Kamis, 04 Desember 2014

Dua pasang bekakak

Sebuah acara budaya yang menarik lagi di Bulan Sapar yaitu Saparan Bekakak yang diadakan di Gamping, Sleman. Saparan Bekakak dimulai dengan dilakukan pembuatan bekakak (pengantin) satu hari sebelum saparan yang pada tahun ini jatuh pada Hari Kamis, 4 November 2014 bertempat di kediaman Pak Dukuh. Bekakak yang dibuat berjumlah dua pasang yang pada Hari Jumat sore akan disembelih pada dua tempat yang berbeda yaitu Gunung Gamping dan Gunung Keliling. Pembuatan bekakak ini8 dilakukan dari menurut lelehur harus selesai sebelum matahari terbenan atau sebelum Adzan Maghrib.

Pemasangan blangkon

Pembuatan bekakak diawali dengan pengukusan tepung ketan yang sudah dibuat bulat - bulat sebelumnya, setelah tanak bulatan - bulatan tepung tersebut di gabungkan jadi satu. Bersamaan dengan proses tersebut, dibuat juga rangka bekakak dari bambu sebagai badannya dan buah sebagai kepalanya. Tidak lupa juga juruh (cairan gula jawa) yang diberi pewarna merah dimasukkan kedalam plastik dan ditaruh didalam bambu tadi. Tujuannya agar pada waktu bekakak disembelih juruh tersebut dapat keluar sebagai cairan seperti darah. Kemudian barulah adonan tepung tadi di tempelkan dapa rangka bekakak dari bambu.

Sewaktu penempelan adonan, dilakukan juga pembentukan bentuk badan bekakak dalam posisi duduk. Setelah bentuk badan bekakak jadi, seluruh badan bekakak dilumuri dengan minyak agar terlihat mengkilap dan keset, setelah itu barulah diberi pewarna kuning sebagai kulitnya dan hitam untuk rambutnya. Dilakukan juga pemasangan pakaian dan aksesoris manten dengan busana adat jawa.

Dalam waktu bersamaan, dibuat juga sesaji yang akan dipersembahkan juga pada saat penyembelihan bekakak. Sesaji tersebut diantaranya terdiri dari ingkung, buah, nasi, anak ayam, burung merpati, dan beberapa makanan lainnya. Di samping sesaji juga diabuatkan hiasan dari janur (daun kelapa) dan debog (batang pisang)  seperti hiasan untuk orang nikahan. Nantinya hiasan tersebut akan diletakkan mendampingi bekakak ketika didalam jodhang.

Warga sekitar melihat bekakak dimasukkan ke dalam jodhang

Setelah bekakak selesai dibuat, bekakak dimasukkan ke dalam jodhang bersama sesaji dan hiasan yang sudah dibuat sebelumnya. Warga sekitar dan masyarakat secara luar cukup banyak yang datang ke tempat pembuatan bekakak untuk menyaksikannya secara langsung. Ada yang penasaran dan ada yang mengambil gambar. Setelah bekakak dan sesaji ditata dengan rapi, jodhang kemudian di tutup kemudian pada malam harinya akan di kirab menuju balai desa dan dibiarkan selama satu malam di dalam balai dengan persimbolan malam midodareni.


0 komentar:

Posting Komentar

Site search