Sabtu, 28 November 2015

Kisah Taman Bunga Amarylis Pathuk

Posted by Unknown On 19.27 No comments
Amarylis yang masih bertahan
Halo hai konco dolan semuanya, sebelumnya admin minta maaf nih kalau udah lama vacum. Tetapi di tengah kevacuman admin ada kabar yang membuat admin kembali dolan untuk melihat langsung di lapangan tanpa mempercayai informasi yang diberikan oleh orang lain. Beberapa hari terakhir di medsos (media sosial) lagi heboh mengenai kabar adanya bunga amarylis yang hanya mekar setahun sekali pada awal musim hujan. Ditambah lagi kabarnya bunga itu biasanya ada di Belanda, pasti makin heboh. Tapi efeknya banyak pengguna medsos yang ingin menyaksikan secara langsung peristiwa tahunan ini dan berselfie ria di lokasinya. Akibatnya banyak tanaman yang rusak dan menjadi bahan perbincangan menarik di medsos, nahkan sampai muncul hastag #saveamarylis
Karena admin juga telat mendapat informasinya, Hari Sabtu tanggal 28 November 2015 admin baru bisa mengunjungi secara langsung taman bunga amarylis yang berada di tepi Jalan Jogja-Wonosari, Pathuk, Gunungkidul. Untuk mencarinya sangatlah mudah, asalkan di tepi jalan banyak kendaraan yang parkir dan sangat ramai di situlah tempatnya. Dan sudah ada plang dadakan yang dibikin untuk mempermudah pengunjung menemukan lokasinya, selain itu ada juga warga yang membantu pengunjung untuk menyebrang jalan. Admin berhenti pada taman amarylis itu, tapi yang admin lihat hanyalah kebun kecil yang sudah rusak! Setelah ngobrol dengan beberapa orang baik itu warga sekitar dan pengunjung lainnya, ternyata kebunnya bukan hanya di satu tempat. Oke sekaranga admin pindah ke tempat berikutnya.
taman bunga amarylis
Waow, tempat kedua ini ternyata yang kabarnya ngehits itu tetapi sangat beda sekali dengan foto yang tersebar di media sosial. Sebenarnya bunga amrylis sendiri sudah ada di Yogyakarta sejak dahulu dengan sebutan bunga brambangan. Brambangan sendiri berasal dari kata brambang (bawang merah) karena daunnya seperti pohon bawang merah, itu menurut cerita oreang tua jaman dahulu. Tetapi dari mana asal bunga brambangan sendiri admin belum mendapatkan info yang akurat. Jadi sebenarnya kalau 'anak-anak itu' ngaku kekinian setelah berfoto di taman ini, admin rasa mereka itu adalah anak-anak yang kekunoan karena bunga itu sudah ada sejak dahulu.
Di lokasi kedua yang ngehits dari pinggir jalan ini admin mencoba mengamati perilaku pengunjung. Banyak pengunjung yang berusaha mendapatkan spot untuk berfoto dengan background bunga tanpa ada pengunjung lain yang masuk dalam frame, akibatnya langkah mereka perlahan tapi pasti medesak tanaman yang sedang mekar pada siang itu. Selain itu ada pengunjung dengan style anak sekolahan yang nyamperin admin untuk meminjam korek api (padahal admin bukan seorang juru hisap), pengunjung itu melangkah tidak lebih dari 10 langkah tetapi sudah ada 3 bunga yang rusak karena langkahnya . Padahal dari posisi anak sekolah itu menuju tempat admin duduk sudah ada jalan setapaknya, tapi tetap saja anak itu membuat jalan sendiri yang lurus. Mungkin dia menganut ajaran jalan lurus lebih baik kali ya.
amarylis di pollybag
Itu hanya sebagaian kelakuan pengunjung yang tidak baik untuk dicontoh. Ada juga pengunjung yang tidak merusak tanaman, ada yang hanya turun dari kendaraan kemudian mengambil gambar dari atas terus pulang, mungkin karena kecewa. Tetapi ada juga yang menikmati taman bunga amarylis yang sudah rusak dari kejauhan. Sebenarnya kalau para pengunjung menginginkan dapat berfoto dengan bungan amrylis, pengunjung bisa membeli 1 pohon kemudian menanamnya di halaman rumah karena pohon ini sangat mudah untuk tumbuh tetapi juga sangat mudah untuk dirusak. Jika saat ini beli, maka satu tahun lagi sudah dapat menikmati keindahannya. Di sepanjang Jalan Jogja-Wonosari juga banyak yang jual bunga amarylis dan itu sudah ada sejak dahulu.
diecast di taman bunga
Dalam hati sebenarnya admin juga kecewa melihat keadaan taman bunga seperti itu, akhirnya admin memilih untuk memotret diecast di taman bunga saja dari atas didekat tanaman yang masih bagus. Didekat tanaman itu ada sebuah meja yang lumayan bagus untuk standbase diecast dan untuk menjangkaunya tidak perlu menginjak-injak tanaman. Oke, mulai sekarang mari kita bersama-sama menjaga apapun itu yang ada di sekitar kita. Berfoto di alam boleh tetapi ingat alam itu milik bersama yang harus dijaga bersama, bukan karena milik bersama berarti setiap orang bebas memiliki dan berhak semena-mena terhadap alam. Ingat jangan egois, kalau ingin mendapatkan tempat istimewa untuk berfoto lebih baik bikin tempat sendiri secara private buka 'nemu' tempat di alam kemudian menganggapnya seperti milik pribadi. Bukan berfoto yang salah, tetapi perilaku orang sewaktu berfoto yang salah #saveselfie
Itulah yang bisa admin ceritakan pada konco dolan semuanya, semoga bermanfaat dan mohon maaf bila ada yang tersinggung dan terjadi salah tulis pada posting kali ini. Pokoke tetep semangat #dolandolan dan jangan lupa #selfie

Minggu, 26 Juli 2015

Selfie yang ngehits

Selfie adalah sebuah istilah yang ngetrend saat ini atau dalam media sosial disebut kekinian. Sebenarnya selfie sudah ada sebelum tahun 2000, tetapi fenomena selfie menjadi kekinian di Indonesia setelah ada fitur kamera pada ponsel. Awalnya di Indonesia selfie banyak dilakukan oleh kaum hawa dengan membuat foto diri dengan angel dari atas, terkadang bibirnya ada yang dimaju-majuin. Tetapi pada waktu yang lebih muda selfie dengan cara seperti itu menjadi bahan bully di media sosial dengan sebutan foto alay. Ada orang yang berhenti membuat foto alay setelah mendapat bully tetapi ada juga yang masih bertahan sampai saat ini.
 
Fenomena selfie pada akhir-akhir ini muncul kembali dengan dukungan tehnologi kamera hand phone yang semakin canggih. Jika pada tahun 2008 hand phone sudah memiliki kamera depan untuk keperluan video call, maka tahun 2013 hand phone atau telepon selular muncul dengan kamera depan untuk keperluan foto selfie. Awalnya kamera depan pada hand phone hanya beresolusi kecil dan terlalu sempit untuk ukuran framenya. Maka muncullah sebuah aksesoris yang diberi nama tongsis atau tongkat narsis. Kemunculan tongsis di Indonesia sudah ada sejak pertengahan tahun 2013 yang di distribusikan secara online oleh kakak beradik kelahiran negara matahari terbit yang sekarang berdomisili di Jakarta.

Tetapi karena semakin hari hand phone semakin canggih maka kamera depan pada ponsel memiliki resolusi yang tinggi bahkan memiliki ukuran yang lebar pada tiap framenya / wide lens. Kemajuan teknologi pada kamera depan hand phone tidak main-main, pada awal 2014 muncul hand phone dengan kamera depan yang didukung dengan fitur flash untuk mendukung kegiatan selfie di malam hari. Kemudian hasil dari foto-foto selfie biasanya diunggah pada akun media sosial si pelaku selfie dan menjadikan orang yang melihatnya ingin dolan ke tempat dimana mereka melakukan selfie.
 
Efeknya positifnya bisa mengangkat tempat tersebut sehingga dapat meningkatkan ekonomi warga setempat yang daerahnya dipergunakan untuk selfie. Selain itu juga dapat membuka lapangan pekerjaan baru. Sedangkan efek negatifnya jika pengelola belum siap yang terjadi adalah kerusakan lingkungan pada tempat selfie tersebut karena ulah pengunjung yang ringan tangan, ringan tangan disini adalah membuang sampah sembarangan.

Gapura top selfie

Di Kragilan,Pogalan, Pakis, Kabupaten Magelang terdapat sebuah tempat wisata yang ngehits karena foto selfienya yang di upload di media sosial. Sebuah tempat yang berada tidak jauh dari Ketep Pass, namanya adalah "Top Selfie". Sebuah tulisan pada gapura sederhana yang cukup membuat admin kaget ketika memasuki kawasan wisata tersebut.

Rute menuju wisata Top Selfie dapat melewati Ketep Pass naik ke arah Utara terus atau ke arah Kopeng. Di sebuah tikungan dan jalan turunan ada sebuah corblok yang diatasnya terdapat gapuran bertuliskan "Top Selfie Pinusan Kragilan" kemudian masuk mengikuti jalan corblok. Di dekat gapura juga sudah ada pengelola yang membantu mengatur lalu lintas keluar masuk pengunjung.

Tempat parkir yang luas

Setelah memasuki gapura sedrhana Top Selfie, ada retribusi parkir sebesar Rp 2.000 untuk motor, Rp 5.000 untuk mobil. Setelah melewati retribusi parkir akan ada banyak orang yang berfoto ataupun duduk di tengah jalan. Diujungnya sudah disediakan tempat-tempat parkir yang sangat luas sampai ke tengah hutan pinus. Pengelola juga sudah membatu untuk mengatur penataan kenadaraan dan lalu lintas keluar masuknya kendaraan karena setiap waktu selalu ada kendaraan masuk dan kendaraan keluar.
 
Flare matahari di hutan pinus

Karena wisatanya adalah hutan pimus tentunya ada banyak pohon pinus. Dalam fotografi yang menarik didalam hutan adalah flare matahari yang dapat terlihat dari sela-sela ranting pohon. Tetapi sayanganya flare tersebut tidak bisa admin dapatkan tepat di atas hutan karena wkatu itu hari sudah mulai sore dan matahari sudah mulai condong ke arah Barat.

Dua sejoli

Dimanapun yang dinamakan tempat wisata biasanya digunakan untuk mempererat hubungan antar dua anak manusia atau pacaran. Disepanjang jalan pinusan kragilan, banyak dijumpai pasangan muda-mudi yang sedang duduk berduaan, jalan-jalan. Tetapi tidak sedikit juga yang berwisata ke pinusan kragilan bersama keluarga lengkap. Intinya berwisata untuk merefresh kembali pikiran setelah melakukan rutinitasnya.

Itulah sedikiit cerita dari Top Selfie Pinusan Kragilan yang dapat admin bagikan kepada konco dolan. Mohon maaf jika terjadi kesalahan dalam penulisan tempat. Jangan pernah bangga dolan sampai luar negeri jika tidak mengenal Indonesia, tetap semangat #dolandolan jangan lupa #selfie dan #jangannyampah

Rabu, 22 Juli 2015

Dolan Ke Gereja Ayam Borobudur

Posted by Unknown On 03.27 No comments
Halaman gereja burung

Borobudur sebuah nama tempat yang mendunia karena disana terdapat Candi Borobudur, sebuah candi berlatarbelakang agama Budha yang terbesar di Indonesia dan terbesar kedua di dunia. Banyak turis yang mengunjungi Borobudur baik turis lokal maupun luar. Dahulu memang awalnya para turis mengunjungi Borobudur untuk melihat keindahan Candi Borobudur, tetapi sejak tahun 1970an kunjungan tersebut ada yang memiliki tujuan beribadah pada Hari Raya Waisak.

Dimasa kini, daya tarik daerah Borobudur bukan terletak pada Candi Borobudur saja karena disekitarnya sudah mulai tumbuh tempat-tempat wisata baru seperti Desa Wisata Candirejo, wisata gerabah Klipoh, omah kamera, tempat-tempat sunrise seperti Manohara Sunrise, Plataran, Aman Jiwo, Punthuk Setumbu, Purwosari / Cemuris, Pos Mati, Eden Sunrise, Sukmojoyo, Watu Kendil, Gunung Kendil / Gupakan, dan masih banyak tempat sunrise lain yang saat ini mulai dibuka. Di wilayah Borobudur ada sebuah bangunan yang sangat unik yang terletak diatas bukit yang sangat wajib untuk dikunjungi yaitu Gereja Ayam / Gereja Burung.

Jalan corblok menuju bukir rhema

Bangunan unik tersebut menimbulkan banyak tafsir mengenai binatang apa yang menjadi inspirasi arsitekturnya. Ada yang menafsirkan sebagai ayam, ada juga yang menafsirkan sebagai burung / manuk (bahasa jawa). Tetapi dalam postingan ini admin akan membuat kesepakatan untuk menyebut bangunan ini dengan subutan gereja ayam karena selain memiliki mahkota diatas kepala seperti jengger ayam, pada belakangnya juga terdapat bulu-bulu seperti ekor ayam. Karena jika bulu tersebut keatas biasanya bulu ekor ayam tetapi jika bulu tersebut kebawah maka bulu ekor burung.
 
Ada sebuah versi cerita mengenai sejarah pembangunan gereja ayam ini. Cerita ini admin dapatkan dari salah seorang penduduk lokal ketika admin mencari lokasi gereja tersebut. Kabarnya dahulu tahun 1990an ada seorang Tionghoa yang kaya raya yang jatuh cinta pada seorang gadis lokal. Akhirnya untuk menikahinya orang Tionghoa tersebut membelikan tanah seluas satu bukit (bukit rhema) yang sertifikat tanahnya tidak bisa dimiliki satu orang saja kemudian membangun gereja diatas bukit tersebut. Ketika pembangunan hampir selesai, pembangunan dihentikan oleh pemerintah daerah setempat karena tidak memiliki ijin untuk membangun akhirnya gereja ayam tersebut hanya berbentuk seperti sekarang ini. Satu hal yang perlu diingat, ini hanyalah sebuah versi cerita, mungkin masih ada versi cerita lain lagi mengenai keberadaan gereja ayam tersebut.

Untuk menuju ke gereja ayam yang berada di Dusun Gombong, Desa Kembanglimur, Kecamatan Borobudur dapat melewati pertigaan ojek borobudur ke arah Selatan kemudian perempatan arah Punthuk Setumbu ambil ke kanan mingikuti jalan utama searah dengan Punthuk Setumbu. Sampai SD Karangrejo ada belokan arah kanan ambil kanan mengikuti jalan utama sampai tikungan pertigaan, ambil jalan kiri menanjak. Kemudian ikuti jalan utama kemudian ambil kanan ikuti jalan utama kemudian ambil kiri lurus. Sebelum perempatan kecil ada tulisan parkir. Dari tempat penitipan kendaraan tinggal berjalan sekitar 5 menit mengikuti jalan cor blok menanjak.

Tangga naik menuju kepala ayam

Setelah berjalan melewati jalan cor blok,bangunan gereja unik berbentuk ayam sudah dapat terlihat menghadap ke arah Timur ke arah Candi Borobudur. Sejak gereja ayam ini dikenal masyarakat luas, banyak orang yang menggunakan tempat ini untuk bolos sekolah, mesum tetapi ada juga yang menggunakannya untuk hal positif seperti prewedding karena penikahan adalah ibadah. Dahulu tempat ini tidak dikelola sehingga hanya ada dua pilihan untuk memasukinya, yang pertama lompat jendela belakang atau melalui ruangan bawah tanah yang lembab dan 'kotor'. Tetapi awal tahun 2015 tempat ini sudah mulai dikelola dengan membuka akses di sati jalan saja dengan menjebol salah satu dinding kemudian memberinya pintu kemudian menutup semua akses masuk supaya tidak dipergunakan untuk hal-hal negatif lagi.

Untuk menuju kepala ayam juga sudah diberikan akses yang lebih nyaman dengan disediakan tangga dari kayu yang sudah dapat dinaiki dari dasar hingga ke mahkotanya. Untuk menaiki tangga tersebut, pengunjung diminta untuk memberikan dana perawatan sebesar Rp 5.000,00 perorang. Selain itu, disamping tangga masuk juga ada penjual makanan dan minuman yang bisa digunakan sebagai obat perut lapar dan tenggorokan haus, tetapi ingat tetap harus menjaga kebersihan walaupun sudah dikenakan biaya perawatan.

View Candi Borobudur dan bukit dagi dari moncong ayam

Perjalanan menuju atas mahkota ayam terhenti di mocong atau mulut ayam karena Candi Borobudur dan Bukit Dagi dapat terlihat dengan jelas dari posisi ini. Hanya satu hal yang disayangkan karena Gunung Merapi dan Merbabu tidak dapat terlihat dengan jelas. Tempat ini memang potensial untuk dijadikan sebagai tempat sunrise tetapi menurut pengelola tempat ini huka mulai pukul 08.00 WIB, sedangkan pada Hari Sabtu dan Minggu buka lebih awal yaitu pukul 06.00 WIB. Admin mengharap ada keajaiban lagi, semoga admin memiliki kesempatan untuk masuk ketempat tersebut lebih awal sehingga admin dapat mengabadikan sunrise dari gereja ayam tersebut.

Punthuk Setumbu terlihat dari atas mahkota ayam

Purwosari / Cemuris terlihat dari atas mahkota ayam

Akhirnya samoailah diatas mahkota ayam, sebuah pemandangan yang menakjubkan dapat dilihat dari tempat tersebut. Selain Candi Borobudur, Bukit Dagi, Gunung Merapi, Merbabu, dapat juga untuk melihat Gunung Sumbing, Puncak Suroloyo dan perbukitan Menoreh karena tempat tersebut masih merupakan gugusan Bukit Menoreh. Sebuah tempat untuk memburu sunrise yang cukup terkenal juga dapat dilihat dari atas mahkota ayam yaitu Punthuk Setumbu dan Bukit Purwosari / Cemuris.

Itulah sedikiit cerita dari gereja ayam Bukit Rhema Borobudur yang dapat admin bagikan kepada konco dolan. Mohon maaf jika terjadi kesalahan dalam penulisan tempat. Jangan pernah bangga dolan sampai luar negeri jika tidak mengenal Indonesia, tetap semangat #dolandolan jangan lupa #selfie dan #jangannyampah

Minggu, 19 Juli 2015

Persiapan di keben

Hari Raya Idul Fitri banyak disebut-sebut orang sebagai hari kemenangan dan sejak hari itulah seperti terlahir kembali. Banyak cara untuk merayakan hari kemenangan tersebut, ada yang dengan bersilaturahmi sambil bermaaf-maafan dengan saudara sampai bagi-bagi angpau. Di Daerah Istimewa Yogyakarta ada sebuah tradisi yang berlangsung turun-trmurun sejak Sri Sultan Hamengkubuwono I yang bersedekah kepada rakyatnya. Sedekah ini dilakukan dengan cara membagikan hasil bumi kepada seluruh masyarakat yang dikemas dalam bentuk gunungan.

Tradisi ini dikenal masyarakat luas dengan nama grebeg syawal, dinamakan grebeg syawal karena diadakannya pada Bulan Syawal. Selain grebeg syawal masih ada lagi grebeg besar yang dilakukan pada waktu Idul Adha, grebeg maulud yang diadakan pada Bulan Maulud. Prosesi grebeg syawal dan besar tidak diawali dengan prosesi lain, tetapi pada grebeg maulud diawali dengan miyos gongso, sekaten, numplak wajik, kundhur gongso kemudian baru grebeg dan ditutup dengan wayangan.
 
Pada tahun ini grebeg syawal diadakan pada Hari Sabtu, 18 Juli 2015 yang diawali dengan persiapan di Keben Kraton Ngayogyakarta. Sejak pagi masyarakat sudah berdatangan ke Keben untuk melihat secara langsung prosesi grebeg syawal tersebut. Para abdi dalem kraton juga sudah mulai bersiap untuk nantinya mengawal gunungan yang dikeluarkan raja untuk masyarakat.
 
Langkah di bawah terik matahari

Sekitar pukul 08.00 WIB, prajurit kraton mulai berdatangan memasuki halaman Keben untuk bersiap mengawal gunungan. Diawali dengan suara musik yang menjadi cirikhas setiap prajurit, semakin siang halaman keben semakin padat. Walaupun usia sudah senja dan banyak uban dikepala, para prajurit tetap gagah membawa senjata untuk tetap menjaga tradisi yang dilakukan secara turun-temurun ini. Demi keamanan bersama, masyarakat yang menonton diminta untuk menepi supaya tidak menghalangi para prjurit yang sedang berbaris ini karena jarak antar prajurit sudah disesuaikan dan tidak bisa dipersempit lagi karena yang dibawa adalah senjata asli bukan mainan.
 
Prajurit Kraton

Setelah semua prajurit berkumpul di Keben, semua prajurit satupersatu berbaris menuju siti hinggil lor (utara) sebagai persiapan sebelum keluar ke pagelaran kraton kemudian menuju ketempat dimana nanti gunungan akan dibagikan.

Gunungan kakung keluar dari pagelaran

Sekitar pukul 10.00 WIB apa yang sudah ditunggu-tunggu akhir keluar. Setelah diawali dengan para prajurit yang keluar dari pagelaran kraton akhirnya sebuah gunungan kakung (laki-laki) mengawali keluarnya 6 gunangan lain. Pada grebeg syawal ini mengeluarkan 3 gunungan kakung, 1 gunungan wadon, 1 gunungan gepak, 1 gunungan pawuhan, 1 gunungan darat.

Gunungan Kakung menuju Masjid Agung melewati Alun-Alun Utara

7 buah gunungan tersebut dibawa ke 3 tempat yang berbeda, 1 gunungan kakung dibawa ke Pura Pakualaman, 1 gunungan kakung dibawa ke kepatihan malioboro (kantor gubernur) kemudian sisanya dibawa ke Masjid Agung Yogyakarta. Masyarakat tetap antusias mengikuti gunungan yang akan dibawa ke Masjid Agung walaupun jalan yang dilewati berdebu.

Kacang terbang

Setelah 5 buah gunungan sampai di halaman Masjid Agung, masyarakat langsung menyerbunya untuk berebut hasil bumi yang dikeluarkan oleh kraton. Orang yang berhasil memanjat gunungan terlebih dulu biasanya langsung mengambil hasil bumi kemudian melemparkannya kekerumunan penonton supaya penonton lain juga dapat memperolehnya. Ada penonton yang mempercayainya juka mendapat hasil bumi tersebut bisa mendapat berkah tetapi ada juga yang menganggapnya sebagai hal senang-senang saja. Tetapi yang jelas diadakannya acara grebeg adalah raja sedekah kepada masyarakat.

Hanya sebatas itulah yang dapat admin ceritakan untuk konco dolan semuanya, mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan tempat. Selamat Idul Fitri 1436 H, maaf lahir dan batin, meminta maaf itu mudah tetapi memaafkan dengan iklas itu yang susah. Tetap semangat #dolandolan dan jangan lupa #selfie

Rabu, 17 Juni 2015

Sunrise 1 Ramadhan 1346 H

Posted by Unknown On 18.25 No comments
Komparasi Masjid Baiturrahman Aceh dengan Masjid Baiturrahman Bantul


Bulan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga yaitu Bulan ramadhan yang penuh dengan berkah dan pahalan setiap waktunya. Banyak orang yang berlomba-lomba melakukan amal baik supaya mendapatkan banyak pahala di bulan penuh berkah ini. Bagi para fotografer juga asik berhunting ria mengenai pernak-pernik kehidupan di Bulan Ramadhan baik itu mulai dari arsitektur masjid, makanan khas ramadhan hingga warna-warni mukena yang dikenakan ketika tarawih dan Sholat Idul Fitri satu bulan lagi.

Kali ini admin akan mengawali Bulan Ramadhan dengan hunting foto sunrise di sebuah masjid yang cukup terkenal dan fenomenal yaitu Masjid Baiturrahman. Nama Masjid Baiturrahman mungkin dapat dijumpai dibanyak tempat, namun jika menyebut Masjid Aceh pasti sudah pada tahu masjid mana yang dimaksud. Sebuah masjid yang tetap kokoh berdiri serta menjadi saksi bisu akan dahsyatnya tsunami Aceh sekian tahun silam. Eh bukan ini masjid Baiturrahman Bantul yang didirikan setelah gempat Jogja 2006 yang waktu itu mendapatkan bantuan dari Aceh sehingga didirikanlah masjid yang arsitekturnya mirip tetapi ukurannya lebih kecil.

Silhouette dan printout


Masjid yang terletak di tepi jalan lingkar selatan Yogyakarta ini memang sangat mirip dengan masjid aceh, bahkan terdapat juga menara di sampingnya. Perbedaannya selain pada ukuran juga pada jumlah pintu, kubah yang lebih minimalis. Dahulu setelah selesai pembangunan masjid ini sangat terkenal dan banyak orang yang penasaran ingin mengetahui dan beribadah di masjid ini. Pemandangan pagi hari di masjid Baiturrahman Bantul sebenarnya sangat bagus karena di sampingnya masih berupa kolan ikan dan sawah, bahkan Gunung Merapi dan Merbabu dapat terlihat dari masjid ini yang akan semakin menambah keindahan pagi hari setelah subuh berjama'ah di masjid ini.

Refleksi Masjid Baiturrahman Bantul


Sedikit humor mengenai perbedaan anatara Masjid Baiturrahman Aceh dengan Masjid Baiturrahman Bantul adalah pada masjid aceh terdapat kolan dengan pancuran di depannya sedangkan di bantul terdapat kolam ikan di luar halamannya. tetapi keberadaan kolam ikan tersebut malah bisa dimanfaatkan untuk memperoleh foto yang sangat indah.

Next, kemana kita? Tunggu terus postingan dari www.dolan-dolan.net edisi ramadhan 1346 H mengenai acara, tempat dan makanan yang khas ramadhan. Mohon maaf jika ada kesalahan dalam menyebut tempat. Selamat menjalankan ibadah puasa tetap semangat #dolandolan dan jangan lupa #selfie

Kamis, 04 Juni 2015

1200 lentera terbang

Waisak adalah hari raya bagi umat Budha di seluruh dunia, hari raya tersebut untuk memperingati lahirnya Siddharta, pencapaian Siddharta menjadi Budha pada usia termuda yaitu 35 tahun dan memperingati meninggalnya Budha Gautama. Karena ada tiga peristiwa penting bagi umat Budha maka Hari Raya Waisak disebut juga Tri Suci Waisak. Perayaan Waisak di Indonesia biasanya dilakukan di candi-candi Budha besar di Indonesia seperti Candi Borobudur (Magelang), Candi Sewu (Klaten), Candi Brahu (Jawa Timur) dan menurut informasi ada juga yang dilakukan di candi Budha yang berada di Pulau Sumatera.

Prosesi umum yang dilakukan di Candi Borobudur dan Candi Sewu diawali dengan pindapata, pengambilan air suci, pengambilan api abadi, pembacaan riwayat budha, membaca kitab suci, menunggu detik-detik waisak dan yang paling penting adalah pradaksina yaitu berjalan kaki mengelilingi candi dengan cara mengkanankan candi. Detik-detik waisak biasanya ketika bulan purnama tepat berada diatas candi dan pada waktu bulan kelima. Berikut ini admin akan ceritakan pengalaman admin ketika mengikuti perayaan waisak 2559 atau tahun 2015 di Candi Borobudur.

Barisan Bineka Tunggal Ika

Diawali ketika admin mendadak #dolandolan ke Candi Mendut hanya sekedar ingin bersilaturahmi dengan teman-teman admin yang berada di sana, admin mendengar informasi bahwa sekarang akses untuk masuk Candi Mendut tidak sembarang orang boleh masuk karena ini merupakan ibadah bagi umat Budha maka yang diutamakan adalah para umat Budha. Banyak teman yang tidak mendapat ijin masuk, atau sudah masuk tetapi diminta untuk keluar. Akhirnya admin mencoba masuk bersama teman admin dan berkata dengan jujur, sebuah keberuntungan pertama admin dapatkan karena tanpa harus bertele-tele admin diijinkan untuk masuk ke komplek Candi Mendut.
 
Hanya mengambil 6 frame admin langsung berteduh dibawah pohon sambil menunggu prosesi kirab dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Tidak lama ada seorang biksu yang memanggil admin dan bertanya mengenai identitas admin. Kemudian admin menjawab dengan jujur dan admin bilang butuh akses masuk ke Candi Borobudur juga, akhirnya admin diberi akses masuk oleh biksu baik tersebut. Karena sudah mendapatkan akses maka segera menuju ke Candi Borobudur dengan penuh semangat.
 
Persiapan detik-detik waisak di altar utama

Prosesi yang paling ditunggu oleh admin sebenarnya adalah pradaksina, tetapi untuk melihat dan mengabadikannya admin harus bersabar menunggu prosesi-prosesi sebelumnya. Sehingga untuk mengisi waktu luang admin mengikuti salah satu prosesi supaya admin tahu dan merasakan secara langsung bagaimana rasanya ketika posisi menjadi umat yang menjadi bidikan ratusan teman-teman fotografer. Hal ini sengaja admin lakukan agar ketika admin mendokumentasikan ritual-ritual seperti ini dilain tempat tidak mengganggu umat yang sedang beribadah. Ternyata hasilnya, teman-teman yang memotret dari posisi paling belakang itu tidak mengganggu kekhusyukan dalam mengikuti jalannya ritual, suara shutter atau gerakan yang bersliweran cukup mengganggu.

Setelah admin mengikuti salahsatu prosesi yaitu renungan menunggu detik-detik waisak 2559, tibalah waktu yang paling ditunggu-tunggu yaitu penerbangan 1200 lampion yang diadakan di taman lumbini. Kali ini admin mendapat kesempatan lagi untuk ikut serta menerbangkan lampion atau lentera terbang. Prosesi ini diawali dengan meditasi terlebih dahulu kemudian menyalakan lilin atau lentera. Setelah semua lentera menyala akhirnya lampion dibagikan dan segera dinyalakan. Karena ukurannya yang besar maka 1 lampion diterbangkan oleh 4-5 orang dan jumlahnya yang cukup banyak maka dibagi 3 periode penerbangan.

Itulah sebuah pengalaman yang dapat admin bagi kali ini, intinya mari kita berkata jujur, menghormati orang lain dan tentunya semangat #dolandolan dan jangan lupa #selfie !!! Mohon maaf ya jika adala kesalahan dalam penulisan posting ini.

Jumat, 01 Mei 2015

Di dalam goa gong

Pacitan adalah sebuah kabupaten yang terletak di Jawa Timur bagaian Selatan karena posisinya yang berada di sebelah Selatan tersebut maka Pacita menyimpan banyak potensi wisata alam yang wajib dikunjungi. Selain itu kondisi landscape Pacitan yang berupa berbukitan karst menjadikan Pacitan memiliki banyak goa dan disebut juga sebagai kota seribu goa. Cukup banyak goa yang terkenal di Pacitan, salahduanya adalah Goa Tabuhan dan Goa Gong. Goa Gong adalah goa yang terbentuk akibat proses karstifikasi setelah terjadi pengangkatan dari dalam laut yang prosesnya membutuhkan waktu selama jutaan tahun. Jadi dapat dikatakan juga bahwa lokasi Goa Gong sekarang dalam waktu jutaan tahun yang lalu merupakan dasar laut.

Goa Gong sendiri terletak di Desa Bomo, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Atau sekitar 15 kilometer di Barat Laut pusat Kota Pacitan jika ditarik garis lurus. Jika dari Kota Pacitan dapat ditempuh dengan motor maupun mobil, tetapi jika dari luar kota yang merupakan rombongan wisata dapat juga ditempuh dengan bus pariwisata ukuran besar karena akses jalan dan tempat parkir untuk bus besar ada. Jika menempuh perjalanan dari Jogja bisa juga lewat Wonosari kemudian lewat Pracimantoro kemudian menuju Pacitan. Jika melewati rute ini akan ada pemandangan yang indah yaitu dapat melihat Waduk Gajah Mungkur dari ketinggian.

Tangga menuju goa gong

Selepas dari parkiran Goa Gong, bisa membeli retribusi masuk ke goa sebesar Rp. 6.000 (jika belum berubah). Dan saat itulah bisa memulai dolan-dolan di Goa Gong. Setelah menaik tangga pertama, pengunjung akan disambut oleh patung penjaga yang berwajah seram dan memegang gada. Tetapi tidak perlu takut dengan patung tersebut karena keberadaannya malah dapat dipergunakan untuk selfie. Kemudian pengunjung berjalan menyusuri tangga hingga pintu masuk mulut goa. Untuk menyusuri masuk ke goa sapanjang 100 meter tidak perlu membawa alat penerang sendiri karena goa tersebut sudah dikelola dan diberi penerang yang warnanya bervariasi sehingga stalaktit dan stalakmit didalam goa menjadi penuh dengan warna - warni, ada yang biru, hijau, kuning dan merah.
 
Banyak stalaktit yang masih hidup sehingga masih meneteskan air hingga saat ini yang menyebabkan lantai goa agak licin, tetapi tidak perlu kawatir karena sudah dibuatkan trap tangga dari semen dan sudah ada pegangan tangga baik di kanan maupun kirinya. Didalam goa terdapat beberapa sumber air yang kabarnya tidak akan kering sepanjang tahun. Yang paling menarik di Goa Gong adalah adanya sebuh stalakmit besar yang jika dipukul akan mengeluarkan suara "GOOOOOOONG" seperti gong pada instrumen gamelan jawa. Karena itulah goa tersebut diberi nama Goa Gong. Karena goa tersebut hanya memiliki sebuah mulut saja, maka pintu masuknya juga menjadi pintu keluarnya. Konsep untuk memasuki goa ini adalah memutari dalam goa sehingga tidak ada pengunjung yang saling bertatapan.
 
Variasi batu mulia dari Pacitan

Setelah puas masuk menelusuri warna - warni keindahan Goa Gong, sekarang saatnya memilih cindera mata atau yang biasa disebut oleh - oleh khas Pacitan. Di tempat tersebut sudah disediakan stand - stand untuk menjajakan dagangannya. Salahsatu cindera mata khas Pacitan adalah batu mulia atau batu akik. Sebuah batu akik yang paling terkenal dan diburu di Pacitan adalah batu kalsedon atau keladen. Batu ini memiliki ciri yang khas dan warnanya bermacam - macam tergantung jenis kalsedonnya. Namun kalsedon juga dapat ditemukan di tempai lain yaitu di Jawa Barat dan di Sulawesi Tenggara. Berminat mengkoleksi batu mulia dari Pacitan selagi masih musim? Langsung dolan-dolan ke Pacitan saja hahahaha

Seperti itulah yang dapat admin share ke teman - teman semuanya mengenai wisata Goa Gong di Pacitan dan cindera mata yang khas dari Pacitan. Ingat, tetap semangat #dolandolan dan jangan lupa #selfie

Jumat, 24 April 2015

Grojogan dan jembatan pegat

Musim kemarau yang tak kunjung datang membuat debet air pada air terjun tetap terjaga banyaknya sehingga alirannya tetap deras. Hal ini menginspirasi admin untuk dolan dolan ke salahsatu air terjun yang sudah sangat terkenal sejak dahulu yaitu Grojogan Sewu yang berada di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sebuah air terjun yang terletak di lereng Barat Gunung Lawu dengan tinggi air terjun sekitar 80 meter. Pada dinding tebing sebelah kanan dan kiri air terjun terdapat bentukan batu alam yang menurut admin sangat keren, bentuknya bisa seperti bergaris - garis dari atas kebawah kemudian berprisma - prisma pada bagaian bawahnya. Pada bagaian yang bergaris ke bawah batu dasarnya masih terlihat jelas, tetapi pada bagaian yang seperti prisma ditumbuhi lumut sehingga menjadikan perpaduan warna yang keren antara kuning kecoklatan dan hijau.

Dibalik keindahannya, ternyata Grojogan Sewu memiliki mitos yang sangat mengancam bagi pasangan muda - mudi yang masih pacaran. Di lingkungan masyarakat sekitar beredar mitos jika ada pasangan yang belum resmi menikah melewati jembatan yang menghubungkan sisi kanan dan sisi kiri daratan yang dipisahkan aliran sungai dari grojogan, katanya pasangan tersebut bakalan putus sehingga jembatan tersebut disebut jembatan pegat yang berarti putus. Tetapi karena ini adalah sebuah mityos maka boleh mempercayai boleh tidak. Di dekat jembatan pegat sudah disediakan jembatan lain dari anyaman bambu yang kuat, disediakan khusus bagi yang mempercayai mitosnya supaya tidak putus kemudian mengakibatkan kegalauan tingkat dewa.

Pengunjung grojogan sewu

Mari move on dari jembatan pegat karena di sepanjang aliran sungai Grojogan Sewu masih banyak air terjun lainnya namun tidak setinggi Grogan Sewu, air terjun kecil tersebut dapat kita pergunakan untuk bermain air dengan aman. Namun tidak sedikit pengunjung yang memilih bermain air di dekat air terjun utama karena debit airnya yang lebih melimpah. Air gunung yang dingin juga memberika sensasi kesegaran tersendiri. Bebatuan besar yang berada di aliran sungai juga membuat bendungan secara alami.

Fasilitas yang disediakan di tempat wisata ini juga sudah cukup baik yang meliputi tempat makan, kolam renang, toilet, tempat ibadah (mushola) dan tentunya tempat jualan cindera mata. Selain wisata air terjun / grojogan, di tempat ini juga memiliki hutan lindung yang disana masih terdapat binatangnya. Tetapi hal yang paling menarik di tempat ini adalah ketika pulang, pada anak tangga paling terakhir pengungunjung akan diberikan ucapan "SELAMAT ANDA TELAH TURUN DAN MENAIKI 1.250 ANAK TANGGA SEMOGA TAMBAH SEHAT DAN SUKSES" Amin. Itulah hal yang sebenarnya paling berkesan ketika dolan dolan ke Grojogan Sewu Tawangmangu. Itulah sedikit cerita yang dapat admin sharing ketika mengunjungi Grojogan Sewu, mohon maaf bila ada kesalahan dalam penyebutan tempat, tetap semangat #dolandolan dan jangan lupa #selfie.

Kamis, 02 April 2015


Minggu, 22 Maret 2015

Penjelasan mengenai teknis pelaksanaan acara dilakukan di halaman Museum BPK

Sebuah event tahunan yang diadakan oleh Komunitas Kota Toea Magelang pada awal tahun adalah jelajah situs dan candi yang pada tahun 2015 ini sudah memasuki seri ke empat yang diadakan di daerah Bandongan dan Windusari. Sebelumnya sudah diadakan seri pertama di Secang, seri kedua di Temanggung dan seri ketiga di Sengi hingga Muntilan. Jelajah seri empat ini diadakan pada Hari Sabtu, 21 Maret 2015 dengan titik kumpul di halaman museum BPK kompleks bekas kantor Karesidenan Kedu. Antusias peserta yang mengikuti jelajah kali ini sangat luar biasa banyaknya yang mencapai lebih dari 100 orang. Peserta yang ikut bukan hanya berasal dari Magelang saja tetapi ada yang dari Jogja dan Lampung. Setelah semua peserta melakukan pendaftaran ulang dan diberi petunjuk teknis mengenai pelaksanaan, peserta bersama - sama menuju Desa Banyuwangi tepat pukul 08.30 WIB.

Melihat yoni Sangubanyu

Balai Desa Banyuwangi yang berada di Kecamatan Bandongan menjadi tujuan pertama dalam jelajah kali ini. Di balai desa ini menjadi tempat untuk mengamankan beberapa temuan benda sejarah masa klasik yang sebelumnya tersebar di persawahan dan pekarangan rumah warga Dusun Sangubanyu. Benda - benda sejarah di dusun tersebut memang sudah ditemukan sejak puluh tahun yang lalu dan dibiarkan saja ditempatnya. Tetapi untuk keamanannya, benda - benda yang sebelumnya tersebar di Dusun Sangubanyu tersebut kemudian dikumpulkan di balai Desa Banyuwangi. Menurut admin tujuan pemindahan benda - benda tersebut untuk keamanan sudah baik, namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah sebelum dilakukan pemindahan benda - benda tersebut apakah sudah dilakukan pencatatan, pendokumentasian posisi dan letak benda - benda tersebut supaya bisa digunakan sebagai data jika suata saat dilakukan penelitian mengenai benda - benda tersebut? Pemindahan untuk keamanan secara serentak ini mungkin juga didorong atas kasus pencurian pada bagaian cerat yoni terbesar di Sangubanyu yang diduga kuat dibawah ceratnya terdapat binatang penyangganya.

Bekas rumah perjuangan

Tempat kunjungan berikutnya merupakan tempat bonusan karena bukan peninggalan pada masa klasik, namun tempat ini memiliki peran penting dalam perjuangan rakyat Indonesia. Kunjungan kedua adalah tempat tinggal lurah Trasan berupa rumah gebyok yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1920an. Rumah ini memiliki peran penting ketika agresi militer, pada waktu itu rumah yang juga difungsikan sebagai kantor kelurahan ini menjadi tempat para pejuang berkumpul untuk menyusun strategi penyerangan kepada Belanda yang berada di Kota Magelang. Rumah tersebut dipergunakan untuk berkumpul ketika malam hari, sedangkan pada waktu siang para pejuangnya bersembunyi ke Sumbing karena sering ada operasi dari pihak Belanda. Menurut pemilik rumah, rumah ini masih mempertahankan keasliannya kecuali pada genting dan lantai didalam rumah, sedangkan perabot dan hiasan di rumah masih ditempatkan pada posisi semula. Dihalaman rumah juga terdapat patung Pangeran Diponegoro yang kabarnya merupakan miniatur patung Diponegoro yang berada di Alun - Alun Kota Magelang.

Berpose di depan Masjid Baitul Muttaqien

Perjalanan hanya bergeser sedikit dari tempat tinggal lurah Trasan menuju Masjid Baitul Muttaqien yang berada di Barat Daya rumah pak lurah. Tempat ini masih merupakan tempat bonusan karena merupakan kunjungan pada peninggalan masa Islam. Yang menarik dari masjid ini adalah beredar kabar bahwa masjid ini berpindah tempat secara gaib 200 meter ke Timur dari lokasi awalnya. Menurut informasi, soko guru masjid ini dibuat dari tatal - tatal kayu dan dahulu di depan masjid terdapat kolam, namun karena bertambahnya jamaah masjid maka kolam tersebut dihilangkan dan dipergunakan untuk perluasan bangunan masjid. Dibelakang masjid juga masih terdapat makam - makam tua yang kabarnya ada makam pendiri masjid.
 
Para peserta jelajah

Kunjungan ke empat masih di Trasan namun sudah kembali lagi kepada peninggalan masa klasik yaitu watu gong Trasan. Watu gong Trasan ditemukan ditengah sawah kemudian dipindahkan didepan rumah penduduk dan di semen pada bagaian bawahnya agar tidak hilang dicuri orang. Penyebutan watu gong karena pada bagaian atasnya mirip bentuk gamelan yaitu gong. Tetapi pada aslinya watu gong adalah yoni yang berbentuk bulat dengan padma pada bagaian bawahnya. Jika melihat konsepnya dari India, yoni berbentuk lingkaran itu memang ada tetapi yoni berbentuk bulat ini di Indonesia sepertinya kurang menjadi trend karena hanya ada beberapa saja di Indonesia.

Meniliki yoni di pinggir sawah

Perjalanan dilanjutkan dengan melintasi jalan corblock diantara persawahan kemudian menuju daerah Kalegen. Di tengah perjalanan tiba - tiba leader berhenti dipinggir jalan dan para peserta berkumpul mengerubungi sebuah benda di pinggir jalan. Ya, tujuan selanjutnya adalah yoni berbentuk bulat lagi tetapi dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan watu gong Trasan. Karena letaknya yang dipinggir jalan maka kunjungan di tempat ini hanya sebentar saja.

Foto bareng di Candi Batur

Tempat tujuan berikutnya adalah Candi Batur yang berada di Windusari, tetapi untuk menuju tempat ini peserta dilewatkan rute pegunungan diantara Bukit Giyanti dan Gunung Sumbing dengan panorama alam yang luar biasa, tapi sayang waktu itu mendung. Untuk menuju Candi Batur perserta harus memparkirkan kendaraannya di perkampungan karena jalan paving yang dibuat karena pada waktu itu gubernur ingin mengunjungi Candi Batur tidak memungkinkan dilalui oleh banyak kendaraan. Candi Batur ini terletak di Timur puncak Bukit Sukorini yang masih merupakan gugusan Perbukitan Giyanti. Setelah mendapat penjelasan mengenai Candi Batur, para perta melakukan kegiatan wajib disetiap tempat yang dikunjungi yaitu berfoto bersama. Ada juga peserta yang berselfie ria, seperti slogannya www.dolan-dolan.net, "semangat #dolandolan dan jangan lupa #selfie".

Para peserta istirahat dan makan siang di Candi Selogriyo

Destinasi terakhir pada event kali ini adalah Candi Selogriyo yang berada di Windusari dan masih pada Perbukitan Giyanti. Untuk menuju candi ini para peserta diajak jalan kaki menyusuri Kali Selogriyo, tetapi karena cuaca tidak mendukung maka tracking akhirnya dilakukan dengan menyusuri jalur baru yang biasanya dapat dilalui kendaraan roda dua. Sesampainya di Candi Selogriyo para peserta bersama - sama makan siang dengan menu yang sudah disediakan. Setelah selesai melepas lelah para peserta berpose bersama dengan latar belakang Candi Selogriyo. Satu hal yang perlu diketahui bahwa kegiatan yang dilakukan di Candi Selogriyo ini sudah mendapatkan ijin dari BPCB Jawa Tengah.

Menyusuri persawahan Selogriyo

Sebelum peserta meninggalkan Candi Selogriyo, cuaca tiba - tiba cerah dan memungkinkan untuk melewati jalur yang berada didekat Kali Selogriyo dan para peserta banyak yang menginginkan hal tersebut maka pulangnya melewati jalur di tepi Kali Selogriyo. Tidak jarang ada peserta yang jatuh kesawah pada awalnya tetapi semuanya tetap bahagia karena persawahan di Selogriyo ini sangatlah luar biasa keindahannya dengan teras siringnya dan air sungai yang masih jernih karena dekat dengan mata air.

Hanya ini yang dapat admin share keteman - teman mengenai cerita ketika mengikuti jelajah situs dan candi di Bandongan & Windusari, jika ada kesalahan penyebutan dalam posting ini admin mohon maaf, tetap semangat #dolandolan dan jangan lupa #selfie.

Jumat, 06 Maret 2015

Melasti Ngobaran 1937 Saka

Posted by Unknown On 00.40 No comments
Peserta melasti datang membawa banten

Hindu adalah sebuah agama yang masuk ke Indonesia atas pengaruh dari India, setelah abad ke IV - XVI Masehi agama ini berkembang pesat di Indonesia terutama Jawa kemudian sampai Pulau Bali. Selepas abad XVI Masehi bukan berarti agama Hindu di Indonesia terus hilang, tetpi eksistensinya yang sebelumnya merajai Pulau Jawa mulai meredup dan berganti dengan kedatangan Islam. Umat Hindu masih berjumlah banyak di Pulau Bali pada kurun waktu berikutnya dan terjadi sedikit perubahan tempat ibadahnya, jika di Pulau Jawa pada abad IV - XVI Masehi menggunakan candi sebagai tempat ibadah, di Bali menggunakan pura sebagai tempat ibadah atau kuil. Kemudian pada perkembangannya pada kurun waktu yang lebih muda umat Hindu yang berada di Bali kembali ke Jawa lagi dan membangun pura untuk tempat ibadahnya walaupun umatnya tidak sebanyak seperti waktu pertama kali masuk ke Pulau Jawa.

Banyak pura yang tersebar di Pulau Jawa, di daerah Daerah Istimewa Yogyakarta juga terdapat banyak pura, salah satunya adalah Pura Segoro Wukir yang berada di Pantai Ngobaran, Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul. Menurut warga setempat sejarah berdirinya Pura Segoro wukir berawal dari Kerajaan Mataram Kuno yang berada di Jawa Tengah kemudian berpindah ke Jawa Timur kemudian menjadi Kerajaan Majapahit. Karena keberadaan Majapahit semakin terdesak (?) maka pindah ke Pulau Bali, setelah keadaan dirasa aman maka umat Hindu ingin kembali lagi ke tanah leluhurnya yaitu Pulau Jawa hingga sampailah di Pantai Ngobaran dengan mendirikan Pura Segoro Wukir.

Persiapan sesaji

Di dalam Agama Hindu banyak upacara keagamaan dan ritual yang sakral dan sangat menarik bagi orang awam, mulai dari peletakan sesaji, saraswati, tawuragung hingga melasti. Prosesi - prosesi tersebut dilakukan secara rutin ada yang harian hingga tahunan, misalnya menjelang Hari Raya Nyepi banyak upacara keagamaan yang dilakukan, salahsatunya adalah upacara melasti yang berarti mensucikan diri dari sifat = sifat buruk manusia. Melasti biasanya dilakukan di tempat yang dekat dengan air yang melimpah misalnya seperti laut dan danau. Karena lokasi Pura Segoro Wukir berada di Pantai Ngobaran maka pura ini selalu dipergunakan untuk melasti setiap tahunnya.

Labuhan pembuka

Sejak pagi hari umat Hindu yang berada di daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah berbondong - bondong mendatangi Pura Segoro Wukir sambil membawa banten untuk di letakkan pada tempat yang sama dengan peserta lainnya. Banten sendiri merupakan sebuah tempat untuk membawa sesaji berupa palawija baik yang ada di dalam tanah dan diatas tanah dan pohon karena kebanyakan umat Hindu yang berada di wilayah ini adalah petani. Walaupun cuaca pada saat itu hujan tetapi para peserta melasti tetap semangat untuk mengikuti jalannya melasti.
 
Setelah itu para peserta melasti memposisikan diri untuk sembahyang di tepi pantai, di belakang bangunan kecil mirip langgar tetapi menghadap ke laut. Ketika hari sudah mulai siang dan air laut mulai surut, labuhan pertama dilakukan oleh beberapa orang saja di bibir pantai dan mengambil air laut. Para pewarta foto dan pehobi foto juga ikut merapat ke bibir pantai untuk mendapatkan gambar terbaik versi mereka.

Setelah labuhan utama

Setelah labuahn pembuka selesai dilakukan, para perserta melasti sembahyangan lagi dan diberi siraman air suci. Kemudian barulah labuhan utama dilakukan, peserta malsti berbondong - bondong menuju bibir pantai untuk membasuh muka dengan air laut sebagai simbol pembersihan diri dari sifat - sifat buruk manusia. Selain itu 15 pura yang tersebar di daerah Daerah Istimewa Yogyakarta juga mengambil air untuk membersihkan sarana ibadah yang ada di puranya.

Sebuah info, pada Hari Minggu, 15 Maret 2015 akan diadakan melasti kedua di Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul.

Selasa, 24 Februari 2015

Kangen Dolan Ke Puncak Watu Amben

Posted by Unknown On 05.08 4 comments
Romantisme lampu senja dari Watu Amben

Puncak Watu Amben adalah sebuah tempat nongkrong yang memiliki atraksi wisata perpaduan keindahan alam dan kemerlap lampu kota. Keindahan alam yang disuguhkan di Puncak Watu Amben adalah berupa landscape yang terbentang dari Samudera Hindia sampai daerah Magelang, ada laut selatan di sebelah kiri, perbukitan menoreh, perbukitan sekitar Kali Progo, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, perbukitan di daerah Berbah. Sedangkan kemerlap lampu kota yang dapat dilihat dari tempat ini adalah lampu Kota Jogja, lampu - lampu jalanan di Bantul, Sleman,lampu di Kaliurang, lampu - lampu di perbukitan menoreh dan lampu - lampu di kaki Gunung Sumbing.

Dapat dibilang kalau Puncak Watu Amben atau Puncak WA ini merupakan salahsatu tempat favorit admin, sudah tidak bisa dihitung dengan jari lagi berapa kali admin dolan - dolan kesini. Pada postingan kali ini admin akan bercerita lagi mengenai keindahan Puncak Watu Amben ketika senja dan malam setelah beberapa hari sebelumnya di Daerah Istimewa Yogyakarta diguyur hujan lebat terus - menerus. Selain itu admin juga akan bercerita sedikit mengenai perkembangan Puncak Watu Amben yang lama - lama bisa menyaingi Bukit Bintang yang berada jauh dibawahnya.

Pemburu senja di Watu Amben

Rute menuju Watu Amben sangatlah mudah untuk diingat, jika dari Jogja, ambil ke arah Gunungkidul kemudian naik tanjakan Pathuk. Simpang empat Polsek Pathuk ambil arah ke kanan atau ke arah Dlingo, Imogiri, sedangkan jika ambil ke arah kiri menuju ke Embung Nglanggeran. Pertama kali admin ke Watu Amben adalah tahun 2011 yang pada waktu itu di tempat ini hanya ada sebuah warung yang berdiri. Pada waktu berikutnya muncullah dua warung sehingga pada akhir tahun 2011 menjadi 3 warung di area Puncak watu Amben. Kemudian semakin lama semakin banyak warung yang berada di Watu Amben hingga sebelum memasuki area Watu Amben juga sudah berdiri warung - warung makan di pinggir jalan. Walaupun belum memasuki area Watu Amben, terkadang warung - warung tersebut memiliki view yang lebih menjual.

Seiring bertambahnya warung makan, pertambahan fasilitas seperti toilet pada setiap warung dan tampungan air juga sudah ada. Selain itu salahsatu syarat sebagai wisata yang dijual pada malam hari juga sudah dipenuhi yaitu dengan adanya lampu yang dapat menerangi beberapa spot yang dapat digunakan oleh pasangan anak muda untuk berbuat hal - hal yang belum pantas untuk dilakukan.

Dua sejoli sedang menikmati keindahan lampu kota

Sekitar pukul 15.00 WIB biasanya pengunjung tempat ini mulai berdatangan, ada yang merupakan pasangan anak muda, perkumpulan teman - teman sekolah / kuliah, perkumpulan teman kerja, warga sekitar, keluarga dan ada juga wisatawan yang kebetulan lewat kemudian berhenti sejenak. Selain menyuguhkan lukisan senja yang luar biasa, ketika malam datang pemandangan dari tempat ini juga tak kalah luar biasanya. Pengunjung dapat melihat pesawat yang landing di Bandara Adi Sucipto, kalau cuaca mendukung kemerlap bintang juga dapat dilihat dari tempat ini.
Sebuah tips jika ingin mengunjungi tempat ini persiapkanlah jaket yang tebal karena semakin malam, di tempat ini akan terasa semakin dingin.

Sabtu, 21 Februari 2015

Seorang biksu berjalan munuju Vihara Bahtra Sasana

Pecinan adalah sebuah kawasan yang disana menjadi tempat tinggal orang - orang Tionghoa. Pecinan di Indonesia terbendtuk ketika pemerintahan Belanda di Indonesia, Belanda mngatur orang - orang Tionghoa untuk tinggal pada satu wilayah yang samasupaya Belanda mudah untuk mengatur mereka. Sedangkan dari orang - orang Tionghoa sendiri juga menginginkan mereka tinggal pada satu wilayah yang sama dengan alasan keaman dan untuk mempermudah komunikasi jika antar orang Tionghoa memerlukan bantuan.
 
Pecinan terdapat hampir di setiap kota di Indonesia. Banyak kota - kota besar di Indonesia yang di dalamnya terdapat kawasan Pecinan, misalnya kawasan pecinan Ketandan yang terdapat di Jogja, pecinan Muntilan, pecinan, Magelang, pecinan Semarang, Solo, Surabaya. Di luar Pulau Jawa juga terdapat kawasan pecinan seperti di Singkawang (Kalimantan Barat) dan di Tanjung Pinang (Kepulauan Riau).
 
Aktivitas perdagangan di pecinan Tanjung Pinang

Pada postingan kali ini admin akan sharing mengenai pengelaman admin ketika berkesempatan mengunjungi Kota Tanjung Pinang. Kota Tanjung Pinang sendiri adalah kota yang berada di Pulau Bintan dan merupakan Ibu Kota Propinsi Kepulauan Riau, salahsatu wisata andalan dari Kota Tanjung Pinang adalah Pulau Penyengat yang menurut orang Tanjung Pinang merupakan tempat lahirnya Bahasa Melayu. Tetapi yang akan di ceritakan disini bukan mengenai Pulau Penyengat melainkan mengenai Pecinan di Tanjung Pinang.

Dalam sebuah kawasan pecinan biasanya terdapat Klenteng sebagai tempat ibadah. Di tanjung Pinang ini terdapat sebuah klenteng dengan nama Vihara Bahtra Sasana yang terdapat di tengah kawasan pecinan. Ornamen naga menghiasi genting klenteng ini, puluhan hingga ratusan burung merpati yang mencari makan di pagi hari terdapat di halaman klenteng ini juga. Seorang biksu juga admin jumpai sedang masuk ke dalam klenteng. Di halaman klenteng yang dibangun oleh orang - orang Tionghoa sekitar tahun 1857 juga terdapat patung Dewi Kwan Im.

Kotak dengan tulisan Cina

Terlepas dari klenteng, aktivitas di Pecinan biasanya perdagangan. Mulai dari kebutuhan pokok, kebutuhan khusus hingga kebutuhan mewah juga terdapat di pecinan ini. Misalnya ada yang jualan bahan makanan, buku, tas sekolah, alat komunikasi, hingga perhiasan. Tapi dalam aktivitas perdagangan di Pecinan Tanjung Pinang ada yang menarik yaitu bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi adalah bahasa Cina. Awalnya admin hanya mengira beberapa orang saja yang menggunakan bahasa Cina dalam aktivitasnya, tetapi setelah berjalan - jalan di pecinan ternyata semua orang Tionghoa menggunakan Bahasa Cina. Sebenarnya admin ingin menanyakan apa Bahasa Cinanya dolan - dolan, tetapi karena kurangnya perbendaharaan kata admin maka admin pilih mengurungkan niat itu.
 
Bukan hanya baha keseharian yang menggunakan Bahasa Cina, tetapi ada orang yang membawa kotak dengan gerobag dorong dan tulisan kotak tersebut menggunakan huruf Cina. Dari awalnya admin merasa Pecinan Tanjung Pinang hampir mirip dengan pecinan di tempat lain, sekarang admin jadi tertarik untuk menjelajah lebih jauh lagi di Pecinan Tanjung Pinang dan berharap menemukan fenomena menarik lainnya.
 
Pada malam harinya admin mendapatkan info salahsatu tempat makan yang favorit yaitu Pinang Citywalk yang disana merupakan tempat orang Tiuonghoa makan malam. Tempatnya cukup nyaman, luas dan bersih. Disini terdapat hal menarik lagi yaitu di Pinang Citywalk terdapat sebuah panggung hiburan dengan lagu - lagu berbahasa Cina.
 
Itulah sedikit hal menarik yang admin temui ketika admin berkesempatan dolan - dolan ke Pecinan Tanjung Pinang, admin minta maaf jika ada kesalahan penyebutan dalam posting kali ini, tetap semangat salam #dolandolan.

Site search