Selasa, 03 Desember 2013


Pangeran Diponegoro merupakan salah satu pejuang yang harus diketahui dan diteruskan perjuangannya oleh generasi sekarang. Mungkin banyak orang yang mendengar nama Pangeran Diponegoro tetapi tidak tahu bagaima perjuangan Pangeran Diponegoro untuk bangsa ini.


Tetapi ada salah satu seniman yang mengapresiasi perjuangan Pangeran Diponegoro di negeri ini, beliau adalah Landung Simatupang melalui pembacaan dramatik kisah Pangeran Diponegoro yang di beri judul Sang Pangeran di Karesidenan. Landung Simatupang memilih tempat pembacaan di Pendopo Bakorwil II Jawa Tengah karena di tempat itulah Pangeran Diponegoro di khianati dan di tangkap oleh Belanda. Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda pada bulan Syawal. Awalnya Pangeran Diponegoro di undang oleh De Kock ke karesidenan, Pangeran Diponegoro yang lebih muda dari De Kock memenuhi undangan tersebut karena tradisinya ketika bulan Syawal yang muda berkunjung ke tempat yang lebih tua. Di depan Karesidenan waktu itu banyak tentara Belanda dan Pangeran Diponegoro tidak curiga karena setiap Hari Minggu tempat itu memang untuk kumpul para tentara Belanda dengan jumlah yang lebih banyak dibandingkan hari lainnya.

Ketika Pangeran Diponegoro berada di ruangan De Kock, Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda dengan curang dan kemudian Pangeran Diponegoro di bawa ke Karesidenan Semarang untuk kemudian di bawa ke Batavia.


Pembacaan dramatik di ex. Karesidenan Kedu Magelang memang sudah berakhir sampai penangkapan Pangeran Diponegoro, tetapi rangkaian pembacaan dramatik masih dilanjutkan di lain waktu pada tempat yang berbeda yaitu di Tegalrejo, Yogyakarta yang dahulu merupakan kediaman Pangeran Diponegoro, kemudian di Gedung Stadhius Jakarta (Museum Fatahilah) sebagai tempat pengasingan pertama Pangeran Diponegoro, terakhir di Benteng Rotterdam Makasar sebagai tempat mengkebumikan Pangeran Diponegoro. Pembacaan dramatik iki juga menggandeng teater Gadjah Mada sebagai pemeran tokoh - tokoh dalam cerita PAngeran Diponegoro serta karawitan Sanata Darma sebagai pengiring musik Jawa.


Para penonton pembacaan dramatik yang tidak hanya berasal dari Magelang saja diajak masuk ke dalam Museum Diponegoro untuk melihat kursi tempat Pangeran Diponegoro ditangkap, jubah Pangeran Diponegoro sepanjang 2 meter, Al-Qur'an, alas shalat, dan cangkir.

0 komentar:

Posting Komentar

Site search