Jumat, 05 Desember 2014

Penyembelihan diatas altar

Saparan Bekakak merupakan salah satu tradisi yang berurutan pada Bulan Sapar yang dilakukan pada Hari Jumat antara tanggal 10 - 2- Sapar atau minggu kedua pada Bulan Sapar atau satu minggu setelah Saparan Apem Wonolelo. Bekakak sendiri adalah sepasang pengantin buatan yang dibuat dari ketan berisi juruh yang sudah dibuat sehari sebelum saparan. Saparan Bekakak juga sering disebut dengan Saparan Gamping dengan latar belakang sejarah cukup panjang. Awalnya Kerajaan Mataran Islam dipecah menjadi dua oleh Belanda melalui perjanjian Giyanti menjadi Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta. Kasultanan Ngayogyakarta memiliki wilayah Kali Opak ke Barat, sedangkan Kasunanan Surakarta memiliki wilayah Kali Opak ke Timur.

Kemudian Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat membangun kraton yang sekarang berada di Selatan NOL KM Jogja, sewaktu menunggu pembangunan kraton maka Sultan dan keluarganya bertempat tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang yang berada di Selatan Gunung Gamping. Sedangkan di Utara Gunung Gamping terdapat sebuah goa yang batunya ditambang oleh abdi dalem untuk membuat kraton. Sewaktu dilakukan penambangan, ternyata goa runtuh dan menimpa para penambang beserta seorang abdi dalem kesayangan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Untuk mengenang jasa - jasanya maka diadakanlah acara Saparan Bekakak pada setiap Bulan sapar.

Tetapi ada juga versi lain yang menceritakan bekakak diadakan sebagai pengganti tumbal pengantin. Dahulu, wilayah disekitar gunung gamping adalah hutan yang didalamnya didiami oleh raksasa / buto, setiap ada pengantin yang lewat hutan itu selalu dimangsa oleh buto tersebut. agar tidak muncul korban lagi maka dibuatlah sepasang pengantin dari ketan untuk di tumbalkan kepada buto tersebut, maka pada Saparan Bekakak juga terdapat ogoh - ogoh berbentuk buto.

Bekakak di bawa keluar dari balai desa

Acara ini dimulai pada siang hari setelah Shalat Jumat diawali dengan seluruh peserta berkumpul di lapangan balai desa. Peserta kirab berasal dari seluruh warga Gamping dan menyajikan penampilan yang berbeda - beda, ada bregodo, kuda, ogoh - ogoh, kesenian, gunungan, dll. Acara diawali dengan pertunjukan reog terlebih dahulu kemudian semua peserta kirab berangkat ke Gunung Gamping dengan rute melewati ring road. Ketika melewati Gunung Keliling (Stiekes Ahmad Yani), rombongan bekakak pertama berhenti disana untuk melakukan penyembelihan pasangan pengantin pertama. Kemudian rombongan melanjutkan perjalanan menuju Gunung Gamping dan pasangan pengantin (bekakak) kedua disembelih.

Antuasias masyarakat melihat bekakak

Warga sekitar dan masyarakat yang bertempat tinggal di Jogja maupun luar Jogja berbondong - bondong memadati lapangan untuk mengikuti jalannya kirab Saparan Bekakak, begitu juga di Gunung Keliling dan Gunung Gamping juga di padati oleh masyarakat. Masyarakat tertarik untuk menyaksikan Saparan Bekakak secara langsung dan ingin berebut kepala bekakak yang di lempar kemudian diperebutkan oleh masyarakat.


0 komentar:

Posting Komentar

Site search