Rabu, 08 Januari 2014


Salah satu tradisi yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta yang tidak boleh dilewatkan adalah sekaten. Sekaten sendiri berasal dari serapan Bahasa Arab yaitu Syahadat tain, kemudian lidah orang Jawa waktu itu kesulitan mengucapkannya sehingga di baca sekaten agar mudah diingat. Sebelum adanya sekaten, ada prosesi - prosesi yang mengawalinya yaitu saparan bekakak gamping, saparan ki ageng wonolelo, miyos gongso, numplak wajik, kundhur gongso, terakhir grebeg maulud sebagai puncaknya.


Miyos gongso diadakan pada tanggal 5 maulud atau tanggal 7 Januari 2014 pada kalender nasional. Prosesi ini merupakan sebuah prosesi yang membawa gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Naga Wilaga dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat menuju ke Masjid Agung Kauman dan dilaksanakan pada malam hari pukul 23.00 WIB.


Prosesi ini di awali dengan penyebaran udhik - udhik di Keben, kemudian gamelan di kirab dengan rute dari Keben - Siti Hinggil - Alun - Alun Lor - Masjid Agung Kauman. Sesampainya di Masjid Agung Kauman, Kyai Nogo Wilogo di tempatkan di sisi Utara sedangkan Kyai Guntur Madu di tempatkan di sisis Selatan. Dan gamelan akan di tabuh (dibunyikan) selama satu minggu kedepan sehari tiga kali, yaitu pada pukul 08.00 - 11.00 WIB, 14.00 - 17.00 WIB, 20.00 - 23.00 WIB. Gamelan ini tidak dibunyikan pada Hari Kamis malam sampai Jumat pagi sebelum Shalat Jumat.

Foto lainnya : http://tinyurl.com/kwtud7h

0 komentar:

Posting Komentar

Site search