Sabtu, 31 Mei 2014

Sedekah Candi Gunung Wukir

Posted by Unknown On 08.50 No comments

Satu lagi event budaya yang akan semakin meramaikan event tahunan di Magelang atau tepatnya di Dusun Canggal, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Magelang. Acara yang sebelumnya sudah berlangsung secara sederhana dengan sebutan ruwahan oleh penduduk Canggal, mulai tahun ini berubah menjadi meriah dengan tambahan pementasan kesenian - kesenian seperti jatilan. Selain itu juga dilakukan sebuah upacara tumpengan di Candi Gunung Wukir atau Candi Canggal yang merupakan peninggalan Kerajaan Mataran Kuno.

Untuk menuju Candi Gunung Wukir aksesnya cukup mudah, dari perbatasan provinsi Daerah IStimewa Yogyakarta - Jawa Tengah (Kali Krasak) ke utara sampai bertemu simpang tiga yang pertama kemudian ambil kiri. Ikuti jalan utama sekitar 3 kilometer kemudian ambil kanan (ada plang Candi Gunung Wukir di kiri jalan).


Prosesi sedekah Candi Gunung Wukir yang berlangsung pada Hari Kamis, 29 Mei 2014 dimulai pukul 11.30 WIB dengan titik start jembatan yang berada di sebelah Tenggara Gunung Wukir denghan membawa sebuah tumpeng yang diiringi tooh pewayangan serta beberapa orang berpakaian jawa. Rombongan kirab naik ke Gunung Wukir melewati jalur sebelah Selatan.

Setelah sekitar tiga puluh menit berjalan kaki, akhirnya rombongan kirab sudah sampai di Candi Gunung Wukir yang berada dipuncak Gunung Wukir. Prosesi selanjutnya adalah memutari candi induk sebanyak tiga kali dengan cara mengkirikan candi. Kemudian rombongan naik ke candi induk dan baris di Utara yoni. Tumpeng yang tadi dibawa kemudian diletakkan di cerat yoni dan prosesi berakhir.

Sebagai penutup posting kali ini, admin ingatkan kembali ritual yang dilakukan di Candi Gunung Wukir adalah ritual / upacara tambahan yang baru perdana dilakukan sebagai daya tarik. Tetapi acara ruwahan di Canggal sudah dilakukan sejak dahulu tetapi hanya secara kenduri sederhana.

Sabtu, 24 Mei 2014

Senja di Watu Amben

Posted by Unknown On 05.16 1 comment

Jika berbicara tentang tempat asik untuk menikmati senja di Daerah Istimewa Yogyakarta, ada sebuah tempat yang sayang untuk dilewatkan yaitu Puncak Watu Amben. Watu Amben sendiri berada di daerah Piyungan, arah Dlingo jika dari Polsek Patuk, Gunungkidul.

Pemandangan yang disuguhkan di tempat ini ketika senja adalah kemerlap lampu Kota Jogja, Jalan Wonosari, Jalan Solo, jalur pesawat, Jalan Parangtritis dan perkampungan di bawah Watu Amben. Keberadaan sebuah tower di bukit sebelah Selatan Watu Amben juga menjadikan fourground yang apik untuk fotografi.


Ketika cuaca cerah, langit yang awalnya berwarna biru perlahan berubah menjadi orange kekuning - kuningan memantulkan bias cahaya matahari yang mulai menghilang seiring datangnya malam. Perbukitan Menoreh yang terletak di Kulonprogo juga dapat terlihat dengan jelas ditempat ini ketika cuaca benar - benar cerah, pantai selatan Daerah Istimewa Yogyakarta juga tidak luput memperindah pemandangan ditempat ini ketika cerah. Ketika malam semakin larut, rasi bintang juga dapat dilihat dari Puncak Watu Amben. Tetapi ketika cuaca berawan, bias lampu kota yang berwarna kuning akan tertahan oleh awan. Jadi tidak akan ada rasa kecewa jika memilih Watu Amben sebagai referensi tempat menikmati senja, karena setiap senjanya akan menyajikan suasana senja yang berbeda - beda.

Rabu, 21 Mei 2014

Secangkir Kopi Aceh

Posted by Unknown On 20.40 4 comments

"Setiap saat
Setiap waktu
Kamu selalu menemani aku
Meskipun hitam tapi banyak yang suka
Bersama teman - teman ku menukmatimu....."
Sebuah kutipan dari lirik lagu tentang kopi yang berjudul Join Coffe yang dinyanyikan oleh Blackout. Selain itu masih ada lagu tentang kopi lain seperti Kopi Hitam yang terkenal dengan aliran dangdutnya. Jika kopi dapat menjadi bahan inspirasi dalam sebuah lagu, tentu saja kopi merupakan minuman yang istimewa dan akrab didalam kehidupan masyarakat.

Berbicara tentang kopi, di Daerah Istimewa Aceh yang terletak diujung Barat Pulau Sumatera merupakan surga untuk para pecinta kopi. Di Aceh ini ada dua jenis kopi yang sangat terkenal yaitu kopi gayo dan kopi ulee kareng. Kebetulan admin berkesempatan menikmati kopi aceh secara langsung di Sigli, Daerah Istimewa Aceh. Admin juga melihat secara langsung bagaimana cara si penjual menyajikan kopi aceh.


Cara pembuatan penyajian kopi aceh ini cukup unik, si penjual kopi menggunakan dua buah teko besar dan sebuah saringan. Kemudian penjual menuang bubuk kopi dan air panas pada sebuah teko lalu menuangnya ke teko satunya dengan melewati saringan. Cara ini dilakukan sebanyak 4 - 5 kali sampai ampas kopi tertahan pada saringan tetapi rasa dan aroma kopi tetap berada pada air kopi.

Cangkir yang dipergunakan untuk penyajian, rata - rata adalah cangkir yang bening dan tanpa telinga cangkir / pegangan. Harga satu cangkir kopi aceh juga sangat murah yaitu Rp. 3.000,00 dan itu sudah standar disemua tempat. Kedai kopi aceh juga tersebar banyak di aceh dan kebanyakan mereka tutup jam 02.00.

Minggu, 18 Mei 2014

Pengunjung Pertama di Curug Tok

Posted by Unknown On 19.39 2 comments

Landscape berupa perbukitan di daerah Kulonprogo membuat orang penasaran dengan ada apa saja di dalamnya. Berawal ketika admin ke Waduk Sermo dan bertanya tentang air terjun disekitar sana tetapi tidak ada orang yang mengetahuinya. Admin yakin jika di sekitar Waduk Sermo pasti ada air terjun.

Beberapa bulan setelah itu, admin mendapatkan kabar dari teman admin yang bernama Mas Antok (pemilik teraswarta) kalau di dekat rumah mertuanya yang berada di Desa Kalirejo terdapat sebuah air terjun. Akhirnya setelah acara Rasulan Tenongan di Kalibuko admin diajak Mas Antok untuk melihat air terjun tersebut.

Air terjun tersebut terletak sekitar 3 - 4 km sebelum perbatasan Kulonprogo - Purworejo. Akses menju air terjun tersebut dapat ditempuh dari perempatan hutan sermo ambil ke arah Purworejo hingga sampai di Desa Kalirejo. Memnag belum ada plang atau penunjuk jalan ke air terjun, tetapi sekitar 3 km menjelang perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta - Jawa Tengah ada jalan menurun dengan tulisan RT 01 RW 01, disitulah lokasi air terjunnya.


Setelah melewati beberapa pertigaan di jalan corblock, akhirnya sampai juga di rumah mertua Mas Antok. Dari sana kami berjalan kaki sekitar 5 menit untuk menuju air terjun tersebut. Dengan tinggi sekitar 6 meter dan kemiringan sekitar 45 derajat, air terjun tersebut diapit bukit dengan pepohonannya di sebelah kanananya serta jalan yang dibawahnya terdapat perkebunan warga disebelah kirinya. Kebetulan waktu itu debet air terjun sedang kecil dan kami menaiki air terjun tersebut. Sesekali kami berhenti untuk mengambil gambar karena air terjun ini berundak.

Air terjun ini belum memiliki nama dan sungai yang mengaliri air terjun ini juga tidak memiliki nama, dari dulu warga sekitar cuma menyebutnya curug. Pengunjung yang ke tempat ini juga cuma warga sekitar yang yang mencari udang pada malam hari. Pernah ada pengajuan surat ke pemerintah untuk menjadikan curug tersebut menjadi objek wisata tetapi belum ada respon positif, padahal potensinya cukup besar karena letaknya yang cukup dekat dengan Gunung Ijo dan Gunung Kukusan.

Karena curug ini belum memiliki nama, yang memberitahu admin tentang curug ini bernama Mas Antok serta orang sekitar menyebutnya cuma curug, maka biar mudah untuk menyebut tempat ini admin sebut dengan nama Curug Tok. Dan mohon maaf bila ada yang kurang berkenan tentang penyebutan nama curug ini, admin menyebut Curug Tok supaya memudahkan dalam pembuatan posting.

Foto Curug Tok : http://mwinduphotograph.blogspot.com/2014/05/curug-tok.html

Kamis, 15 Mei 2014


Posting kali ini merupakan lanjutan dari posting sebelumnya yang berisi tentang Perayaan Waisak 2558 di Candi Sewu. Setelah pada Hari Rabu malam admin berpindah dari Candi Sewu, admin langsung menuju ke Candi Borobudur. Admin tidak berniat untuk memotret Perayaan Waisak dari halaman Candi Borobudur, tetapi admin berencana memotret Waisak di Borobudur dari luar candi dan rencananya memotret dari kejauhan agar mendapatkan view Candi Burobudur secara full dengan lampion yang beterbangan diatasnya.

Sekitar pukul 01.30 admin dan teman admin sudah sampai di spot yang dapat mewujudkan imajinasi admin. Candi Borobudur terlihat hampir utuh dan jelas, lampu berwarna kuning menyinari kaki sampai tubuh candi dan lampu berwarna kehijau - hijauan menyinari stupa induk Candi Borobudur. Admin sudah memastikan imajinasi kali ini bakalan terwujud dengan sempurna. Tetapi menjelang pukul 02.10 kabut tebal turun secara perlahan dan candi mulai tertutup kabut hingga tidak dapat terlihat. Sempat menghubungi teman yang sedang meliput Perayaan Waisak di halaman candi Borobudur dan mengatakan di sana kabut tebal sekali.


Karena keadaan tidak memungkinkan, maka admin memutuskan untuk berpindah ke spot pasaran yang berada di jalan kampung dengan jarak sekitar satu kilometer dari Candi Borobudur. Sampai disana ternyata sudah banyak orang yang menunggu moment yang sama, tetapi dari spot yang sangat dekat dari candi juga mengalami hal yang sama, Candi Borobudur juga tidak dapat terlihat. Akhirnya admin dan teman admin tetap menunggu di spot tersebut sambil berdoa agar kabut segera menghilang.

Admin sempat tertidur selama tiga puluh menit, ketika Adzan Subuh ada orang yang berteriak "lampion...lampion...." dan admin segera bangun untuk mengabadikan moment tersebut. Walaupun Candi Borobudur tidak terlihat dengan jelas karena tertutup kabut, tetapi seribu lampion yang diterbangkan masih dapat terpotret oleh admin.

Perayaan Waisak 2558 di Candi Sewu

Posted by Unknown On 06.28 No comments

Sepanjang poros Kedu - Prambanan memiliki bayak peninggalan dari Masa Klasik, dan di kedua tempat tersebut terdapat dua buah Candi Budha yang besar yaitu Candi Borobudur dan Candi Sewu. Sejak tahun 2000an ke atas, Candi Sewu dipergunakan kembali untuk merayakan Hari Raya Waisak. Awalnya Waisak di Candi Sewu dipergunakan untuk membantu umat Budha yang akan beribadah agar tidak terlalu jauh ke Candi Borobudur. Tetapi pada perayaan Waisak 2558 ini perayaan Waisak di Candi Sewu benar - benar diselenggarakan lebih mandiri dengan adanya pengambilan air suci dari tujuh mata air dan api abadi.

Prosesi dimulai dengan pengambilan air suci di Umbul Jumprit, Candi Umbul, Umbul Pikatan, Umbul Senjoyo, Umbul Jalatundo, Umbul Pengging dan sendang Pitutur. Api Abadi dari Grobogan juga diambil pada Hari Rabu pagi yang pada sore harinya disemayamkan di Candi Lumbung, Prambanan. Setelah itu diadakan prosesi sarana puja dengan membawa air suci dan api abadi tersebut menuju Candi Sewu yang berada di Utara Candi Lumbung dan diiringi oleh kemampuan dan ketrampilan beberapa mahasiswa..


Acara dilanjutkan dengan pembacaan Paritta, Sutra dan Mantra oleh para Sangha di depan altar yang diletakkan di Timur Candi Sewu. Seketika itu juga cuaca perlahan berubah menjadi mendung dan hujanpun datang. Setelah selesai prosesi ketiga tadi, dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Sadono Hamong Rogo.

Rencana prosesi selanjutnya adalah melakukan pradaksina mengelilingi Candi Sewu dan pemberian air suci. Tetapi karena keadaan yang tidak memunkinkan, ada rencana panitia untuk mentiadakan pradaksina. Karena prosesi pradaksina yang ditunggu - tunggu oleh admin ada kemungkinan batal dilaksanakan, maka admin pindah ke Candi Borobudur. Jika penasaran dengan cerita admin di Candi Bobudur, simak terus blog www.dolan-dolan.net

Foto lainnya : http://mwinduphotograph.blogspot.com/2014/05/waisak-2558-candi-sewu.html

Selasa, 13 Mei 2014

Rasulan Tenongan Kalibuko

Posted by Unknown On 01.20 No comments

Tradisi di Daerah Istimewa Yogyakarta memang tidak ada habisnya dan selalu menarik untuk diketahui. Salah satu tradisi yang menarik untuk diketahui adalah Rasulan di Dusun Kalibuko, Desa Kalirejo, Kokap, Kulonprogo. Tradisi Rasulan di tempat ini terbilang unik karena setiap warganya berkumpul di tempat pak dukuh membawa tenongan. Arti dari tenongan sendiri saya sebetulnya masih bingung, karena ada yang mengatakan tenongan dalah sejenis wakul (tempat membawa makanan dari anyaman bambu) yang berisi dangan makanan ringan. Tetapi jika melihat dari Rasulan Kalibuko tenongan berisi makanan berat seperti nasi beserta lauk - pauknya. Karena posting kali ini berisi tentang Rasulan Tenongan Kalibuko, maka admin mengartikan tenongan adalah wakul untuk membawa makanan berat (menyesuaikan lokasi sumber postingan).


Rasulan Kalibuko diawali dengan kedatangan kepala keluarga dengan membawa sebuah tenongan, kemudian tenongan dikumpulkan dalam satu ruangan. Setelah semua kepala keluarga hadir, dari pihak panitia mengambil sebagian roti dan pisang yang dibawa setiap kepala keluarga kemudian dikumpulkan jadi satu dan nantinya dibagikan kepada para warga yang menghadiri rasulan. Tidak ada alasan berupa sejarah mengenai alasan roti dan pisang yang diambil, kedua makanan tersebut diambil karena dua makanan tersebut bukanlah syarat isi tenongan.

Prosesi selanjutnya adalah doa yang kemudian ditutup dengan memakan isi masing - masing tenongan. Setelah prosesi rasulan selesai, para kepala keluarga membawa kembali tenongannya untuk dimakan bersama keluarga dirumah. Sedangkan di tempat pak dukuh dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit dari siang sampai malam.

Kamis, 01 Mei 2014


Kirab Tebu Temanten merupakan ritual awal sebelum dilakukan penggilangan tebu di Pabrik Gula Madukismo, Bantul. Kirab ini juga merupakan acara puncak setelah satu bulan sebelumnya diadakan pasar malam di lingkungan pabrik. Tebu Temanten sendiri merupakan ritual yang sudah dilakukan secara turun temurun yang masih lestari hingga saat ini. Menurut cerita orang tua, jika ritual Tebu Temanten di hilangkan dapat mengakibatkan kegagalan dalam melakukan penggilingan tebu, bahkan memungkinkan juga terjadi musibah sewaktu dilakukan proses penggilingan.

Ritual Tebu Temanten biasanya dilakukan satu bulan sebelum dilakukan penggilingan. Kirab dimulai pukul 14.00 WIB diawali dari Gedung Maducanda yang berada di sebelah Barat Laut perempatan pabrik. Barisan diawali oleh anak - anak TK dengan berbagai pakaian nusantara kemudian di susul oleh prajurit, kemudian orang berpakaian jawa barulah kereta kuda yang membawa sepasang Tebu Temanten. Pasangan Tebu Temanten ini di beri nama Kyai Dhito dan Nyai Manis. Barisan di belakang pasangan Tebu Temanten juga masih banyak, dari prajurit wanita dengan membawa panah sampai barongsai.


Rombongan kirab mengiringi sepasang Tebu Temanten tersebut mengelilingi Pabrik Gula Madukismo dengan putaran searah jarum jam. Setelah selesai mengelilingi pabrik, pengiring yang ebrada didepan beserta Tebu Temanten memasuki pabrik dan di bawa menuju tempat penggilingan tebu.


Setelah sampai di tempat penggilingan, para petinggi di Madukismo melakukan doa bersama untuk meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi kelancraan dalam proses penggilingan. Setelah doa bersama selesai, sepasang Tebu Temanten tersebut dimasukkan ke mesin yang akan dipergunakan untuk menggiling. Prosesi terakhir adalah penguburan kepala kerbau di depan pintu masuk tempat penggilingan.

Site search