Sabtu, 29 November 2014

Saparan Apem Wonolelo

Posted by Unknown On 00.45 1 comment

Bulan Suro sudah selesai kemudian berganti Bulan Sapar yang berisi event - event budaya sangat menarik di dalam lingkup Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada Bulan Sapar, terdapat beberapa event Saparan seperti Saparan Apeman Wonolelo, Saparan Bekakak Gamping, Ngguyang Jaran, Rabu Pungkasan lemper raksasa dan tentunya dimulainya pasar malam sekaten di Alun - Alun Utara Jogja. Event budaya yang mengawali bulan sapar adalah Saparan apem Wonolelo yang diadakan di Makam Ki Ageng Wonolelo, Ngemplak, Kabupaten Sleman.

Event ini dimulai dengan diadakannya pasar malam di lapangan wonolelo selama satu minggu sebelum saparan apem diadakan. Kemudian pada Hari Jumat minggu pertama pada Bulan Sapar di pagi hari seluruh warga Wonolelo membuat apem dengan jumlah 50 biji setiap kepala keluarga. Pada siang harinya diadakan kirab budaya dari Masjid wonolelo yang berada di samping bekas kediaman Ki Ageng Wonolelo yang kini sudah berusia 1478 tahun.


Kirab dimulai setelah shalat Asar dan diawali dengan pembukaan dan fragmen kisah Ki Ageng Wonolelo sebagai cikal bakal dan penyebar agama Islam di wonolelo. Sekitar pukul 16.00 WIB kirab dimulai dengan rute yang cukup pendek menuju halam makam Ki Ageng Wonolelo. Ada beberapa benda yang dibawa dalam kirab yang diawali dengan drum band murid - murid SMP yaitu Al - Quran, mustoko masjid, beberapa benda peninggalan Ki Ageng dan tentunya dua buah gunungan apem yang menjadi ciri khas acara ini.

Sampai di halaman makam, benda - benda tersebut di bawa ke komplek makam serta dilakukannya doa untuk Ki Ageng, sedangkan dua buah gunungan apem di bawa ke tengah kerumunan masyarakat kemudian di katrol tengan tali ke atas. Setelah doa selesai, gunungan apem kembali diturunkan daaaaaaaaan menjadi rebutan masyarakat. Setelah apem pada gunungan habis, sekarang giliran 2 ton apem di sebar untuk masyarakat melalui menara penyebaran apem. Banyak masyarakat yang tidak mendapatkan apem tetapi ada juga orang yang mendapatkan belasan apem, semua sudah rejeki masing - masing.


Senin, 10 November 2014


Kali ini admin masih membuat posting tentang labuhan, jika kemarin tentang Labuhan Pantai Sadeng yang berada di Gunungkidul, maka sekarang kembali lagi seperti postingan sebelumnya yaitu labuhan di Bantul. Kali ini labuhan yang diadakan rutin oleh yayasan hondodento dan karangtaruna unit Sendangsari, Krebet, Pajangan, Bantul yang sering disebut dengan Labuhan Hondodento. Labuhan hondodento rutin dilakukan pada pertengahan bulan Suro yang pada tahun ini jatuh pada Hari Sabtu, 8 November 2014. Tujuan dilakukannya labuhan ini adalah untuk turut sertanya yayasan hondodento dan karangtaruna unit sendangsari dalam nguri - uri kebudayaan jawa.


Labuhan hondodento diawali dengan persiapan dan pembukaan di pendopo Pantai Parangkusumo yang terletak di Selatan Cepuri Parangkusumo. Kemudian sesaji yang di letakkan pada kotakan yang di balut kain berwarna biru muda di bawa ke tepi pantai, setelah itu barulah diadakan sebuah ritual. Setelah ritual selesai, sesaji tadi dibawa menuju laut Selatan untuk dilarung oleh tim SAR Jogja. Ketika sedang prosesi, ternyata di Pantai Parangkusumo juga sedang ada labuhan dari Surakarta yang ditempatkan pada sebelah Barat tempat prosesi labuhan hondodento dilaksanakan.

Kembali ke labuhan hondodento, tim SAR yang bermodalkan keahlian berenang dan pelangpung membawa sesaji tersebut ke laut dengan cara berenang melawan ombak. Sesaji yang berhasil dibawa ke tengah lautpun kembali terbawa ombak ketepi dan tim SAR membawanya kembali ke tengah laut. Terakhir tim SAR melarung sesaji dengan cara melempa r ke tengah laut. Sempat ada sesaji yang terbuka karena kuatnya hantaman ombak dan sempat menjadi rebutan masyarakat yang menyaksikan dengan ikut serta berenang di laut.


Sabtu, 08 November 2014

Labuhan Pantai Sadeng

Posted by Unknown On 10.32 No comments

Pesona pantai Selatan Daerah Istimewa Yogyakarta memang tidak ada habisnya, selain alam yang menjadi daya tarik wisata ternyata ada juga tradisi yang tidak kalah menariknya dengan alam yang disajikan, salah satu tradisi yang sangat menarik adalah Labuhan Pantai Sadeng. Keindahan alam di Pantai Sadeng yang sekaligus merupakan pelabuhan kapal nelayan dapat dikatakan kalah dengan pantai di Gunungkidul lainnya, tetapi tradisi yang berada di pantai ini dapat dikatakan memiliki daya tarik khusus.

Selain memiliki kapal nelayan yang besar, Pantai Sadeng atau yang dikenal dengan muara Bengawan Solo purba ini pada setiap tahunnya terdapat tradisi Labuhan Pantai Sadeng yang diadakan pada Sasi Suro yang pada tahun ini diadakan pada Hari Jumat, 7 November 2014. Dalam labuhan ini terdapat sesaji utama yang antara lain berisi pakaian adat jawa, makanan, ayam, ingkung, uang, dan beberapa benda lainnya, Sedangkan sesaji lainnya berupa nasi tumpeng.


Prosesi labuhan ini diawali dengan tidak diperbolehkannya nelayan Pantai Sadeng melaut dua hari sebelum labuhan dan kembali diperbolehkan satu hari setelah seluruh prosesi labuhan selesai. Sekitar pukul 13.00 WIB para masyarakat yang ingin menyaksikan labuhan secara langsung berlomba - lomba memilih kapal yang nanti akan ditumpanginya untuk menuju tempat labuhan yang berada ditengah laut atau sekitar 5 km ke tengah laut dari bibir pantai.

Tidak lama kemudian seluruh sesaji dinaikkan ke kapal tim SAR Yogyakarta, kebetulan admin mendapat kesempatan untuk turut serta di atas kapal tim SAR. Setelah semua siap, kapal segera berangkat ke lokasi labuhan dan kapal pembawa sesaji berada pada barisan terdepan. Awalnya ombak masih bersahabat, tetapi semakin ketengah ombaknya semakin besar, ketika kapal melawan ombak rasanya kapal mau terbang menuju awan tetapi setelah melawan ombak kapal rasanya mau nyungsep kedalam air.

Setelah sampai dilokasi labuhan, ada sekitar lima orang tim SAR yang berenang ke laut untuk menerima sesaji yang masih berada diatas kapal. Cara penurunan sesaji dilakukan maju kedepan dan sesaji tidak boleh diturunkan menyamping. Setelah sesaji utama berhasil diturunkan, dua sesaji berupa nasi tumpeng gantian diturunkan ke laut. Masyarakat yang ikut menyaksikan ke tengah laut tidak diperkenankan untuk berebut dan merusak sesaji, tetapi diperkenankan untuk mengambil air laut setelah sesaji dilabuh. Air ini diambil dan dipercaya untuk menjamas / mencuci benda - benda.

Setelah prosisi tersebut selesai, kapal tim SAR, polair, kapal nelayan yang besar maunpun yang kecil berbondong - bondong kemabli ke pantai. Acara dilanjutkan dengan tayub kemudian pagelaran wayang kulit pada malam harinya dan terakhir ada tasyakuran.


Kamis, 06 November 2014

Labuhan Minabahari Pantai Depok

Posted by Unknown On 07.45 No comments

Laut Selatan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi salahsatu sumber penghidupan bagi orang banyak, baik itu karena alamnya maupun biota lautnya. Salahsatu tempat di pantai selatan Daerah Istimewa Yogyakarta yang terkenal dan ramai dikunjungi adalah Pantai Depok yang berada di Kabupaten Bantul. Di pantai ini ada sebuah tradisi yang diberi nama labuhan minabahari. Labuhan ini biasanya diadakan pada Bulan Suro dengan cara melarung beberapa hasil bumi.

Pada tahun ini acara tersebut diadakan pada Hari Kamis, 6 November 2014 yang dumulai sejak pukul 14.00 WIB dengan jathilan. Di tempat lain yaitu di depan polair, warga yang hidupnya bergantung pada Pantai Depok mempersipkan kirab yang membawa empat buah gunungan, sebuah sesaji dan sebuah busana jawa yang nantinya akan di larung di pantai selatan.


Setelah semua selesai persipan, pukul 15.00 rombongan kirab berjalan ke selatan menuju bibir Pantai Depok untuk melarung beberapa benda tadi. Diawali dengan permisi oleh jurukunci di tepi pantai, kemudian semuanya dibawa ke tengah laut. Warga yang menyaksikan diperkenankan untuk berebut gunungan yang juga dibawa ke tengah laut, tetapi tentu sudah diatur batasnya agar keamanan tetap terjaga.

Setelah labuhan selesai, masyarakat kembali ke panggung utama untuk menyaksikan jathilan dan mencicipi sego gurih yang dibagikan secara cuma - cuma. Terakhir, labuhan minabahari Pantai Depok di tutup dengan wayangan di parkiran Pantai Depok.

Sabtu, 01 November 2014

Kirab Budaya Mbah Demang 2014

Posted by Unknown On 06.10 No comments

Di Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta yang berada di wilayah Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, pada Bulan Suro biasanya banyak tradisi - tradisi yang dilakukan. Salah satu tradisi yang diadakan pada Bulan Suro adalah Suran Mbah Demang atau yang pada tahun ini diberi nama Kirab Budaya Mbah Demang 2014. Kirab Budaya Mbah Demang sendiri diadakan di Kelurahan Banyuraden, Kecamatan Gamping Sleman. Kirab Budaya ini diawali dengan diadakannya pasar malam di lapangan Kelurahan Banyuraden terlebih dahulu, kemudian puncaknya adalah kirab budaya yang dilangsungkan pada malam hari pukul 20.00 WIB dari Kelurahan Banyuraden menuju kediaman Mbah Demang yang berada di Jalan Godean.


Tokoh Mbah Demang sendiri adalah penjaga pabrik gula Demak Ijo pada waktu industri gula di Daerah Istimewa Yogyakarta sedang naik daun hingga di eksport ke Eropa. Mbah Demang sendiri dipercaya untuk menjaga dan mengelola pabrik gula Demak Ijo karena kesaktiannya. Tetapi pabrik gula Demak Ijo tersebut sekarang sudah tidak ada karena dibumi hanguskan oleh penduduk pribumi agar tidak dijadikan markas Belanda pada saat Agresi Militer. Sedangkan posisi pabrik gula Demak Ijo sekarang ini menjadi markas tentara setelah sebelumnya pernah menjadi pabrik dan gudang senjata.


Kirab yang diikuti oleh dusun - dusun yang berada di Kelurahan Banyuraden ini menampilkan bermacam barisan. Ada rombongan berkuda, ogoh - ogoh, macan sepanjang tujuh meter, liong & barongsai, hadroh, anak sekolah, perangkat kelurahan dan barang - barang peninggalan Mbah Demang. Setelah peserta kirab sampai di depan kediaman Mbah Demang, barang - barang peninggalan Mbah Demang di masukkan kembali kedalam kediaman Mbah Demang yang disaksikan oleh keturunan Mbah demang. Setelah itu dilakukan pelepasan burung merpati, penyebaran udik - udik dan ditutup dengan memperebutkan gunungan.

Site search