Sabtu, 15 Februari 2014

KELUD MENYAPA MERAPI (Part 1)

Posted by Unknown On 16.47 No comments

Tanggal 13 Februari 2014 pukul 22.50 WIB Gunung Kelud meletus disertai dengan kilatan petir dan awan panas. Abu vulkanik Gunung Kelud terbawa angin ke arah Barat sampai ke Kota Jogja yang berjarak 215 km dari puncak Gunung Kelud. Akibatnya pada tanggal 14 Februari 2014 sekitar pukul 03.00 WIB di Kota Jogja terjadi hujan abu. Pukul 05.00 WIB hujan abu semakin deras dan abu yang menyelimuti Kota Jogja semakin tebal. Pukul 06.30 WIB Kota Jogja juga masih terlihat gelap dengan langit sedikit berwarna kemerahan. Pukul 09.00 WIB hujan abu di Kota Jogja baru berhenti.

Pada hari itu juga banyak aktivitas yang terhenti, pasar tradisional sepi pembeli, sekolah diliburkan, pertokoan tutup, jalanan Kota Jogja yang biasanya padat juga menjadi lebih lengang. Siang harinya setelah Shalat Jumat, warga Kota Jogja mulai melakukan aktivitasnya seperti membersihkan abu yang menutupi atap rumah maupun jalan, banyak petugas dan relawan yang membersihkan abu vulkanik di jalan menggunakan semprotan air, ada juga warga yang sengaja jalan - jalan untuk melihat keadaan Kota Jogja sambil berfoto - foto.

Didalam posting kali ini, admin akan sharing beberapa moment yang admin dapatkan pasca hujan abu vulkanik Gunung Kelud pada Hari Jumat, 14 Februari 2014.


Hujan Abu Menyambut Pagi Itu

 
Butiran Abu Vulkanik
 
 
Alas Kaki
 
 
Mainanku
 
 
Pagar Rumah
 
 
Jalan Kampung

 
Sebuah Mushola

 
Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

 
Alun - Alun Utara Yogyakarta


Berlatar Belakang Masjid Gede Kauman

 
Kampus Biru yang Memutih

 
Grha Sabha Pramana

 
Kampus FIB UGM

 
Jalan Nusantara

 
Kolam Kodok

 
Portal Jalan Sosio Humaniora

 
Timur Lapangan GSP

 
BI

 
Stasiun Pathukan

 
Bekas Kantor Stasiun Pathukan

 
Kampung Code

 
Bolong

 
Tenggara Simpang Empat Tugu Jogja

 
Gardu Listrik Kotabaru

 
Spot Wajib Foto Malioboro

 
Dagangan Kakilima di Malioboro

 
Aktivitas Harian tetap Berjalan

 
Berlari

 
Bermain Abu Vulkanik

 
Memotret Dipotret

 
Museum Bahari

 
Memandangi Roda Tiga Sumber Penghasilan

 
Tak Berguna

 
Sepuh

 
Reresik Bank Indonesia

 
Reresik Stasiun Pathukan

 
Boy dan Si Bapak

 
Pembagian Masker Gratis

 
Mengisi Amunisi

 
Refleksi Fire Rescue

 
09

 
Rescue OK

 
Kakiku

Terimakasih yang sudah menyimak posting ini sampai akhir, posting "KELUD MENYAPA MERAPI (Part 2)" akan dibuat pada posting berikutnya dengan isi yang memiliki isi utama tentang transposrtasi di jalanan Kota Jogja. Tetap simak terus web www.dolan-dolan.net fans page Dolan - Dolan twitter @dolan2dotnet

Rabu, 05 Februari 2014


Tahun baru Imlek 2565 yang jatuh pada tanggal 31 Januari 2014 di kalender Nasional merupakan hari yang istimewa untuk orang - orang Tionghoa. Orang - orang Tionghoa atau Cina biasanya merayakan Imlek dengan berdoa di Klenteng pada malam menjelang tahun baru, atraksi liong dan barongsai juga ditampilkan pada keesokan harinya, tidak lupau angpau juga menemani di setiap tahun baru Imlek. Bila diperhatikan, Klenteng biasanya berada didalam lingkungan tempat tinggal orang Cina yang sejak zaman Kolonial Belanda diatur berdekatan dalam satu kawasan yang akrab dengan sebutan kawasan Pecinan. Salah satu kawasan Pecinan yang luas yang memiliki batas kawasan bagaian Utara sebuah Klenteng adalah kawasan Pecinan Magelang yang di tengahnya melintas jalan utama yaitu Jalan Pemuda.

Pada Hari Minggu, 2 Februari 2014 kemarin, Komunitas Kota Toea Magelang (KTM) mengadakan acara Djelajah Petjinan Magelang yang keduakalinya. Pada acara jelajah pecinan tahun ini kelihatannya lebih banyak menjelajahi pecinan sebelah Barat Jalan Pemuda setelah tahun kemarin lebih banyak menjelajah pecinan sebelah Timur Jalan Pemuda.


Acara diawali dengan doa, setelah semua peserta berkumpul di halaman Klenteng Liong Hok Bio
dan acara dibuka secara resmi oleh gubrnur KTM. Pengelola klenteng juga memberi sambutan atas kunjungan KTM ke klenteng, kemudian semua peserta diajak memasuki klenteng serta mendapat penjelasan tentang Klenteng Liong Hok Bio.

Karena peserta yang mengikuti jelajah kali ini dapat dibilang sangat banyak, maka susah untuk mendapat posisi paling depan untuk mendengarkan penjelasan dari pengurus klenteng. Akhirnya admin memilih dibelakang sambil melihat - lihat klenteng secara detail, ada salah satu hal yang menarik di dalam kelnteng yaitu ramalam ciamsi / ramalan nasib. Cara mempergunakan ramalan tersebut tinggal mengocok nomor pada bambu di depan dewa hingga salah satu nomor tersebut jatuh, jika yang jatuh lebih dari satu nomor berarti harus diulangi kembali hingga satu yang jatuh, kemudian nomor tersebut baru bisa dibaca.


Setelah selesai mengunjungi klenteng sampai melihat alatar baru di klenteng, rombongan melanjutkan perjalanan ke bekas bioskop kresna, sebuah bioskop yang didirikan pada tahun 1955 yang letaknya di Timur klenteng.


Setelah selesai mendengarkan penjelasan mengenai sejarah bioskop kresna, rombongan berjalan kaki ke arah Timur lagi. Disana ada sebuah rumah yang masih terasa nuasna tuanya, itu adalah rumah Liem Ting Lok yang merupkana pemilik dari bioskop Kresna.


Akhirnya kami melanjutkan perjalanan kembali dari pecinan di sebelah Timur menuju sebelah Barat, tetapi diselingi oleh pembagian air mineral terlebih dahulu sebagai fasilitas yang diperoleh peserta selain booklet. Sewaktu berjalan kaki ada yang menarik, yang biasa disebut oleh orang - orang sebagai rumah kembar. rumah yang memiliki empat buah pintu yang penempatannya presisi.


Sesampainya di pecinan sebelah Barat, ada sebuah pemberhentian lagi. Sebenarnya admin juga lupa tempat ini dahulu dipergunakan untuk apa, barangkali ada yang dapat membantu admin (hehehe)


Nah akhirnya sekarang tiba ditempat untuk mengisi amunisi agar dapat melanjutkan jelajah dengan tenaga full power, namanya di Pasar Tukangan sebuah pasar yang berada pada gang sempit tetapi dagangannya lengkap dan laris. Tidak jarang ketika ada orang yang berbelanja di pasar ini pasti dempet - dempetan dengan pembeli lain di pasar ini. Para peserta mengisi amunisi disalah satu penjual tenongan, pedagang yang menjajakan cemilan tradisional.


Setelah semua kenyang, tujuan selanjutnya segera dijabani bersama - sama lagi. Tujuan berikutnya sangat mengejutkan admin, karena tujuannya adalah rumah Drg. Oel Hong Kian. Oel Hong Kian adalah dokter gigi pribadi Presiden Republik Indonesia pertama yaitu Ir. Soekarn, waktu itu admin baru tahu kalau Bung Karno memiliki dokter pribadi yang berasal dari Magelang. Ternyata, selain menjadi dokter pribadi, Oel Hong Kian juga pernah menjadi tempat berkeluh kesah Bung Karno 


Masih di Jalan Tidar, kali ini peserta berada di SMIP Wiyasa yang merupakan bekar dari HCS / Holland Chinneese School yang didirikan oleh orang - orang Tionghoa. Tujuan pendirian sekolahan ini dahulu untuk menghindarkan ajaran Barat yang berbeda dengan ajaran nenekmoyang orang - orang Tionghoa. Walaupun tidak semua bangunan masih dipertahankan keasliannya, tetapi lantai yang terletak di depan pintu utama, yang setiap hari diinjak puluhan bahkan ratusan orang berkali - kali cukup membuat admin senang, karena ornamen hiasan keramik / lantai jaman dahulu sangat menarik.


Sekarang saat kami melanjutkan perjalanan ke Barat (tapi bukan untuk mencari kitab suci) menyeberangi Jalan Tentara Pelajar untuk menuju tempat pembuatan kue kranjang.


Tetapi sebelumnya peserta sempat berhenti dahulu untuk melihat rumah Yohana dari luar. Yohana sendiri adalah seorang perawat (mungkin) pada zaman Belanda yang berada di Magelang, foto - foto lama mengenai kehidupannya di magelang beberapa waktu lalu sempat menjadi obrolan hangat di grup facebook KTM (Kota Toea Magelang).


Akhirnya sampai juga pada tempat yang di tunggu - tunggu, yaitu tempat pembuatan kue kranjang di Catering Sari Rasa. Awalnya admin sudah melihat kue kranjang di tempat ini, yang menarik adalah di tempat ini kue kranjangnya masih dibungkus menggunakan daun pisang. Tetapi kue kranjang itu ternyata dibuat sampai H - 1 Imlek, dan wkatu itu di Sari Rasa mendapat pesanan kue kranjang yang banyak di luar kota. Akhirnya keluarlah menu catering yang nikmat sebagai ganti tidak jadi melihat proses pembuatan kue kranjang. Seluruh peserta yang berjumlah sekitar 80 orang makan besar di tempat itu, mulai dari beef, nasi kuning, kue, sampai es krim.


Tenaga sudah terisi kembali dan sekarang saatnya menuju tempat pembuatan barongsai, di tempatnya Om Sandi. Diawali dengan cerita naga, akhirnya ditutup dengan praktik memainkan liong dan tata cara pemain liong memainkan alat musik serta menerima angpau.


Tidak lupa juga seluruh peserta berfose bareng dengan Om Sandi di depan rumah beliau. Ini mengenangkan admin pada acara Djelajah Pecinan di tahun lalu.


Tempat Om Sandi memang tempat terakhir yang dikunjungi, tetapi tempat finishnya masih tetap balik lagi ke klenteng. Untuk kembali ke klenteng, rombongan diajak melewati gang di daerah Tengkon, selain tidak ada kendaraan yang dapat membahayakan pejalan kaki, suasana di rute itu juga asik dengan rumah - rumah kunonya.

 
Akhirnya para peserta sudah sampai di tempat finish yaitu Klenteng Liong Hok Bio. Jika diawali dengan doa, harus di tutup dengan doa juga. Kata bijak itu juga berlaku ketika foto keluarga tak berencana, jadi setah diawali foto bareng dengan background Klenteng Liong Hok Bio, sekarang diakhiri dengan foto bareng di halaman klenteng. Tetapi kali ini dengan background kuda, sebagai tanda tahun baru Imlek kali ini adalah tahun kuda.

Site search