengar bahkan sudah tidak pernah didengarkan. Tetapi yang akan diceritakan pada posting kali ini bukan tentang lagu tersebut yang sudah hilang kabanya, melainkan tentang apa yang diceritakan dalam lagu tersebut yaitu layang - layang. Pada tanggal 19 - 20 Oktober 2013, di Pantai Glagah, Kabupaten Kulonprogo diadakan sebuah event tahunan yaitu festival layang - layang nasional. Peserta yang mengikuti acara ini ada yang berasal dari Sumatera, Sulawesi, dan dari daerah - daerah lain di Indonesia.

Dari segi bentuk, layang - layang yang diterbangkan bervariativ. Ada yang berbentuk ikan nemo, ada yang berbentuk naga, ada yang berbentuk kupu - kupu, dan ada juga bentuk - bentuk lain sesuai kreatifitas para peserta. Selain bentuknya yang beragam, bahannya juga ada yang terbuat dari daun dan masuk kedalam kategori layang - layang tradisional. Cuaca mendung tidak menghalangi semangat para peserta untuk dapat menerbangkan layang - layangnya diatas Pantai Glagah.

Minggu, 20 Oktober 2013

Jelajah Tjandi Temanggung

Posted by Unknown On 20.33 No comments

Komunitas pecinta budaya di Indonesia semakin kedepan semakin bertambah banyak, ada yang bersifat kedaerahan ada juga yang bersifat nasional. Salah satu komunitas pecinta budaya yang memiliki kegiatan - kegiatan menarik adalah Kota Toea Magelang (KTM). Pada hari Minggu 13 Oktober 2013 komunitas ini mengadakan acara Jelajah Tjandi di Temanggung dengan tujuan awal Situs Liyangan, Umbul Jumprit, Candi Pringapus, dan Prasasti Gondosuli.


Kegiatan jelajah diawali dengan berkumpul di Monumen Ahmad Yani Magelang yang berada di depan Taman Badaan. Satu persatu peserta jelajah berkumpul di tempat ini, para peserta bukan hanya berasal dari Magelang saja tetapi ada juga yang dari Jogja, Semarang, Bali.


Sekitar pukul 09.00 rombongan jelajah berangkat dari Monumen Ahmad Yani dengan kendaraan roda dua dan roda empat yang dikawal rombongan motor - motor touring. Ketika rombongan melewati Kantor Camat Parakan, rombongan berhenti dahulu disana untuk bertemu komunitas pecinta budaya dari Temanggung yang bernama PRABUTARA (Perangakai Budaya Nusantara) yang akan memandu rombongan ketika berjelajah di Temanggung.

Objek pertama yang dikunjungi adalah Umbul Jumprit yang merupakan mata air dari Sungai Progo. Di tempat ini biasanya digunakan sebagai tempat pengambilan air suci ketika Waisak. Selain itu di tempat ini ada kepercayaan - kepercayaan lain ketika mandi atau membasuh muka dengan air yang ada di Umbul Jumprit.


Perjalanan dilanjutkan menuju Kramat yang terletak tidak jauh dari Jumprit. Kramat sendiri merupakan sebuah tempat yang disana terdapat bebatan candi dan beberapa makam. Ada sebuah makam yang diberi cungkup sederhana yang menurut penjelasan dari PRABUTARA itu adalah makam Kyai Terasan / Pangeran Gagak Baning.


Setelah dari Kramat, rombongan menuju Situs Liyangan yang jaraknya juga tidak jauh. Situs Liyangan merupakan situs yang sangat menrik karena disana terdapat banyak temuan - temuan penting seperti yoni dengan lubang tiga, kayu yang sudah menjadi arang, keramik, jalan setapak dari jaman klasik, dan tentunya masih banyak temuan menarik lainnya di Situs Liyangan.


Karena masih banyak tempat lain yang akan dikunjungi, maka rombongan tidak lama - lama di Liyangan. Objek berikutnya adalah Candi Pringapus, sebuah candi yang terdapat arca nandi di dalam biliknya. Selain itu di candi ini juga terdapat banyak bebatuan dari Candi Perot yang berada tidak jauh dari Candi Pringapus.


Tempat berikutnya adalah Candisari, sebuah desa yang penuh dengan sebaran batuan candi. Hampir disetiap sudut desa terdapat bebatuan candi. Di tempat inilah rombongan berjalan kaki bersama mengelilingi desa, walaupun waktu di Candisari cukup lama tetapi banyak yang belum puas karena merasa belum mengunjungi sampai sudut - sudut desa.


Perjalanan dilanjutkan ke Prasasti Gondosuli yang jaraknya bisa dibilag cukup jauh dari situs - situs sebelumnya. Selain ada Prasasti yang ditulis di sebuah batu besr, ada juga bebatuan candi, yoni dan arca nandi di situs ini.


Hari sudah semakin sore dan masih ada satu tempat lagi yang terletak didekat Prasasti Gondosuli yaitu Situs Ngadisari. Di situs ini terdapat sebuah yoni dan bebatuan candi lainnya. Menurut warga, di Situs ini dahulu pernah dilakukan penggalian dan semua batunya dikumpulkan jadi satu di tempat ini. Ketika ada warga yang menemukan batu candi ketika sedang membuat sumur atau pondasi rumah juga akan menaruh batu candi tersebut ditempat ini. Batu candi yang dikumpulkan di tempat ini ditata sehingga membentuk seperti mini taman.

Kemudian acra ditutup dengan makan bersama di salah satu rumah makan padang di Temanggung. Setelah semua kenyang, rombongan kembali ke Magelang ke tempat berkumpul tadi di Monumen Ahmad Yani.

Minggu, 06 Oktober 2013

Time Lapse "Jogja 257"

Posted by Unknown On 22.14 No comments
 
Sebuah Time Lapse Fotografi yang dibuat untuk semakin memeriahkan HUT Kota Jogja yang ke 257. Bebera[a titik di Kota Jogja yang dipasangi penjor dan kirab penjor ke 257 juga terangkum dalam time lapse ini. Selamat menyaksikan.

Selasa, 01 Oktober 2013

Time Lapse Kulon Progo Expo 2013

Posted by Unknown On 00.11 No comments

 

Time Lapse Kulonprogo Expo 2013.

Kulon Progo Expo 2013

Posted by Unknown On 00.00 No comments

Kulon Progo Expo kembali di gelar pada tahun 2013 di Alun - Alun Wates, Kulon Progo. Acara ini digelar dengan konsep seperti Manunggal Fair yaitu untuk memperkenalkan potensi daerah, tetapi pada tahun ini nama Manunggal Fair di ganti dengan nama Kulon Progo Expo 2013.

Acara ini di buka sejak Hari Jumat, 27 September 2013 oleh Wakil Bupati Kulonprogo dan berakhir pada Hari Minggu, 6 Oktober 2013. Pada hari Senin - Jumat, acara yang diikuti oleh 257 stand ini buka mulai pukul 16.00 WIB, sedangkan pada hari Sabtu & Minggu buka lebih awal.

Selain pameran potensi daerah, dalam acara Kulon Progo Expo 2013 juga ada wahana permainan anak, panggung hiburan, dan juga lomba foto tentang Kulon Progo Expo 2013.

Link : Lomba Foto Kulonprogo Dalam Lensa
Time Lapse Kulonprogo Expo 2013

Minggu, 29 September 2013

Pacuan Kuda Pakualam Cup I

Posted by Unknown On 20.57 No comments

Agenda tahunan pacuan kuda di Stadion Sultan Agung Bantul kini bertambah satu lagi setelah diadakan Pacuan Kuda Pakualam Cup seri I. Sebelumnya pacuan kuda yang diadakan di tempat ini hanya dua kali dalam satu tahun, yaitu Piala Raja dan Piala Bupati Bantul.

 
Pacuan Kuda yang memperebutkan piala bergilir dari Pakualam ini diikuti oleh sekitar seratusan kuda dari Pulau Jawa dan Luar Pulau Jawa, bahkan Timor Leste juga ikut memeriahkan pacuan kuda ini. Dimulai sejak pagi, 18 race di habiskan dalam satu hari pada tanggal 29 September 2013 kemarin.

 
Selain asal peserta yang bervariasi, kelas kuda yang mengikuti jalannya perlombaan juga bervariasi, Ada yang kelas pemula, dewasa, senior, lokal, jarak.

Site search