Minggu, 22 Maret 2015

Penjelasan mengenai teknis pelaksanaan acara dilakukan di halaman Museum BPK

Sebuah event tahunan yang diadakan oleh Komunitas Kota Toea Magelang pada awal tahun adalah jelajah situs dan candi yang pada tahun 2015 ini sudah memasuki seri ke empat yang diadakan di daerah Bandongan dan Windusari. Sebelumnya sudah diadakan seri pertama di Secang, seri kedua di Temanggung dan seri ketiga di Sengi hingga Muntilan. Jelajah seri empat ini diadakan pada Hari Sabtu, 21 Maret 2015 dengan titik kumpul di halaman museum BPK kompleks bekas kantor Karesidenan Kedu. Antusias peserta yang mengikuti jelajah kali ini sangat luar biasa banyaknya yang mencapai lebih dari 100 orang. Peserta yang ikut bukan hanya berasal dari Magelang saja tetapi ada yang dari Jogja dan Lampung. Setelah semua peserta melakukan pendaftaran ulang dan diberi petunjuk teknis mengenai pelaksanaan, peserta bersama - sama menuju Desa Banyuwangi tepat pukul 08.30 WIB.

Melihat yoni Sangubanyu

Balai Desa Banyuwangi yang berada di Kecamatan Bandongan menjadi tujuan pertama dalam jelajah kali ini. Di balai desa ini menjadi tempat untuk mengamankan beberapa temuan benda sejarah masa klasik yang sebelumnya tersebar di persawahan dan pekarangan rumah warga Dusun Sangubanyu. Benda - benda sejarah di dusun tersebut memang sudah ditemukan sejak puluh tahun yang lalu dan dibiarkan saja ditempatnya. Tetapi untuk keamanannya, benda - benda yang sebelumnya tersebar di Dusun Sangubanyu tersebut kemudian dikumpulkan di balai Desa Banyuwangi. Menurut admin tujuan pemindahan benda - benda tersebut untuk keamanan sudah baik, namun yang menjadi pertanyaan adalah apakah sebelum dilakukan pemindahan benda - benda tersebut apakah sudah dilakukan pencatatan, pendokumentasian posisi dan letak benda - benda tersebut supaya bisa digunakan sebagai data jika suata saat dilakukan penelitian mengenai benda - benda tersebut? Pemindahan untuk keamanan secara serentak ini mungkin juga didorong atas kasus pencurian pada bagaian cerat yoni terbesar di Sangubanyu yang diduga kuat dibawah ceratnya terdapat binatang penyangganya.

Bekas rumah perjuangan

Tempat kunjungan berikutnya merupakan tempat bonusan karena bukan peninggalan pada masa klasik, namun tempat ini memiliki peran penting dalam perjuangan rakyat Indonesia. Kunjungan kedua adalah tempat tinggal lurah Trasan berupa rumah gebyok yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1920an. Rumah ini memiliki peran penting ketika agresi militer, pada waktu itu rumah yang juga difungsikan sebagai kantor kelurahan ini menjadi tempat para pejuang berkumpul untuk menyusun strategi penyerangan kepada Belanda yang berada di Kota Magelang. Rumah tersebut dipergunakan untuk berkumpul ketika malam hari, sedangkan pada waktu siang para pejuangnya bersembunyi ke Sumbing karena sering ada operasi dari pihak Belanda. Menurut pemilik rumah, rumah ini masih mempertahankan keasliannya kecuali pada genting dan lantai didalam rumah, sedangkan perabot dan hiasan di rumah masih ditempatkan pada posisi semula. Dihalaman rumah juga terdapat patung Pangeran Diponegoro yang kabarnya merupakan miniatur patung Diponegoro yang berada di Alun - Alun Kota Magelang.

Berpose di depan Masjid Baitul Muttaqien

Perjalanan hanya bergeser sedikit dari tempat tinggal lurah Trasan menuju Masjid Baitul Muttaqien yang berada di Barat Daya rumah pak lurah. Tempat ini masih merupakan tempat bonusan karena merupakan kunjungan pada peninggalan masa Islam. Yang menarik dari masjid ini adalah beredar kabar bahwa masjid ini berpindah tempat secara gaib 200 meter ke Timur dari lokasi awalnya. Menurut informasi, soko guru masjid ini dibuat dari tatal - tatal kayu dan dahulu di depan masjid terdapat kolam, namun karena bertambahnya jamaah masjid maka kolam tersebut dihilangkan dan dipergunakan untuk perluasan bangunan masjid. Dibelakang masjid juga masih terdapat makam - makam tua yang kabarnya ada makam pendiri masjid.
 
Para peserta jelajah

Kunjungan ke empat masih di Trasan namun sudah kembali lagi kepada peninggalan masa klasik yaitu watu gong Trasan. Watu gong Trasan ditemukan ditengah sawah kemudian dipindahkan didepan rumah penduduk dan di semen pada bagaian bawahnya agar tidak hilang dicuri orang. Penyebutan watu gong karena pada bagaian atasnya mirip bentuk gamelan yaitu gong. Tetapi pada aslinya watu gong adalah yoni yang berbentuk bulat dengan padma pada bagaian bawahnya. Jika melihat konsepnya dari India, yoni berbentuk lingkaran itu memang ada tetapi yoni berbentuk bulat ini di Indonesia sepertinya kurang menjadi trend karena hanya ada beberapa saja di Indonesia.

Meniliki yoni di pinggir sawah

Perjalanan dilanjutkan dengan melintasi jalan corblock diantara persawahan kemudian menuju daerah Kalegen. Di tengah perjalanan tiba - tiba leader berhenti dipinggir jalan dan para peserta berkumpul mengerubungi sebuah benda di pinggir jalan. Ya, tujuan selanjutnya adalah yoni berbentuk bulat lagi tetapi dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan dengan watu gong Trasan. Karena letaknya yang dipinggir jalan maka kunjungan di tempat ini hanya sebentar saja.

Foto bareng di Candi Batur

Tempat tujuan berikutnya adalah Candi Batur yang berada di Windusari, tetapi untuk menuju tempat ini peserta dilewatkan rute pegunungan diantara Bukit Giyanti dan Gunung Sumbing dengan panorama alam yang luar biasa, tapi sayang waktu itu mendung. Untuk menuju Candi Batur perserta harus memparkirkan kendaraannya di perkampungan karena jalan paving yang dibuat karena pada waktu itu gubernur ingin mengunjungi Candi Batur tidak memungkinkan dilalui oleh banyak kendaraan. Candi Batur ini terletak di Timur puncak Bukit Sukorini yang masih merupakan gugusan Perbukitan Giyanti. Setelah mendapat penjelasan mengenai Candi Batur, para perta melakukan kegiatan wajib disetiap tempat yang dikunjungi yaitu berfoto bersama. Ada juga peserta yang berselfie ria, seperti slogannya www.dolan-dolan.net, "semangat #dolandolan dan jangan lupa #selfie".

Para peserta istirahat dan makan siang di Candi Selogriyo

Destinasi terakhir pada event kali ini adalah Candi Selogriyo yang berada di Windusari dan masih pada Perbukitan Giyanti. Untuk menuju candi ini para peserta diajak jalan kaki menyusuri Kali Selogriyo, tetapi karena cuaca tidak mendukung maka tracking akhirnya dilakukan dengan menyusuri jalur baru yang biasanya dapat dilalui kendaraan roda dua. Sesampainya di Candi Selogriyo para peserta bersama - sama makan siang dengan menu yang sudah disediakan. Setelah selesai melepas lelah para peserta berpose bersama dengan latar belakang Candi Selogriyo. Satu hal yang perlu diketahui bahwa kegiatan yang dilakukan di Candi Selogriyo ini sudah mendapatkan ijin dari BPCB Jawa Tengah.

Menyusuri persawahan Selogriyo

Sebelum peserta meninggalkan Candi Selogriyo, cuaca tiba - tiba cerah dan memungkinkan untuk melewati jalur yang berada didekat Kali Selogriyo dan para peserta banyak yang menginginkan hal tersebut maka pulangnya melewati jalur di tepi Kali Selogriyo. Tidak jarang ada peserta yang jatuh kesawah pada awalnya tetapi semuanya tetap bahagia karena persawahan di Selogriyo ini sangatlah luar biasa keindahannya dengan teras siringnya dan air sungai yang masih jernih karena dekat dengan mata air.

Hanya ini yang dapat admin share keteman - teman mengenai cerita ketika mengikuti jelajah situs dan candi di Bandongan & Windusari, jika ada kesalahan penyebutan dalam posting ini admin mohon maaf, tetap semangat #dolandolan dan jangan lupa #selfie.

Jumat, 06 Maret 2015

Melasti Ngobaran 1937 Saka

Posted by Unknown On 00.40 No comments
Peserta melasti datang membawa banten

Hindu adalah sebuah agama yang masuk ke Indonesia atas pengaruh dari India, setelah abad ke IV - XVI Masehi agama ini berkembang pesat di Indonesia terutama Jawa kemudian sampai Pulau Bali. Selepas abad XVI Masehi bukan berarti agama Hindu di Indonesia terus hilang, tetpi eksistensinya yang sebelumnya merajai Pulau Jawa mulai meredup dan berganti dengan kedatangan Islam. Umat Hindu masih berjumlah banyak di Pulau Bali pada kurun waktu berikutnya dan terjadi sedikit perubahan tempat ibadahnya, jika di Pulau Jawa pada abad IV - XVI Masehi menggunakan candi sebagai tempat ibadah, di Bali menggunakan pura sebagai tempat ibadah atau kuil. Kemudian pada perkembangannya pada kurun waktu yang lebih muda umat Hindu yang berada di Bali kembali ke Jawa lagi dan membangun pura untuk tempat ibadahnya walaupun umatnya tidak sebanyak seperti waktu pertama kali masuk ke Pulau Jawa.

Banyak pura yang tersebar di Pulau Jawa, di daerah Daerah Istimewa Yogyakarta juga terdapat banyak pura, salah satunya adalah Pura Segoro Wukir yang berada di Pantai Ngobaran, Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul. Menurut warga setempat sejarah berdirinya Pura Segoro wukir berawal dari Kerajaan Mataram Kuno yang berada di Jawa Tengah kemudian berpindah ke Jawa Timur kemudian menjadi Kerajaan Majapahit. Karena keberadaan Majapahit semakin terdesak (?) maka pindah ke Pulau Bali, setelah keadaan dirasa aman maka umat Hindu ingin kembali lagi ke tanah leluhurnya yaitu Pulau Jawa hingga sampailah di Pantai Ngobaran dengan mendirikan Pura Segoro Wukir.

Persiapan sesaji

Di dalam Agama Hindu banyak upacara keagamaan dan ritual yang sakral dan sangat menarik bagi orang awam, mulai dari peletakan sesaji, saraswati, tawuragung hingga melasti. Prosesi - prosesi tersebut dilakukan secara rutin ada yang harian hingga tahunan, misalnya menjelang Hari Raya Nyepi banyak upacara keagamaan yang dilakukan, salahsatunya adalah upacara melasti yang berarti mensucikan diri dari sifat = sifat buruk manusia. Melasti biasanya dilakukan di tempat yang dekat dengan air yang melimpah misalnya seperti laut dan danau. Karena lokasi Pura Segoro Wukir berada di Pantai Ngobaran maka pura ini selalu dipergunakan untuk melasti setiap tahunnya.

Labuhan pembuka

Sejak pagi hari umat Hindu yang berada di daerah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah berbondong - bondong mendatangi Pura Segoro Wukir sambil membawa banten untuk di letakkan pada tempat yang sama dengan peserta lainnya. Banten sendiri merupakan sebuah tempat untuk membawa sesaji berupa palawija baik yang ada di dalam tanah dan diatas tanah dan pohon karena kebanyakan umat Hindu yang berada di wilayah ini adalah petani. Walaupun cuaca pada saat itu hujan tetapi para peserta melasti tetap semangat untuk mengikuti jalannya melasti.
 
Setelah itu para peserta melasti memposisikan diri untuk sembahyang di tepi pantai, di belakang bangunan kecil mirip langgar tetapi menghadap ke laut. Ketika hari sudah mulai siang dan air laut mulai surut, labuhan pertama dilakukan oleh beberapa orang saja di bibir pantai dan mengambil air laut. Para pewarta foto dan pehobi foto juga ikut merapat ke bibir pantai untuk mendapatkan gambar terbaik versi mereka.

Setelah labuhan utama

Setelah labuahn pembuka selesai dilakukan, para perserta melasti sembahyangan lagi dan diberi siraman air suci. Kemudian barulah labuhan utama dilakukan, peserta malsti berbondong - bondong menuju bibir pantai untuk membasuh muka dengan air laut sebagai simbol pembersihan diri dari sifat - sifat buruk manusia. Selain itu 15 pura yang tersebar di daerah Daerah Istimewa Yogyakarta juga mengambil air untuk membersihkan sarana ibadah yang ada di puranya.

Sebuah info, pada Hari Minggu, 15 Maret 2015 akan diadakan melasti kedua di Pantai Parangkusumo, Kabupaten Bantul.

Site search