Selasa, 30 Desember 2014

Memburu Senja Di Watu Amben Utara

Posted by Unknown On 09.31 No comments
Blue hour yang dibalut mendung

Mendapatkan foto Gunung Merapi sewaktu senja pada pemburuan sunset hari ke duabelas membuat ketagihan sehingga pada pemburuan senja di hari ketigabelas merapi menjadi incaran utama. Karena alam tidak bisa diduga dan admin hanya bisa bermain tebak - tebakan maka admin memilih daerah bukit pathuk sebagai pemburuan senja pada tanggal 30 Desember 2014. Awalnya pingin memburu senja di embung nglanggeran tetapi di perjalanan merapi terlihat dengan jelas maka admin membalik arah menuju puncak watu amben.

Sebelumnya admin sudah pernah membut posting mengenai watu amben baik itu sewaktu senja maupun sewaktu malam hari. Tetapi karena pada pemburuan sunset kali ini ada something maka admin coba berpindah spot ke watu amben sebelah utara. Sebuah warung terpencil sendirian pada sebuah tanjakan dan tikungan dipilih admin sebagai spot pemburuan senja kali ini karena dari spot tersebut mempunya view yang agak sedikit berbeda dari spot biasanya. Ingat, beda satu langkah angel orang memotret akan menghasilkan gambar yang berbeda.

Secangkir kopi sore di watu amben

Tata ruang di warung ini sudah disediakan meja - meja yang berjajar dari Utara ke Selatan sehingga dapat pengunjung bisa minum kopi sambil menikmati suasana senja yang cantik. Ketika hari sudah mulai gelap, lampu Kota Jogja akan menyala dan terlihat jelas dari tempat ini, begitu pula dengan gunung merapi, gunung sumbing, perbukitan menoreh dan laut selatan juga terlihat jelas. Tetapi pada pemburuan kali ini yang terlihat hanyalah merapi, laut selatan dan menoreh, gunung sumbing sedikit malu - malu sambil menampakkan kakinya saja.

Narsis diatas batu

Sebelum ke watu amben utara admin sempat mengambil gambar di deretan bebeatuan besar yang biasanya dipergunakan orang menikmati senja dan dipergunakan pasangan anak muda untuk berduaan. Di tempat ini admin bertemu dengan empat orang remaja dari Klaten yang mengisi sore hari di tempat ini. Mereka memanjat batu sambil bernarsis ria. Selain mereka ada juga dua orang pemuda yang nongkrong diatas batu sambil menunggu hari menjadi gelap.

Senin, 29 Desember 2014

Memburu Senja Di Bukit Pereng

Posted by Unknown On 23.07 No comments
Blue hour di landscape Candi Prambanan

Berbicara mengenai hidden place di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya memang tidak akan ada habisnya, salahsatunya adalah di Dusun Pereng, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah yang mensajikan landscape luar biasa. Dari tempat ini dapat dilihat Candi Prambanan, Candi Sojiwan, Candi Sewu, Candi Plaosan, kemerlap lampu Kota Klaten, Kaliurang, Gunung Merapi, Gunung Sumbing dan Gunung Lawu. Tempatnya memang bukan tempat wisata yang komersil namun tempat ini sudah sangat terkenal dikalangan pecinta fotografi di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya.

Candi Prambanan dan Candi Sojiwan

Akses menuju tempat ini sangat mudah tetapi tidak terdapat papan petunjuk. Jika ingin mengunjungi tempat ini dapat melewati jalan Piyungan - Prambanan dari rel kereta api pasar prabanan ke Selatan sedikit kemudian belok kiri pada pertigaan pertama, kemudian belok kanan pada perempatan pertama ambil jalan utama hingga bertemu sumber watu heritage atau abhaya giri, kemudian ambil jalan kiri (cor blok) terus belok kiri pada perempatan pertama dan ikuti jalan utama.

Spot ini terdapat di depan rumah seorang warga yang memiliki halaman luas. Sedangkan 'titik' pengambilan foto yang menjadi spot seribu umat adalah diatas batu yang berada di tepian tebing. Namun jika berimprovisasi dengan bergeser kanan ataupun kiri malah akan mendapatkan angel yang menghasilkan gambar luar biasa.

Menanti senja bersama seorang kekasih

Pengunjung tempat ini biasanya adalah anak muda yang berpacaran, menikmati sore hari berduaan sambil melihat Candi Prambanan dari ketinggian adalah sesuatu yang romantis. Kalau warga sekitar sendiri malah jarang nongkrong di spot ini karena kesehariannya selalu melihat pemandangan yang menakjubkan ini.
Sedikit tips jika ingin mengunjungi tempat ini pergunakanlah kendaraan yang 'sehat' karena ketika pulang akan melewati turunan tajam sehingga roda kendaraan sebaiknya masih memiliki batikan dan rem kendaraan juga harus yang pakem.

Suasana mendung dari tengah - tengah air terjun Parang Endog

Kawatir mengalami hal sama seperti hari sebelumnya ketika terkena hujan sewaktu memburu sunset di NOL KM Jogja maka admin memilih mencari sunset di pantai karena berdasarkan pengalaman semendung - mendungnya pantai pasti akan ada setitik langit yang cerah. Tetapi pada kali ini pengalaman tersebut tidak berlaku, yang ada malah mendung semakin pekat dan hujan terkadang turun dengan intensitas yang beragam. Ya sudah seperti apappun keadaannya suasana ketika sunset harus tetap diabadikan.

Pada pemburuan sunset hari ke sebelah pada Hari Minggu 28 Desember 2014 admin memilih air terjun di Pantai Parang endog sebagi lokasi pemburuan. Pantai Parang endog dipilih karena keistimewaannya memiliki air terjun tahunan yang langsung mengalir ke laut selatan pada tiap musim hujan. air terjun ini bersumber dari sendang beji yang berada di atasnya tetapi sudah masuk dalam wilayah Gunungkidul.

Air terjun langsung ke laut

Air terjun Parang Endog terletak di Pantai Parang endog, sedangkan Pantai Parang endog berada di jajaran pantai Bantul sebelah Timur atau pantai Bantul nomor dua dari Timur yang berbatasan dengan Pantai Watu Karang (Bantul) pada sisi Timur dan Pantai Parang Tritis pada sisi Barat. Pantai Parang endog juga jarang dikunjungi para wisatawan karena wisatawan harus berjalan kaki sekiat 20 menit dari Pantai Parangtritis. Lahan parkir di pantai ini juga jadi satu dengan Parangtritis.
Nama pantai Parang endog  diambil dari sebuah batu besar yang berada di bawah air terjun yang bentuknya seperti endog (telur) raksasa. Tetapi tidak banyak orang yang mengetahui apa alasan pantai tersebut di namai parang endog, bahkan batu berbentuk telur yang seharusnya menjadi ikon pantai malah terdapat corat coret vandalise dengan pilox.

Tetapi pantai ini memiliki pesona tersendiri sewaktu musim penghujan datang yaitu muncul air terjun yang bersumber dari sendang beji. Sewaktu musim hujan air di sendang beji meluap kemudian airnya mengalir ke Selatan menuju Pantai Parng endog. Pada awalnya aliran air tersebut masih alami dengan latar ebbatuan, tetapi tahun 2011 - 2012 aliran tersebut di "perindah" oleh mahasiswa KKN dari salahsatu universitas di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan di semen.

Bendi yang sampai Pantai Parang Endog

Pantai ini tidak begitu banyak dikenal oleh orang banyak, yang biasanya mengunjungi pantai ini hanayalah para pencari ikan yang mencari pantai agak sepi, pertapa, wisatawan minat khusus dan wisatawan yang menggunakan bendi maupun ATV. Di Pantai Parangtritis terdapat penyewaan bendi yang diberlakukan sistem paket, ada paket yang hanya mengelilingi sebagaian Parangtritis dan paket lengkap dengan rute Paris - Parangkusumo - Parang endog - Watu Karang, dari situlah air terjun Parang endog mulai dikenal oleh para wisatawan. Tidak jarang ada wisatawan yang rela berjalan kaki untuk bermain air di air terjun tersebut karena akan lebih aman jika dibanding dengan main air di tepi laut.
Sedikit tips jika ingin ke Pantai Parang Endog untuk bermain air di air terjun parang endog baiknya pada bulan Desember sampai Februari karena selama tiga bulan tersebut debit air sangat banyak.

Sabtu, 27 Desember 2014

Kala senja yang hujan

Setelah tiga hari mendapat senja yang lumayan indah di Tamansari, Plaosan dan Glagah akhirnya pemburuan senja pada hari kesepuluh di tanggal 27 Desember 2014 ini kembali mendat senja kelabu. Sejak siang hari Jogja sudah diguyur hujan, maka harapannya adalah mendapat moment ketika blue hour atau ketika langit senja berwana biru. Dan lokasi pemburuan sunset harus diperkotaan karena kemerlap lampu kota diharapkan menjadi forground yang memberikan warna pada hasil foto. Akhirnya titik nol atau nol km Jogja yang menjadi pilihan pada hari ini untuk melakukan pemburuan senja.

Tetap berdagang walaupun hujan

Nol km merupakan tempat nongkrong di pusat kota jogja yang berisi segala usia, dari anak kecil sampai kakek nenek juga ada disini. Berbagai macam juga kegiatan yang dilakukan disini, ada yang foto - foto, berdagang, wisata, tempat ngumpul komunitas dan nongkrong. Tetapi karena sekarang adalah musim hujan maka kegiatan kumpul komunitas dan nongkrong agak sedikit berkurang, yang terlihat hanyalah pedagang yang masih menunggu barang dagangannya habis serta wisatawan yang penasaran dan ingin melihat salahsatu tempat nongkrong yang terkenal di jogja.

Selain berdeketan dengan alun - alun dan kraton yogyakarta yang sekarang sedang ramai dengan sekaten, nol km jogja terletak diujung Selatan Malioboro sehingga akses untuk menuju tempat ini sangatlah mudah. Jika tidak hujan biasanya di nol km ada penyedia jasa teman berfoto yang mengenakan kostum bermacam - macam seperti prajurit, tokoh cartoon yang sedang terkenal (marsha and the bear, hello kitty, dll) dan hantu - hantuan (kuntilanak, pocong, pocong narsis dengan warna - warni pakaiannya).

Semangat wisatawan ketika hujan

Kondisi nol km Jogja memang sedang tidak terlihat ramai walaupun malam minggu. Tetapi para wisatawan tetap bersemangat untuk mengunjungi nol km dan menuju Malioboro. Tak henti - hentinya wisatawan yang lalu lalang membawa payung, penjual jas hujan sekali pakai di nol km juga berkali - kali menawarkan dagangannya kepada para wisatwan. Polisi yang berkewajiban mengatur lalu lintas juga turun ke jalan untuk mengatur padatnya kendaraan luar kota yang melintasi titik nol Jogja. Ya semua tetap berjalan seperti biasanya walapun hujan. Semoga semua yang berperan di nol km tetap menggunakan semangat istimewa. Amin.
Blue hour di pemecah ombak Pantai Glagah

Persebaran pantai di sisi Selatan Jogja memang teridir dari dua jenis pasir yaitu pasir hitam dan pasir putih, kebanyakan orang pada tertarik mengunjungi pantai berpasir putih tetapi terkendala jarak yang jauh. Walaupun begitu, di deretan pantai berpasir hitam ada yang tidak kalah menarik dengan pantai berpasir putih yaitu Pantai Glagah Indah yang berada di Kulonprogo. Pantai ini awalnya biasa saja dan tidak ada bedanya dengan pantai lain, tetapi karena adanya pembangunan pelabuhan yang terhenti membuat pantai ini menjadi sedikit berbeda.

Silhouette pengunjung di dermaga pantai glagah

Karena pembangunan yang terhenti sedangkan dermaga pelabuhan yang sudah selesai dibuat hingga menjorok ke tengah laut, menimbulkan efek daya tarik tersendiri. Banyak pemancing yang mempergunakan spot disini karena posisi yang sudah berada di tengah laut. Selain itu banyak pengunjung yang berfoto ria di ujung dermaga sambil merasakan sensasi dentuman ombak yang menghantam pemecah gelombang. Tidak jarang pengunjung yang berada di ujung dermaga basah kuyup karena ombak yang berada di ujung dermaga dapat mencapai 10 meter bahkan lebih.

Mungkin juga dengan alasan ketinggian ombak di dermaga yang mencapai segitu sehingga Pantai Glagah dibatalkan untuk menjadi pelabuhan. Karena sangat membahawakan keadaan kapal yang nantinya akan berlabuh di dermaga. Ujung dermaga juga sudah berkali - kali mengalami perbaikan karena biasanya ujung dermaga akan melesak dan roboh, selain itu juga mengalami kerusakan karena selalu terkena air laut secara langsung.

Selain dermaga, sebenarnya di Pantai Glagah masih ada beberapa objek menarik lain seperti tepian Barat dermaga yang biasanya dipergunakan wisatawan untuk bermain air laut, pantai pasir putih yang merupakan muara berair asin yang dapat dituju menggunakan kapal yang tentunya aman dari ganasnya ombak laut selatan, laguna pantai glagah yang dilengkapi wahana permainan air serta kapal dan yang terakhir kebun buah naga Pantai Glagah. Selain itu di Pantai Glagah juga dipergunakan untuk event tahunan yaitu festival layang - layang nasional.

Ikan yang terbawa ombak

Tetapi pada pemburuan sunset hari kesepuluh atau pada Hari Jumat, 26 Desember 2014 terjadi fenomena aneh di Pantai Glagah. Sekitar pukul 18.00 WIB tiba - tiba ada ombak besar sebanyak empat kali yang seluruhnya selalu membawa ikan sebesar jari telunjuk orang dewasa. Pengunjung yang mengetahuinya asyik menangkap ikan yang berada di atas pasir pantai. Padahal pada siang harinya admin sempat mampir ke Pantai Bugel yang berada di Timur Pantai Glagah dan sempat ngombrol bersama empat orang nelayan yang mengatakan sekarang lagi sepi ikan karena ikannya baru berada di dasar laut semua. Ya semoga saja fenomena ikan yang terbawa ombak itu hanyalah fenomena yang kebetulan dan bukan merupakan pertanda apapun. Amin.


Jumat, 26 Desember 2014

Memburu Senja Di Candi Plaosan

Posted by Unknown On 09.54 No comments
Suasana senja di Candi Plaosan

Selain terkenal dengan sebutan Kota Pelajar dan Kota Gudeg, Jogja juga terkenal dengan sebutan seribu candi walaupun banyak candi yang sebenarnya berada di propinsi sebelah yaitu di Jawa Tengah. Misalnya saja candi kembar, Candi Plaosan yang berada di Dusun Bugisan, Klaten, Jawa Tengah ada beberapa orang yang menjelaskan bahwa Candi Plaosan berada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Oleh sebab itu admin memilih Candi Plaosan sebagai salahsatu objek untuk emncari sunset karena dianggap mewakili salahsatu dari ribuan candi yang tersebar di daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah selain itu untuk menegaskan kembali bahwa candi Plaosan itu masuk Jawa Tengah.

the silhouette

Pengelolaan Candi Plaosan berada di bawah BPCB (Balai Pelestari Cagar Budaya) Jawa Tengah yang berada di sebelah Barat candi. Candi ini sebenarnya memiliki area yang sangat luas dengan dibatasi parit keliling, tetapi sampai saat ini belum keseluruhan area candi dapat ditampakkan dan belum semua tanah dapat dibebeaskan. Untuk masuk dan melihat serta memegang batu candi, pengunjung dapat melapor kepada satpam kemudian mengisi buku tamu dan memberi sumbangan sukarela minimal Rp 5.000,00.

Pengunjung menikmati candi dari luar pagar

Karena ukuran candi yang sangat besar maka candi sudah dapat dilihat dari luar pagar dan kejauhan, biasanya ada pengunjung yang memilih nongkrong di luar pagar candi dan itu biasanya anak muda. Selain itu biasa para pemburu sunset plaosan juga memilih dari luar pagar karena bisa mendapatkan dua buah candi secara utuh, jika sedang beruntung juga bisa mendapatkan forground berupa persawahan yang hijau. Jadi ada banyak cara untuk menikmati keindahan arsitektur Candi Plaosan yang besar dan megah.

Kamis, 25 Desember 2014

Memburu Senja Di Tamansari Jogja

Posted by Unknown On 11.33 No comments
Senja cantik di Tamansari Jogja

Masih lanjutan dari posting sebelumnya yang berada di njeron beteng yang artinya di dalam beteng Kraton Yogyakarta Hadiningrat, kali ini dari alkid bergeser ke Barat Laut yaitu di Tamansar. Sebuah taman milik Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kabarnya dahulu merupakan taman yang dikelilingi oleh air. Tamansari memiliki area yang sangat luas dengan fungsinya masing - masing seperti sumur gemuling, pulau cemeti, ada yang berfungsi sebagai tempat pemandian keluarga kerajaan, masjid dan beberapa tempat penting lain.

Senja di Pulau Cemeti

Salah satu spot yang sangat wajib dikunjungi ketika di tamansari adalah di pulau cemeti atau yang akrab dengan sebutan reruntuhan. Dahulu bangunan ini merupakan bangunan yang beratap tetapi atapnya runtuk ketika gempa besar Jogja tahun 1800an. Kemudian sampai sekarang disekitar pulau cemeti masih banyak sisa - sisa reruntuhan sehingga lebih akrab disebut reruntuhan.

Jalan masuk ke tamansari yang mudah diakses ada tiga yaitu dari tiket resmi yang langsung menuju pemandian, dari terowongan dekat tempat parkir motor dan terakhir dari plaza pasar ngasem yang langsung menuju pulau cemeti. Tetapi sebaiknya masuk melalui tiket resmi karena selain dapat dipergunakan untuk menghitung statistik jumlah wisatawan juga kita memberikan dana perawatan untuk melestarikan salahsatu peninggalan bersejarah di negeri ini.

Guide sedang memberikan penjelasan kepada wisatawan

Karena tamansari yang luas dan ada jalan yang harus melewati pemukiman maka di tempat ini juga ada guide lokal yang siap memandu mengelilingi tamansari. Guide ini biasanya tidak mematok biaya minimal untuk sekali pemanduan, guide ini biasanya meminta dana sukarela sebagai ongkos pengetahuan sejarahnya dan ongkos capek menemani berjalan mengelilingi tamansari. Jadi jika ingin mengunjungi tamansari tidak perlu takut tersasar dan tidak memperoleh pengetahuan sejarah tambahan setelah pulang dari tempat ini.
Kemerlip lampu odong - odong alkid

Jika kamu orang Jogja atau pernah ke Jogja pasti pernah mendengar salahsatu nama tempat nongkrong yang semakin malam semakin ramai yaitu alkid atau Alun - Alun Kidul Jogja yang berada di sebelah Selatan Kraton Yogyakarta Hadiningrat. Tempat ini merupakan tempat nongkrong yang wajib dikunjungi ketika berada di Jogja karena banyak kuliner yang berada di sini. Selain itu ada odong - odong yang sellau update variasinya dengan balutan lampu warna - warni yang ditempelkan pada odong - odong secara penuh.

Selain memperlihatkan lampu yang warna - warni, odong - odong di alkid juga merupakan pelopor odong - odong berlampu di tempat lainnya seperti alun - alun Bantul, Aalun - alun Wonosari dan lapangan Denggung yang sekarang juga mulai memperkaya permainannya dengan odong - odong serupa di alkid.

Senja kelabu di alun - alun kidul Jogja

Senja di alkid sebenarnya sangat luar biasa karena langit yang berwarna orange akan semakin luar biasa dengan adanya warna - warni lampu odong - odong di bawahnya. Tetapi alam tidak dapat di tebak dan di setting sehingga senja pada tanggal 23 Desember 2014 menjadi senja kelabu dengan mendungnya. Tetapi walaupun mendung pengunjung di alkid yang ingin berkuliner ria maupun mencoba naik odong - odong tetap banyak. Dapat terlihat selalu ada odong - odong yang berjalan meskipun hari belum begitu gelap.

Memburu Senja Di Kawasan Kota Lama

Posted by Unknown On 10.45 No comments
Blue hour di Gereja Blenduk

Kota Semarang selain terkenal dengan lumpianya juga terkenal dengan Kota Lamanya yang terletak di dekat pantai Utara Jawa. Kota Lama sendiri merupakan sebuah kawasan yang kaya dengan arsitektur Belanda. Hingga saat ini banyak bangunan Belanda yang masih utuh tetapi mengalami sedikit perubahan fisik dan beralih fungsi. Salahsatu bangunan yang terkenal di Kota Lama Semarang adalah gereja Imanuel atau yang terkenal dengn sebutan Gereja Blenduk.
Menikmati suasana sore di taman sri gunting

Suasana senja di Jalan Letjen Suprapto

Di kawasan Kota Lama juga ada sebuah taman yang cukup hijau, rapi, bersih dan terang pada malam hari, namanya taman sri gunting yang berada di sebelah Timur Gereja Blenduk. Tama sri dunting sendiri berada di Jalan Letnan Jendral Suprapto atau berada pada sisi Timur Kota Lama dengan posisi jalan di tengah yang membelah kota. Pada sore hari taman ini menjadi tempat nongkrong anak muda sambil foto - foto. Selain itu di samping taman juga terdapat tempat parkir orang yang ingin jalan - jalan mengelilingi Kota Lama.

4. Memburu Senja Di Bukit "Kethokan".

Rabu, 24 Desember 2014

Blue hour di bukit Imogiri

Pemburuan sunset akhir tahun sudah memasuki hari keempat dengan kata lain masih ada sepuluh sunset lagi yang harus dituntaskan. Kali ini admin berkesempatan mencari sunset agak jauhan dikit dari Kota Jogja karena pada sore hari hujan sudah reda. Karena sore hari sedang berada di daerah Bantul, maka terpilihlah bukit "kethokan" Imogiri sebagai tempat sunset. Kethokan sendiri merupakan bahasa jawa yang berarti potongan, jadi lokasi yang dipilih kali ini adalah sebuah bukit yang di potong atau ditambang.

Jalan menuju kebun bhuah mangunan

Bukit kethokan ini berada pada tepi jalan raya menuju Kebuh Buah Mangunan dan Hutan Pinus Imogiri. Atau dari jalan imogiri timur ke Selatan mentok kemudian belok kiri, pertigaan sebelum kantor polisi ambil kanan kemudian ikuti jalan utama naik keatas. Dari atas bukit ini dapat dilihat Komplek Makam Raja - Raja Imogiri, Pantai Parangtritis, perbukitan diatas Parangtritis dan kemerlip lampu Kota Bantul.
Silhouette orang pacaran diatas bukit

Ketika sore hari bukit ini sering digunakan untuk latihan mengendarai motor cross dengan track buatan dengan latar batu yang sangat ekstrem. Maka tidak mengherankan jika setiap latihan selalu ada mobil ambulance yang siaga dibawah. Selain itu biasanya juga dipergunakan anak muda untuk nongkrong, baik itu nongkrong bersama teman - temannya maupun pacaran.

Minggu, 21 Desember 2014

Langkahku menuju senja

Mencari senja di Jogja rasanya tidak lengkap kalau belum memburu senja ke jajaran pantai di Gunungkidul yang terkenal dengan pasir putihnya. Cukup banyak pantai berpasir putih di Gunungkidul yang dapat menjadi alternatif untuk memburu senja, ada pantai yang sudah terkenal sejak dahulu yaitu Pantai Sadeng, Wediombo, Baron, Krakal, Kukup. Ada juga pantai - pantai yang dibuka untuk wisata dalam kurun waktu dekat ini seperti pantai indrayanti, Nglambor, Watukodok dan Slili. Kali ini admin memilih Pantai Slili untuk mencari senja pada hari ketiga yaitu tanggal 20 Desember 2014.

Pantai Slili merupakan salah satu pantai yang berada pada deretan BKK (Baron, Krakal, Kukup) sehingga sangat mudah dijangkau dan tidak sulit untuk mengetahui jalan menuju pantai berpasir putih ini. Di Pantai Slili terdapat bebetuan yang hampir mirip dengan bebatuan lava yang membeku akibat hasil erupsi gunung gede yang merupakan gunung berapi purba di Pantai Wediombo.

Suasana sunset di Pantai Slili

Pengelolaan Pantai Slili sudah cukup bagus dengan adanya gasebo - gasebo dari bambu dan kayu di tepi pantai, warung, toilet, penginapan yang letaknya langsung di tepi pantai jadi wisatawan dapat langsung melihat laut. Fasilitas - fasilitas tersebut dikelola oleh warga yang tinggal disana, gasebo tersebut juga difungsikan untuk bersantai sambil menikmati makanan yang dijual di warung. Bagi wisatawan yang tidak suka dengan udara laut yang langsung tetapi ingin di gasebo bisa menempati gasebo yang berada diseberang jalan, jadi agak jauh dari laut tetapi tetap bisa menikmatinya.

Pengunjung Pantai Slili

Pengunjung pnatai slili pada Bulan Desember yang sudah memasuki musim libuan ini kebanyakan didominasi oleh wisatawan luar kota Jogja. Selain itu wisatwan yang datang ke pantai ini ada yang rombongan keluarga, teman ataupun komunitas. Semuanya berbahagia bersantai di gasebo maupun bermain air menguji nyali dengan ganasnya ombak pantai selatan.

14 sunset akhir tahun 2014 :

Jumat, 19 Desember 2014

Wahana permainan yang tergenang air

Kali ini memasuki hari kedua dalam rangka hunting 14 sunset di akhir tahun 2014. Tetapi kali ini admin awalnya agak bingung untuk menentukan tempat pada hari kedua ini karena pada siang harinya langit cerah yang dapat mendukung untuk mencari sunset ke luar Jogja. Tetapi apa daya waktu sore hari cuaca berubah menjadi mendung dan akhirnya hujan deras. Tetapi satu hal yang harus diingat, hujan tak berarti tidak ada sunset.

Karena sampai pukul 17.00 WIB masih hujan deras akhirnya pasar malam sekaten menjadi alternatif pilihan tempat untuk mencari sunset. Pasar malam sekaten ini rutih digelar setiap tahun untuk menyambut sekaten pada Bulan Maulud yang diadakan di Alun - Alun Utara Jogja. Walaupun langit tidak berwarna orange, tetapi ada mendung yang sedikit terbuka dan memperlihatkan warna langit yang kebiru - biruan.

Sampah refleksi komedi putar

Karena hujan, pasar malam sekaten tidak begitu ramai pengunjung dan banyak wahana permainan yang sepi. Kondisi tanah di pasar malam juga banyak yang tergenang air, selain itu juga terdapat banyak sampah yang mengumpil pada suatu titik karena hanyut terbawa air hujan. Salah satu objek yang mainstream untuk difoto sewaktu sekaten adalah komedi putar dan tong setan. Tetapi kali ini hanya berkesempatan untuk memfoto komedi putar melalui refleksi air yang tergenang saja, sedangkan tong setan tidak sempat admin kunjungi karena belum mulai main akibat hujan.

Membeli tiket bianglala

Walaupun keadaan hujan, tetapi tidak menghalangi pengunjung untuk bersenang - senang. Banyak wahana yang laku jasanya digunakan oleh pengunjung pasar malam sekaten. Ada bianglala yang dinaiki oleh pengunjung, ada wahana memancing yang tetapi laris dan ada obral - obralan pakaian yang jualannya laris dibeli pengunjung juga.

14 sunset akhir tahun 2014 :

Kamis, 18 Desember 2014

Memburu Senja Di Tugu Jogja

Posted by Unknown On 05.34 No comments
Sunset di Tugu Jogja

Salah satu suasana yang menyenangkan dalah hidup ini adalah ketika senja datang atau yang dalam istilah ngetrendnya sunset. Banyak cara dan banyak tempat untuk menikmati sunset tersebut, ada yang dengan duduk santai didepan rumah sambil minum kopi, ada yang sambil nongkrong dengan teman - teman dan ada juga yang menikmatinya dengan mengabadikannya yang selalu menampilkan berbagai keindahan pada tiap harinya. Tempat menikmati sunset juga dapat dilakukan dimanapun asalkan kita dapat melihat langit secara langsung.

Kali ini admin berencana untuk mengabadikan 14 sunset secara berturut - turut di akhir tahun 2014 ini baik di Jogja maupun luar Jogja. Tempat yang admin pilih pertama kali adalah di Tugu Pal Putih atau yang lebih terkenal dengan sebutan Tugu Jogja. Sebuah tempat yang menandakan Jogja Banget. Bahkan ada lelucon lawas yang mengatakan durung dadi wong Jogja nak durung ndemok tugu (belum jadi orang Jogja kalau belum nyentuh Tugu Jogja). Jadi tidak heran jika setiap malam banyak orang nongkrong di pinggiran Tugu Jogja baik itu dari remaja sampai orang tua.

Suasana senja di Tugu Jogja

Sejarah Tugu Pal Putih sendiri merupakan tugu yang dibangun oleh Belanda sebagai pengganti Tugu Golong Gilig yang di bangun oleh Sri Sultan yang hancur karena gempa dahsyat. Agar masyarakat mengetahui sejarah tersebut, sekarang dibuatlah miniatur Tugu Goling Gilig yang berada pada sisi Tenggara Tugu Pal Putih, selain itu di buat juga relief yang menceritakan tentang Tugu Jogja.

Hiruk - pikuk kendaraan di Tugu Jogja pada sore hari

Kendaraan yang melewati Tugu Jogja pada sore hari sangat padat karena waktu jam pulang kantor. Beberapa kali terlihat orang yang melanggar pembatas jalan dan sedikit membahayakan orang lain. Tetapi juga terlihat beberapa orang yang mengenakan jas hujan baik pengguna jalan dari arah Barat, Utara dan Timur.

Selasa, 16 Desember 2014

Misteri kabut pagi Candi Borobudur

Kabupaten Magelang sangat terkenal dengan sebuah peninggalan purbakalanya yaitu Candi Borobudur, sebuah candi Budha terbesar di Indonesia. Candi yang kabarnya dahulu berada di tengah danau ini, kini dikelilingi oleh perbukitan monoreh. Ada sebuah bukit yang biasa dipergunakan wisatawan lokal dan mancanegara untuk menikmati sunrise, namanya punthuk stumbu yang berada di sebelah Barat Candi Borobudur. Dengan uang Rp 15.000 untuk wisatawan lokal dan Rp 30.000 untuk wisatawan manca, the golden sunrise borobudur sudah dapat dinikmati dari tempat ini.

Nama Punthuk Stumbu sendiri berasal dari bahasa jawa stumbu / tumbu / tempat menanak nasi dari bambu. Tumbu tersebut berbentuk seperti kerucut kecil yang di tempat ini merupakan gundukan tanah. Tetapi gundukan tanah tersebut bukanlah gundukan tanah sembarangan, karena gundukan tersebut merupakan salah satu saksi bisa sejarah dari perjuangan Bangsa Indonesia untuk memperoleh kemerdekaan.

Berdasarkan cerita dari penduduk lokal, setelah Pangeran Diponegoro meninggalkan Tegalrejo (tempat kelahirannya) dan menuju Magelang, Pangeran Diponegoro singgah ke Salaman (membangun Langgar Agung) dan beberapa tempat di Perbukitan Menoreh, salah satunya di Punthuk Stumbu. Karena tempat ini mudah di akses dan berada pada posisi tinggi maka dipilihlah sebagai tempat mengintai, dari posisi tinggi inilah Pangeran Diponegoro dan para pengawalnya dapat mengawasi gerak - gerik Belanda. Sedangkan gundukan tanah kecil yang menyerupai tumbu, dahulu diatasnya terdapat sebuah pohon yang dipergunakan untuk emngikat kuda Pangeran Diponegoro dan kudanya bisa tenang.

View landscape dari Punthuk Stumbu

Pengelolaan Punthuk Stumbu dilakukan oleh warga Stumbu baik dari karangtaruna maupun orang tua, semuanya sudah diatur secara rapi dan terjadwal. Sepanjang jalan dari tempat penitipan kendaraan menuju Stumbu sekarang juga sudah diberi trap - trap tangga dari beton, selain itu penjual minuman dan cindera mata juga sudah ada dan diatur rapi. Fasilitas di Stumbu sekarang juga sudah bertambah mushola di atas agar memudahkan wisatawan yang ingin menanti golden sunrise borobudur sejak awal sebelum Subuh. Hanya saja sekarang fasilitas seperti minuman hangat (kopi atau teh) yang dahulu sudah disediakan secara gratis untuk wisatawan sudah tidak ada karena ada perubahan manajemen pada Punthuk Stumbu.

Beberapa pengunjung di hari kerja

Pada akhir tahun 2014 ini yang juga merupakan musim liburan, pengunjung Stumbu lumayan banyak tetapi pada hari kerja pengunjungnya kebanyakan adalah wisatawan manca. Tetapi tidak jarang pula wisatawan lokal dan anak berusia sekolah yang sedang menikmati liburan mengunjungi tempat ini. Kebetulan pada admin dapat moment bagus, Gunung Merapi dan Merbabu dapat terlihat dengan jelas walaupun sekarang sudah memasuki musim penghujan.

Rute untuk menuju golden nirwana sunrise Punthuk Stumbu dari pertigaan ojek Borobudur ambil ke arah Selatan, perempatan kedua ambil kanan, lurus ikuti jalan utama sampai pertigaan kecil dengan plang Punthuk Stumbu, ikuti jalan cor blok dan tempat penitipan kedaraan roda dua maupun empat berada di atas.

Tips untuk pengunjung Punthuk Stumbu : gunakanlah alas kaki adventure supaya nyaman untuk tracking baik dala bentuk sandal maupun sepatu.

Jumat, 12 Desember 2014

View dari puncak watu ambn

Kabupaten Bantuk yang berada di sisi Selatan Daerah Istimewa Yogyakarta tidak hanya memiliki wisata pantai yang terkenal seperti Pantai Parangtritis, Parangkusumo, Depok saja, tetapi di Kabupaten Bantul memiliki jugawisata di perbukitan yang saat ini perlahan mulai dikenal masyarakat, namanya Puncak Watun Amben atau Puncak WA. Puncak WA berada di Bantul sebelah Timur di perbukitan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunungkidul atau lebih tepatnya berada di Piyungan.

Dari Puncak WA, wisatawan dapat melihat kemerlip lampu Kota Jogja, Laut Selatan dan Gunung Merapi sambil ditemani kopi dan mie yang menjadi dagangan utama warung - warung di Puncak WA. Untuk menuju tempat ini dapat menggunakan rute arah ke Wonosari dari Jogja kemudian ambil kanan pada perempatan Pathuk menuju arah hutan pinus Imogiri.

Mengabadikan lampu Kota Jogja dari Puncak WA

Di Puncak WA sendiri memang tidak ada TPR (tempat pemungutan retribusi) seperti tempat wisata lainnya, tetapi hanya ada warung - warung yang menjual makanan berat. Pada awalnya di tempat ini hanya ada satu warung yang kemudian berkembang menjadi belasan warung hingga berada juah di Utara lokasi Watu Ambennya sendiri.

Berdua menikmati keindahan Puncak Watu Amben

Banyak wisatawan baik dari Jogja maupun luar Jogja yang mampir ke tempat ini, ada yang cuma berfoto langsung pergi, ada yang nongkrong bersama - teman - teman dan ada juga yang pacaran. Tidak jarang pengunjung yang ke tempat ini memesan minuman hangat di warung kemudian meminta diantarkan minumannya ke atas bebetuan yang ada di sekitar Watu Amben. Biasanya pengunjung lebih daoat menikmati suasana dari atas batu karena dapat duduk lesehan tanpa ada batasan seperti meja.

Sedikit tips jika ingin pergi ketempat ini, jangan ketemoat ini sendirian karena ada sebuah jalan yang agak menanjak dan jangan lupa membawa jaket karena terkadang diatas pukul 20.00 WIB ditempat ini terasa dingin.

Jumat, 05 Desember 2014

Penyembelihan diatas altar

Saparan Bekakak merupakan salah satu tradisi yang berurutan pada Bulan Sapar yang dilakukan pada Hari Jumat antara tanggal 10 - 2- Sapar atau minggu kedua pada Bulan Sapar atau satu minggu setelah Saparan Apem Wonolelo. Bekakak sendiri adalah sepasang pengantin buatan yang dibuat dari ketan berisi juruh yang sudah dibuat sehari sebelum saparan. Saparan Bekakak juga sering disebut dengan Saparan Gamping dengan latar belakang sejarah cukup panjang. Awalnya Kerajaan Mataran Islam dipecah menjadi dua oleh Belanda melalui perjanjian Giyanti menjadi Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta. Kasultanan Ngayogyakarta memiliki wilayah Kali Opak ke Barat, sedangkan Kasunanan Surakarta memiliki wilayah Kali Opak ke Timur.

Kemudian Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat membangun kraton yang sekarang berada di Selatan NOL KM Jogja, sewaktu menunggu pembangunan kraton maka Sultan dan keluarganya bertempat tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang yang berada di Selatan Gunung Gamping. Sedangkan di Utara Gunung Gamping terdapat sebuah goa yang batunya ditambang oleh abdi dalem untuk membuat kraton. Sewaktu dilakukan penambangan, ternyata goa runtuh dan menimpa para penambang beserta seorang abdi dalem kesayangan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Untuk mengenang jasa - jasanya maka diadakanlah acara Saparan Bekakak pada setiap Bulan sapar.

Tetapi ada juga versi lain yang menceritakan bekakak diadakan sebagai pengganti tumbal pengantin. Dahulu, wilayah disekitar gunung gamping adalah hutan yang didalamnya didiami oleh raksasa / buto, setiap ada pengantin yang lewat hutan itu selalu dimangsa oleh buto tersebut. agar tidak muncul korban lagi maka dibuatlah sepasang pengantin dari ketan untuk di tumbalkan kepada buto tersebut, maka pada Saparan Bekakak juga terdapat ogoh - ogoh berbentuk buto.

Bekakak di bawa keluar dari balai desa

Acara ini dimulai pada siang hari setelah Shalat Jumat diawali dengan seluruh peserta berkumpul di lapangan balai desa. Peserta kirab berasal dari seluruh warga Gamping dan menyajikan penampilan yang berbeda - beda, ada bregodo, kuda, ogoh - ogoh, kesenian, gunungan, dll. Acara diawali dengan pertunjukan reog terlebih dahulu kemudian semua peserta kirab berangkat ke Gunung Gamping dengan rute melewati ring road. Ketika melewati Gunung Keliling (Stiekes Ahmad Yani), rombongan bekakak pertama berhenti disana untuk melakukan penyembelihan pasangan pengantin pertama. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan menuju Gunung Gamping dan pasangan pengantin (bekakak) kedua disembelih.

Antuasias masyarakat melihat bekakak

Warga sekitar dan masyarakat yang bertempat tinggal di Jogja maupun luar Jogja berbondong - bondong memadati lapangan untuk mengikuti jalannya kirab Saparan Bekakak, begitu juga di Gunung Keliling dan Gunung Gamping juga di padati oleh masyarakat. Masyarakat tertarik untuk menyaksikan Saparan Bekakak secara langsung dan ingin berebut kepala bekakak yang di lempar kemudian diperebutkan oleh masyarakat.


Kamis, 04 Desember 2014

Dua pasang bekakak

Sebuah acara budaya yang menarik lagi di Bulan Sapar yaitu Saparan Bekakak yang diadakan di Gamping, Sleman. Saparan Bekakak dimulai dengan dilakukan pembuatan bekakak (pengantin) satu hari sebelum saparan yang pada tahun ini jatuh pada Hari Kamis, 4 November 2014 bertempat di kediaman Pak Dukuh. Bekakak yang dibuat berjumlah dua pasang yang pada Hari Jumat sore akan disembelih pada dua tempat yang berbeda yaitu Gunung Gamping dan Gunung Keliling. Pembuatan bekakak ini8 dilakukan dari menurut lelehur harus selesai sebelum matahari terbenan atau sebelum Adzan Maghrib.

Pemasangan blangkon

Pembuatan bekakak diawali dengan pengukusan tepung ketan yang sudah dibuat bulat - bulat sebelumnya, setelah tanak bulatan - bulatan tepung tersebut di gabungkan jadi satu. Bersamaan dengan proses tersebut, dibuat juga rangka bekakak dari bambu sebagai badannya dan buah sebagai kepalanya. Tidak lupa juga juruh (cairan gula jawa) yang diberi pewarna merah dimasukkan kedalam plastik dan ditaruh didalam bambu tadi. Tujuannya agar pada waktu bekakak disembelih juruh tersebut dapat keluar sebagai cairan seperti darah. Kemudian barulah adonan tepung tadi di tempelkan dapa rangka bekakak dari bambu.

Sewaktu penempelan adonan, dilakukan juga pembentukan bentuk badan bekakak dalam posisi duduk. Setelah bentuk badan bekakak jadi, seluruh badan bekakak dilumuri dengan minyak agar terlihat mengkilap dan keset, setelah itu barulah diberi pewarna kuning sebagai kulitnya dan hitam untuk rambutnya. Dilakukan juga pemasangan pakaian dan aksesoris manten dengan busana adat jawa.

Dalam waktu bersamaan, dibuat juga sesaji yang akan dipersembahkan juga pada saat penyembelihan bekakak. Sesaji tersebut diantaranya terdiri dari ingkung, buah, nasi, anak ayam, burung merpati, dan beberapa makanan lainnya. Di samping sesaji juga diabuatkan hiasan dari janur (daun kelapa) dan debog (batang pisang)  seperti hiasan untuk orang nikahan. Nantinya hiasan tersebut akan diletakkan mendampingi bekakak ketika didalam jodhang.

Warga sekitar melihat bekakak dimasukkan ke dalam jodhang

Setelah bekakak selesai dibuat, bekakak dimasukkan ke dalam jodhang bersama sesaji dan hiasan yang sudah dibuat sebelumnya. Warga sekitar dan masyarakat secara luar cukup banyak yang datang ke tempat pembuatan bekakak untuk menyaksikannya secara langsung. Ada yang penasaran dan ada yang mengambil gambar. Setelah bekakak dan sesaji ditata dengan rapi, jodhang kemudian di tutup kemudian pada malam harinya akan di kirab menuju balai desa dan dibiarkan selama satu malam di dalam balai dengan persimbolan malam midodareni.


Site search