Selasa, 28 Januari 2014

Menikmati Senja di Watu Amben

Posted by Unknown On 06.18 No comments

Sore hari merupakan sebuah waktu yang asik untuk menikmati alam ini, selain lukisan langit yang indah, sore hari juga merupakan waktu yang tepat untuk melepas lelah setelah aktivitas seharian. Banyak tempat yang dapat dipergunakan untuk menikmati apa yang dinamakan senja atau istilah gaulnya disebut sunset. Sunset bisa dinikmati teras sambil minum teh bersama keluar, di alam terbuka, di tempat nongkrong, dan tempat - tempat lain yang tentunya tidak terdapat benda yang menghalingi mata untuk melihat terbenamnya matahari.

Salah satu tempat nongkrong asyik dan menarik untuk menikmati senja adalah di Puncak Watu Amben atau lebih terkenal dengan sebutan Puncak WA. Puncak Watu Amben ini terletak tidak jauh dari Bukit Bintang yang berada di Pathuk, Gunungkidul atau lebih tepatnya berada di Piyungan, Bantul. Jika dari Jogja, naik bukit Pathuk kemudian belok kanan ke arah Dlingo atau di perempatan Polsek Pathuk.


Ketika sore tiba, banyak muda - mudi dan wisatawan yang mampir ke tempat ini walaupun hanya sejenak. Tetapi tidak jarang ada pasangan muda - mudi yang berlama - lama di tempat ini sambil menikmati keindahan matahari tenggelan yang langsung disambut oleh lampu - lampu Kota Jogja dan jleretan lampu pesawat yang landing di Bandara Internasional Adi Sucipto Yogyakarta.

Jika sedang menikmati senja di Watu Amben tetapi merasa lapar ataupun haus, di Watu Amben sekarang sudah ada beberapa warung yang berdiri dan menyediakan makanan berat, es klamud (kelapa muda), serta kopi yang dapat menemani wisatawan menikmati keindahan lampu Kota Jogja.

Foto Puncak Watu Amben lainnya : http://tinyurl.com/mfkmea5

Rabu, 22 Januari 2014


Ketika mendengar nama peta hijau, yang pertamakali terlintas di pikiran adalah sebuah peta yang berisikan kawasan hijau, taman dan sejenisnya yang berhubungan tentang tanaman. Ternyata, peta hujau atau green maps bukanlah peta yang memuat hal itu saja, tetapi peta hijau hanyalah sebuah sebutan untuk peta yang dibuat khusus untuk memetakan objek yang pembuat peta inginkan ada didalam peta tersebut. Misalnya peta sebaran candi, peta sebaran masjid, peta sebaran kuliner dengan tampilan peta yang menarik ketika dipandang dan petanya tidak kaku. Tidak kaku dalam hal ini seperti peta - peta formal Rupa Bumi, dalam peta hijau atribut - atriobut peta dapat digambarkan dalam ilustrasi sepertu kartun. Di dalam peta hijau juga dapat ditambahkan element - element yang dapat mendukung fungsi peta tersebut, misalnya foto, diskripsi sebuah tempat, dan ilustrasi objek pemetaan.

 
Pada awal Bulan Januari 2014 ini, komunitas pecinta budaya Kota Toea Magelang kembali mengadakan acara rutin komunitas yang pada Bulan Januari ini adalah pembuatan peta hijau Magelang dengan pemateri Elanto Wijoyono dari Peta hijau Yogyakarta. Karena komunitas Kota Toea Magelang merupakan sebuah komunitas yang berbasis budaya otomatis pembuatan peta hijau akan berbasis pada buadaya juga yaitu bangunan kolonial yang berada di kota Magelang. Setalah diberi penjelasan oleh Mas Elanto mengenai cara pembuatan peta hijau, para peserta dibagi kelompok untuk langsung mempraktikannya di lapangan.

 
Karena lokasi workshop berada di Bakorwil 2 Magelang / Musium Pangeran Diponegoro, maka praktik lapangan juga dilakukan tidak jauh dari lokasi itu. Ada empat kelompok yang mengikuti kegiatan ini, semuanya bekerja dalam tim, ada yang mencatat nama objek, ada yang menggambar, ada yang mendokumentasi.

Setelah praktik lapangan selesai, sekarang saatnya penggambaran peta hijau. Objek yang sekiranya dianggap mempunyai nilai penting atau menjadi landmark dalam suatu jalan dapat juga dibuat ilustrasinya sehingga orang yang melihat peta hijau dapat langsung tahu itu didaerah mana. Tetapi ada juga simbol - simbol yang dapat dipergunakan untuk memberi informasi objek tersebut, misalnya bangunan pemerintah, sekolah, tempat ibadah, dll. Simbol - simbol tersebut juga memeiliki beberapa versi dengan versi yang semakin muda semakin lengkap simbolnya.

Selasa, 14 Januari 2014

Grebeg Maulud di Kepatihan

Posted by Unknown On 01.54 No comments

Sebagai sebuah daerah yang merupakan kekuasaan dari Kerajaan Islam, Daerah Istimewa Yogyakarta selalu memperingati hari besar Islam secara meriah. Salahsatu hari besar Islam ada peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW atau kelahiran Nabi. di Daerah Istimewa Yogyakarta, Maulud Nabi diperingati dengan diadakannya sekaten dengan acara Grebeg Maulud sebagai puncaknya.


Yang paling di tunggu - tunggu ketika Grebeg Maulud adalah tujuh buah gunungan yang akan di kirab ke tiga tempat yaitu Masjid Agung Kauman dengan gunungan putri, kakung, darat, gepak, pawuhan, sedangkan dua gunungan lagi yang terdiri dari dua gunungan kakung dibawa ke Kepatihan dan Puro Pakualaman. Ke tujuh gunungan tersebut di buat di Kemagangan Kidul setelah dilakukan prosesi numplak wajik (prosesi yang mengawali pembuatan gunungan). Kemudian dari Kemagangan di bawa menuju Keben.

Setelah lima gunungan dibawa menuju Masjid Kauman, sebuah gunungan ke Puro Pakualaman, sekarang giliran sebuah gunungan kakung di bawa ke Kepatihan dengan diiringi dua ekor gajah, prajurit dan abdi dalem. Sesampainya di Kepatihan dilakukan serah terima gunungan terlebih dahulu di depan pendopo dan pengambilan salahsatu hasil bumi pada gunungan tersebut oleh pihak Kepatihan sebagai simbolis bahwa gunungan sudah diterima. Setelah serah terima secara simbolis dan doa selesai, gunungan di bawa menuju Barat pendopo supaya masyarakat yang menyaksikan bisa ikut mendapatkan hasil bumi tersebut. Tetapi seperti biasa, belum sampai lokasi yang dipersiapkan gunungan sudah dihabisi oleh para masyarakat yang ingin mendapatkan hasil bumi pada gunungan tersebut.

Foto lainnya : http://tinyurl.com/lqaa3gu

Senin, 13 Januari 2014

Numplak Wajik Grebeg Maulud

Posted by Unknown On 03.25 No comments

Tradisi numplak wajik merupakan sebuah tradisi yang dilakukan sebagai tanda diawalinya pembuatan gunungan grebeg. Jika dalam satu tahun di Kraton Yogyakarta mengadakan grebeg tiga kali, yaitu grebeg maulud, grebeg besar dan grebeg syawal, maka numplak wajik diadakan tiga kali juga dalam satu tahun. Numplak wajik untuk grebeg maulud ini dilakukan empat hari setelah miyos gongso (keluarnya gamelan sekaten). Numplak wajik Grebeg Maulud selalu dilakukan di Kemagangan Kidul Kraton Yogyakarta pada tanggal 9 Maulud sore hari, setelah Ashar. Tradisi ini juga disaksikan oleh keluarga Kraton.


Setelah semua persiapan dilakukan, gejok lesung mulai dibunyikan dan prosesi numplak wajik mulai dilakukan. Prosesi ini hanya berlangsung sekitar sepuluh menit, untuk meletakkan bakal gunungan yang kemudian ditutupi bambu. Setelah prosesi selesai, beberapa abdi dalem kraton jogja memebagi - bagikan ramuan yang dipercaya dapat membuat awet muda dan sirih untuk nginang (dikumah - kumah).

Pada malam harinya, gunungan mulai disusun di Kemagangan Kidul. Yang kemudian akan dibawa munuju Keben setelah prosesi Kundhur Gangsa yang berlangsung pada tanggal 11 Maulud malam selesai.

Foto lainnya : http://tinyurl.com/kqwxrrg
Foto lainnya : http://tinyurl.com/n3yyffq

Jumat, 10 Januari 2014


Pembacaan Dramatik tentang perjalanan Pangeran Diponegoro sudah masuk ke babak kedua yang diadakan di Monumen Pangeran Diponegoro, Tegalrejo, Yogyakarta yang sebelumnya sudah diadakan di Ex. Karesidenan Kedu Bakorwil II, Magelang, Jawa Tengah dengan judul Sang Pangeran di Karesidenan.
Pembacaan dramatik kali ini mengambil tempat di Tegalrejo karena di tempat inilah Pangeran Diponegoro dahulu dibesarkan oleh Ratu Ageng, buyut Pangeran Diponegoro (Istri Sri Sultan Hamengku Buwono I). Selain itu pembacaan kali ini diadakan pada tangal 8 Januari untuk sekaligur mengenang tanggal wafatnya Pangeran Diponegoro sewaktu diasingkan di Makasar.


Dalam pembacaan dramatik di Tegalrejo ini diceritakan bahwa Pangeran Diponegoro mulai tinggal di Tegalrejo sejak beliau berusia delapan tahun. Sewaktu kecil, Pangeran Diponegoro dilatih oleh Ratu Ageng cara beladiri yang benar serta diajarkan cara hidup bersama masyarakat. Selain itu diceritakan pula ketika tanah sebelah Timur Tegalrejo ditancapi tonggak - tonggak oleh Belana untuk pelebaran jalan, kemudian Pangeran Diponegoro mencabuti tongak - tonggak tersebut. Perjalanan Pangeran Diponegoro dari Tegalrejo menuju Goa Selarong juga masuk dalam cerita di tempat ini.


Yang istimewa dari pembacaan dramatik kali ini aalah kehadiran Peter Carey selaku penulis buku Kuasa Ramalan : Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785 - 1855 yang dimana buku itu menjadi salah satu sumber utama dalam pembacaan dramatik ini. Pembacaan dramatik babak ke tiga dan ke empat akan dilanjutkan di Jakarta dan di Makasar.

Rabu, 08 Januari 2014


Salah satu tradisi yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta yang tidak boleh dilewatkan adalah sekaten. Sekaten sendiri berasal dari serapan Bahasa Arab yaitu Syahadat tain, kemudian lidah orang Jawa waktu itu kesulitan mengucapkannya sehingga di baca sekaten agar mudah diingat. Sebelum adanya sekaten, ada prosesi - prosesi yang mengawalinya yaitu saparan bekakak gamping, saparan ki ageng wonolelo, miyos gongso, numplak wajik, kundhur gongso, terakhir grebeg maulud sebagai puncaknya.


Miyos gongso diadakan pada tanggal 5 maulud atau tanggal 7 Januari 2014 pada kalender nasional. Prosesi ini merupakan sebuah prosesi yang membawa gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menuju ke Masjid Agung Kauman dan dilaksanakan pada malam hari pukul 23.00 WIB.


Prosesi ini di awali dengan penyebaran udhik - udhik di Keben, kemudian gamelan di kirab dengan rute dari Keben - Siti Hinggil - Alun - Alun Lor - Masjid Agung Kauman. Sesampainya di Masjid Agung Kauman, Kyai Nogo Wilogo di tempatkan di sisi Utara sedangkan Kyai Guntur Madu di tempatkan di sisis Selatan. Dan gamelan akan di tabuh (dibunyikan) selama satu minggu kedepan sehari tiga kali, yaitu pada pukul 08.00 - 11.00 WIB, 14.00 - 17.00 WIB, 20.00 - 23.00 WIB. Gamelan ini tidak dibunyikan pada Hari Kamis malam sampai Jumat pagi sebelum Shalat Jumat.

Foto lainnya : http://tinyurl.com/kwtud7h

Sabtu, 04 Januari 2014



Yogyakarta merupakan sebuah propinsi yang penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia karena pada waktu itu Ibu Kota pindah ke Yogyakarta dengan kantor Presiden di Gedung Agung yang berada di Jalan Ahmad Yani. Dalam rangka untuk memperingati peristiwa tersebut, maka pada Hari Sabtu, 4 Januari 2013 diadakan acara Jemparingan Mataraman (panahan tradisional) dengan tema "Yogyakarta Kota Republik" di Balai Kota Jogja yang dimulai sejak pukul 15.00 WIB - 17.00 WIB.


Dalam jemparingan kali ini, dilangsungkan 20 rambahan (seri) dengan memeperebutkan hadiah bingkisan, uang tunai dan vocher menginap di salah satu hotel mewah di Yogyakarta. Peserta jemparingan bukan hanya orang tua saja, tetapi ada juga beberapa anak kecil yang masih menginjak bangku pendidikan di Sekolah Dasar. Kemampuannya juga tidak diragukan lagi dengan adanya peserta anak yang memperoleh hadiah. Acara jemparingan biasanya rutin dilakukan sebulan sekali ataupun seminggu sekali, ada yang di Kraton Yogyakarta, Pura Pakualaman, Pesanggrahan Ambarukmo.

Foto Jemparingan Mataraman "Yogyakarta Kota Republik" lainnya : http://tinyurl.com/kmzvhzm

Kamis, 02 Januari 2014


Malam pergantian tahun 2013 menuju 2014 merupakan malam yang dinanti - nanti hampir semua orang, dari anak muda sampai orang tua. Ditengah kesibukan dan kepadatan kegiatan semua orang ingin menikmati perayaan malam tahun baru. Banyak sekali tempat yang menjadi pilihan untuk menikmatinya, ada yang menikmati di rumah sambil bebakaran jagung bersama teman - teman, ada yang memilih ke kota yang ramai, ada juga yang memilih ke pantai dan gunung. semua itu merupakan hak pribadi setiap orang untuk merayakan malam pergantian tahun. Tetapi ada satu tempat yang mengkombinasikan dua buah unsur yaitu pegunungan dan air, tepatnya berada di embung kebun buah Gunung Api Purba Nglanggeran yang berada di Pathuk, Gunungkidul.


Di Kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran ini cukup menarik karena ada embung (waduk kecil) yang berada di atas bukit. Sejak pukul 20.00 WIB pengunjung sudah mulai berdatangan ke embung kebun buah Nglanggeran dan mendekati tengah malam seluruh pengunjung sudah memadati embung serta gubuk di sebelah Utara atas embung.

Tepat pukul 24.00 kembang api yang di letakkan mengelilingi embung dinyalakan dan membentuk cahaya yang berwarna - warni. Dari puncak Gunung Api Purba NGlanggeran yang malam itu dipadati sekitar 1700 orang juga menyalakan kembang api. Pertunjukan kembang api dari Kota Jogja dan Alun - Alun Wonosari juga tak kalah asiknya disaksikan dari embung walaupun samar - samar tertutup kabut setelah hujan. Walaupun pesta kembang api di embung kebun buah Nglanggeran hanya berlangsung tujuh menit, tetapi mengabadikan memont disana merupakan sesuatu yang luar biasa karena ini merupakan perdana embung kebun buah Nglanggeran dipergunakan untuk merayakan malam tahun baru setelah embung ini diresmikan pertengahan tahun 2013 kemarin.

Foto malam tahun baru 2014 di embung kebun buah Nglanggeran lainnya : http://tinyurl.com/lhz2shd

Admin juga sempat membuat time lapses singkat sewaktu pesta kembang api di embung kebun buah Nglanggeran, silahkan dinikmati and HAPPY NEW YEAR!!


Site search