Kamis, 01 Mei 2014


Kirab Tebu Temanten merupakan ritual awal sebelum dilakukan penggilangan tebu di Pabrik Gula Madukismo, Bantul. Kirab ini juga merupakan acara puncak setelah satu bulan sebelumnya diadakan pasar malam di lingkungan pabrik. Tebu Temanten sendiri merupakan ritual yang sudah dilakukan secara turun temurun yang masih lestari hingga saat ini. Menurut cerita orang tua, jika ritual Tebu Temanten di hilangkan dapat mengakibatkan kegagalan dalam melakukan penggilingan tebu, bahkan memungkinkan juga terjadi musibah sewaktu dilakukan proses penggilingan.

Ritual Tebu Temanten biasanya dilakukan satu bulan sebelum dilakukan penggilingan. Kirab dimulai pukul 14.00 WIB diawali dari Gedung Maducanda yang berada di sebelah Barat Laut perempatan pabrik. Barisan diawali oleh anak - anak TK dengan berbagai pakaian nusantara kemudian di susul oleh prajurit, kemudian orang berpakaian jawa barulah kereta kuda yang membawa sepasang Tebu Temanten. Pasangan Tebu Temanten ini di beri nama Kyai Dhito dan Nyai Manis. Barisan di belakang pasangan Tebu Temanten juga masih banyak, dari prajurit wanita dengan membawa panah sampai barongsai.


Rombongan kirab mengiringi sepasang Tebu Temanten tersebut mengelilingi Pabrik Gula Madukismo dengan putaran searah jarum jam. Setelah selesai mengelilingi pabrik, pengiring yang ebrada didepan beserta Tebu Temanten memasuki pabrik dan di bawa menuju tempat penggilingan tebu.


Setelah sampai di tempat penggilingan, para petinggi di Madukismo melakukan doa bersama untuk meminta kepada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi kelancraan dalam proses penggilingan. Setelah doa bersama selesai, sepasang Tebu Temanten tersebut dimasukkan ke mesin yang akan dipergunakan untuk menggiling. Prosesi terakhir adalah penguburan kepala kerbau di depan pintu masuk tempat penggilingan.

0 komentar:

Posting Komentar

Site search