Sabtu, 08 November 2014

Labuhan Pantai Sadeng

Posted by Unknown On 10.32 No comments

Pesona pantai Selatan Daerah Istimewa Yogyakarta memang tidak ada habisnya, selain alam yang menjadi daya tarik wisata ternyata ada juga tradisi yang tidak kalah menariknya dengan alam yang disajikan, salah satu tradisi yang sangat menarik adalah Labuhan Pantai Sadeng. Keindahan alam di Pantai Sadeng yang sekaligus merupakan pelabuhan kapal nelayan dapat dikatakan kalah dengan pantai di Gunungkidul lainnya, tetapi tradisi yang berada di pantai ini dapat dikatakan memiliki daya tarik khusus.

Selain memiliki kapal nelayan yang besar, Pantai Sadeng atau yang dikenal dengan muara Bengawan Solo purba ini pada setiap tahunnya terdapat tradisi Labuhan Pantai Sadeng yang diadakan pada Sasi Suro yang pada tahun ini diadakan pada Hari Jumat, 7 November 2014. Dalam labuhan ini terdapat sesaji utama yang antara lain berisi pakaian adat jawa, makanan, ayam, ingkung, uang, dan beberapa benda lainnya, Sedangkan sesaji lainnya berupa nasi tumpeng.


Prosesi labuhan ini diawali dengan tidak diperbolehkannya nelayan Pantai Sadeng melaut dua hari sebelum labuhan dan kembali diperbolehkan satu hari setelah seluruh prosesi labuhan selesai. Sekitar pukul 13.00 WIB para masyarakat yang ingin menyaksikan labuhan secara langsung berlomba - lomba memilih kapal yang nanti akan ditumpanginya untuk menuju tempat labuhan yang berada ditengah laut atau sekitar 5 km ke tengah laut dari bibir pantai.

Tidak lama kemudian seluruh sesaji dinaikkan ke kapal tim SAR Yogyakarta, kebetulan admin mendapat kesempatan untuk turut serta di atas kapal tim SAR. Setelah semua siap, kapal segera berangkat ke lokasi labuhan dan kapal pembawa sesaji berada pada barisan terdepan. Awalnya ombak masih bersahabat, tetapi semakin ketengah ombaknya semakin besar, ketika kapal melawan ombak rasanya kapal mau terbang menuju awan tetapi setelah melawan ombak kapal rasanya mau nyungsep kedalam air.

Setelah sampai dilokasi labuhan, ada sekitar lima orang tim SAR yang berenang ke laut untuk menerima sesaji yang masih berada diatas kapal. Cara penurunan sesaji dilakukan maju kedepan dan sesaji tidak boleh diturunkan menyamping. Setelah sesaji utama berhasil diturunkan, dua sesaji berupa nasi tumpeng gantian diturunkan ke laut. Masyarakat yang ikut menyaksikan ke tengah laut tidak diperkenankan untuk berebut dan merusak sesaji, tetapi diperkenankan untuk mengambil air laut setelah sesaji dilabuh. Air ini diambil dan dipercaya untuk menjamas / mencuci benda - benda.

Setelah prosisi tersebut selesai, kapal tim SAR, polair, kapal nelayan yang besar maunpun yang kecil berbondong - bondong kemabli ke pantai. Acara dilanjutkan dengan tayub kemudian pagelaran wayang kulit pada malam harinya dan terakhir ada tasyakuran.


0 komentar:

Posting Komentar

Site search