Selasa, 29 Oktober 2013


.....jugijagijug gijag gijug
kereta berhenti
jugijagijug gijag gijug
hatiku bahagia.....

Itulah sebuah lirik lagu yang sering terdengar di radio pada akhir - akhir ini, tetapi bunyi .....nguuuuk nguuuuuk nguuuuuuuuuuuuuuuuuk...... barulah sebuah bunyi yang dapat didengar sejak tahun 1867 sampai sekarang. Bunyi tersebut berasal dari sebuah lokomotif kereta yang merupakan sarana transportasi darat yang dibawa oleh Belanda ke Indonesia. Dari tahun 1902 sampai tahun 2013 ini tentunya sudah banyak perkembangan mengenai transportasi darat berupa kereta api yang pada waktu itu berbahan bakar uap air yang dimasak didalam lokomotif menjadi lebih praktis dan simpel. Akibat dari perkembangan tersebut cara yang ribet dan lama menjadi ditinggalkan, seperti kereta lokomotif uap yang sekarang sudah diganti dengan kereta modern yang pengoperasiannya tidak memerlukan waktu lama dan bahan bakar yang semakin sulit didapat. Tetapi lokomotif uap tidak boleh ditinggalkan begitu saja karena sekarang sudah menjadi salah satu bagaian dari sejarah transportasi di negeri ini.

Di Museum Kereta Ambarawa, ada tiga buah lokomotif uap yang sampai sekarang masih dapat dan dioperasikan untuk wisata. Seperti yang sudah dibilang tadi, pengoprasionalan lokomotif uap memerlukan waktu persiapan yang lama dan biaya yang mahal. Persiapan untuk menjalankan sebuah lokomotif uap memerlukan waktu sekitar dua sampai tiga jam untuk memasak air hingga matang dan mengeluarkan uapnya, untuk memasak air tersebut juga diperlukan puluhan batang kayu yang besar - besar sehingga biaya yang dipergunakan untuk pegoperasiannya saati ini menjadi mahal.

Tetapi pada beberapa waktu lalu admin mendapat kesempatan untuk menaiki kereta yang ditarik dan didorong oleh lokomotif uap ini. Berawal dari sebuah sms dari teman yang menawarkan kesempatan ini dengan waktu daftar kurang dari 24 jam dan bantuan teman yang memberi tawaran tadi akhirnya admin berhasil mendapatkan kesempatan tersebut.

Sabtu pagi pukul 08.00 admin dan teman - teman lain berangkat dari kantor surat kabar Magelang Ekspres menuju Ambarawa. Dan sesuai target, pukul 09.00 rombongan sudah sampai di Ambarawa untuk menyaksikan dahulu proses pemasakan air pada lokomotif. Setelah sekitar dua jam menunggu, lokomotif sudah siap untuk menarik dua buah gerbong dengan kapasitas mencapai delapan puluh hingga sembilan puluh orang. Tetapi terjadi sedikit masalah pada lokomotif yang sangat tua tersebut sehingga harus berganti lokomotif B2503 dan menunggu sekitar dua jam lagi.


Akhirnya pukul 13.00 lokomotif B2503 sudah siap dan rombongan satu persatu memasuki gerbong. Sesudah semua penumpang memposisikan dirinya, rambu - rambu semboyan 40 di angkat dan peluit ditiup sebagai tanda kereta sudah siap untuk berangkat. Suara lokomotif yang nyaring mengiringi keberangkatan rombongan dari Ambarawa atau Stasiun Williem menuju Stasiun Bedono.

Selepas dari Ambarawa, pemandangan yang dilihat sangat menakjubkan, ada Pegunungan Telomoyo dan Gunung Merbabu serta sawah yang dapat dilihat sepanjang perjalanan. Kemudian kereta melewati pemukiman dan berhenti di Stasiun Jambu untuk membalik lokomotif yang awalnya menarik gerbong menjadi mendorong gerbong. Lokomotif harus dibalik karena jalur kereta mulai dari Stasiun Jambu sampai Stasiun Secang berupa perbukitan yang naik turun, sedangkan posisi Stasiun Jambu dan Stasiun Bedono berada jauh sebelum Stasiun Secang.


Perjalanan dilanjutkan dan kereta kembali berhenti di tepi jalan raya Semarang untuk mengisi air yang diambil dari parit. Karena letaknya yang berada di tepi jalan raya, moment langka dan unik ini menarik perhatian para pengguna jalan. Tidak jarang pengendara roda dua yang berhenti dan pengendara roda empat yang memperlambat laju kendaraannya.

Setelah air di dalam lokomotif dirasa penuh, perjalanan dilanjutkan menuju Stasiun Bedono. Dalam perjalanan menuju Stasiun Bedono, admin melihat Gunung Ungaran yang berada di belakang lokomotif dan penduduk yang ramah - ramah dengan lambaian tangan serta senyumannya.


Akhirnya sampailah di Stasiun Bedono, di stasiun ini lokomotif kembali diisi air hinga penuh dengan pipa pengisi air lokomotif yang ada sejak jamannya. Mungkin pengisian air kali ini luput dari perhatian teman - teman yang ikut dalam rombongan karena saat pengisian air ini hanya satu dua orang yang manyaksikan. Setelah air penuh, lokomotif kembali disambungkan pada gerbong dan melanjutkan perjalanan untuk kembali menuju Ambarawa tanpa berhenti lagi.

Total perjalanan dari Ambarawa - Bedono - Ambarawa ada sekitar tiga jam dan proses pemasakan air membutuhkan waktu sekitar dua jam, jadi jika teman - teman lainnya ingin mencoba sensani menaiki kereta yang ditarik lokomotif tua dan ingin menyaksikan prosesnya dari awal membutuhkan waktu sekiatr lima jam dengan posisi sudah berada di Ambarawa dua jam sebelum jadwal keberangkatan kereta.

Admin juga sempat membuat video yang berisi proses pemasakan air, pemberangkatan, dalam perjalanan, dan beberapa fenomena untuk seperti tradisi anak kecil yang selalu berlari menegejr kereta serta anak kecil yang mendapat uang dari para penumpang kereta :



Link terkait : Foto Lokomotif B2503

2 komentar:

  1. Wah, meriah tenan kang... sayang aku ra melu.. ha Jadwal'e ndadak je...

    BalasHapus

Site search