Minggu, 26 Juli 2015

Selfie yang ngehits

Selfie adalah sebuah istilah yang ngetrend saat ini atau dalam media sosial disebut kekinian. Sebenarnya selfie sudah ada sebelum tahun 2000, tetapi fenomena selfie menjadi kekinian di Indonesia setelah ada fitur kamera pada ponsel. Awalnya di Indonesia selfie banyak dilakukan oleh kaum hawa dengan membuat foto diri dengan angel dari atas, terkadang bibirnya ada yang dimaju-majuin. Tetapi pada waktu yang lebih muda selfie dengan cara seperti itu menjadi bahan bully di media sosial dengan sebutan foto alay. Ada orang yang berhenti membuat foto alay setelah mendapat bully tetapi ada juga yang masih bertahan sampai saat ini.
 
Fenomena selfie pada akhir-akhir ini muncul kembali dengan dukungan tehnologi kamera hand phone yang semakin canggih. Jika pada tahun 2008 hand phone sudah memiliki kamera depan untuk keperluan video call, maka tahun 2013 hand phone atau telepon selular muncul dengan kamera depan untuk keperluan foto selfie. Awalnya kamera depan pada hand phone hanya beresolusi kecil dan terlalu sempit untuk ukuran framenya. Maka muncullah sebuah aksesoris yang diberi nama tongsis atau tongkat narsis. Kemunculan tongsis di Indonesia sudah ada sejak pertengahan tahun 2013 yang di distribusikan secara online oleh kakak beradik kelahiran negara matahari terbit yang sekarang berdomisili di Jakarta.

Tetapi karena semakin hari hand phone semakin canggih maka kamera depan pada ponsel memiliki resolusi yang tinggi bahkan memiliki ukuran yang lebar pada tiap framenya / wide lens. Kemajuan teknologi pada kamera depan hand phone tidak main-main, pada awal 2014 muncul hand phone dengan kamera depan yang didukung dengan fitur flash untuk mendukung kegiatan selfie di malam hari. Kemudian hasil dari foto-foto selfie biasanya diunggah pada akun media sosial si pelaku selfie dan menjadikan orang yang melihatnya ingin dolan ke tempat dimana mereka melakukan selfie.
 
Efeknya positifnya bisa mengangkat tempat tersebut sehingga dapat meningkatkan ekonomi warga setempat yang daerahnya dipergunakan untuk selfie. Selain itu juga dapat membuka lapangan pekerjaan baru. Sedangkan efek negatifnya jika pengelola belum siap yang terjadi adalah kerusakan lingkungan pada tempat selfie tersebut karena ulah pengunjung yang ringan tangan, ringan tangan disini adalah membuang sampah sembarangan.

Gapura top selfie

Di Kragilan,Pogalan, Pakis, Kabupaten Magelang terdapat sebuah tempat wisata yang ngehits karena foto selfienya yang di upload di media sosial. Sebuah tempat yang berada tidak jauh dari Ketep Pass, namanya adalah "Top Selfie". Sebuah tulisan pada gapura sederhana yang cukup membuat admin kaget ketika memasuki kawasan wisata tersebut.

Rute menuju wisata Top Selfie dapat melewati Ketep Pass naik ke arah Utara terus atau ke arah Kopeng. Di sebuah tikungan dan jalan turunan ada sebuah corblok yang diatasnya terdapat gapuran bertuliskan "Top Selfie Pinusan Kragilan" kemudian masuk mengikuti jalan corblok. Di dekat gapura juga sudah ada pengelola yang membantu mengatur lalu lintas keluar masuk pengunjung.

Tempat parkir yang luas

Setelah memasuki gapura sedrhana Top Selfie, ada retribusi parkir sebesar Rp 2.000 untuk motor, Rp 5.000 untuk mobil. Setelah melewati retribusi parkir akan ada banyak orang yang berfoto ataupun duduk di tengah jalan. Diujungnya sudah disediakan tempat-tempat parkir yang sangat luas sampai ke tengah hutan pinus. Pengelola juga sudah membatu untuk mengatur penataan kenadaraan dan lalu lintas keluar masuknya kendaraan karena setiap waktu selalu ada kendaraan masuk dan kendaraan keluar.
 
Flare matahari di hutan pinus

Karena wisatanya adalah hutan pimus tentunya ada banyak pohon pinus. Dalam fotografi yang menarik didalam hutan adalah flare matahari yang dapat terlihat dari sela-sela ranting pohon. Tetapi sayanganya flare tersebut tidak bisa admin dapatkan tepat di atas hutan karena wkatu itu hari sudah mulai sore dan matahari sudah mulai condong ke arah Barat.

Dua sejoli

Dimanapun yang dinamakan tempat wisata biasanya digunakan untuk mempererat hubungan antar dua anak manusia atau pacaran. Disepanjang jalan pinusan kragilan, banyak dijumpai pasangan muda-mudi yang sedang duduk berduaan, jalan-jalan. Tetapi tidak sedikit juga yang berwisata ke pinusan kragilan bersama keluarga lengkap. Intinya berwisata untuk merefresh kembali pikiran setelah melakukan rutinitasnya.

Itulah sedikiit cerita dari Top Selfie Pinusan Kragilan yang dapat admin bagikan kepada konco dolan. Mohon maaf jika terjadi kesalahan dalam penulisan tempat. Jangan pernah bangga dolan sampai luar negeri jika tidak mengenal Indonesia, tetap semangat #dolandolan jangan lupa #selfie dan #jangannyampah

Rabu, 22 Juli 2015

Dolan Ke Gereja Ayam Borobudur

Posted by Unknown On 03.27 No comments
Halaman gereja burung

Borobudur sebuah nama tempat yang mendunia karena disana terdapat Candi Borobudur, sebuah candi berlatarbelakang agama Budha yang terbesar di Indonesia dan terbesar kedua di dunia. Banyak turis yang mengunjungi Borobudur baik turis lokal maupun luar. Dahulu memang awalnya para turis mengunjungi Borobudur untuk melihat keindahan Candi Borobudur, tetapi sejak tahun 1970an kunjungan tersebut ada yang memiliki tujuan beribadah pada Hari Raya Waisak.

Dimasa kini, daya tarik daerah Borobudur bukan terletak pada Candi Borobudur saja karena disekitarnya sudah mulai tumbuh tempat-tempat wisata baru seperti Desa Wisata Candirejo, wisata gerabah Klipoh, omah kamera, tempat-tempat sunrise seperti Manohara Sunrise, Plataran, Aman Jiwo, Punthuk Setumbu, Purwosari / Cemuris, Pos Mati, Eden Sunrise, Sukmojoyo, Watu Kendil, Gunung Kendil / Gupakan, dan masih banyak tempat sunrise lain yang saat ini mulai dibuka. Di wilayah Borobudur ada sebuah bangunan yang sangat unik yang terletak diatas bukit yang sangat wajib untuk dikunjungi yaitu Gereja Ayam / Gereja Burung.

Jalan corblok menuju bukir rhema

Bangunan unik tersebut menimbulkan banyak tafsir mengenai binatang apa yang menjadi inspirasi arsitekturnya. Ada yang menafsirkan sebagai ayam, ada juga yang menafsirkan sebagai burung / manuk (bahasa jawa). Tetapi dalam postingan ini admin akan membuat kesepakatan untuk menyebut bangunan ini dengan subutan gereja ayam karena selain memiliki mahkota diatas kepala seperti jengger ayam, pada belakangnya juga terdapat bulu-bulu seperti ekor ayam. Karena jika bulu tersebut keatas biasanya bulu ekor ayam tetapi jika bulu tersebut kebawah maka bulu ekor burung.
 
Ada sebuah versi cerita mengenai sejarah pembangunan gereja ayam ini. Cerita ini admin dapatkan dari salah seorang penduduk lokal ketika admin mencari lokasi gereja tersebut. Kabarnya dahulu tahun 1990an ada seorang Tionghoa yang kaya raya yang jatuh cinta pada seorang gadis lokal. Akhirnya untuk menikahinya orang Tionghoa tersebut membelikan tanah seluas satu bukit (bukit rhema) yang sertifikat tanahnya tidak bisa dimiliki satu orang saja kemudian membangun gereja diatas bukit tersebut. Ketika pembangunan hampir selesai, pembangunan dihentikan oleh pemerintah daerah setempat karena tidak memiliki ijin untuk membangun akhirnya gereja ayam tersebut hanya berbentuk seperti sekarang ini. Satu hal yang perlu diingat, ini hanyalah sebuah versi cerita, mungkin masih ada versi cerita lain lagi mengenai keberadaan gereja ayam tersebut.

Untuk menuju ke gereja ayam yang berada di Dusun Gombong, Desa Kembanglimur, Kecamatan Borobudur dapat melewati pertigaan ojek borobudur ke arah Selatan kemudian perempatan arah Punthuk Setumbu ambil ke kanan mingikuti jalan utama searah dengan Punthuk Setumbu. Sampai SD Karangrejo ada belokan arah kanan ambil kanan mengikuti jalan utama sampai tikungan pertigaan, ambil jalan kiri menanjak. Kemudian ikuti jalan utama kemudian ambil kanan ikuti jalan utama kemudian ambil kiri lurus. Sebelum perempatan kecil ada tulisan parkir. Dari tempat penitipan kendaraan tinggal berjalan sekitar 5 menit mengikuti jalan cor blok menanjak.

Tangga naik menuju kepala ayam

Setelah berjalan melewati jalan cor blok,bangunan gereja unik berbentuk ayam sudah dapat terlihat menghadap ke arah Timur ke arah Candi Borobudur. Sejak gereja ayam ini dikenal masyarakat luas, banyak orang yang menggunakan tempat ini untuk bolos sekolah, mesum tetapi ada juga yang menggunakannya untuk hal positif seperti prewedding karena penikahan adalah ibadah. Dahulu tempat ini tidak dikelola sehingga hanya ada dua pilihan untuk memasukinya, yang pertama lompat jendela belakang atau melalui ruangan bawah tanah yang lembab dan 'kotor'. Tetapi awal tahun 2015 tempat ini sudah mulai dikelola dengan membuka akses di sati jalan saja dengan menjebol salah satu dinding kemudian memberinya pintu kemudian menutup semua akses masuk supaya tidak dipergunakan untuk hal-hal negatif lagi.

Untuk menuju kepala ayam juga sudah diberikan akses yang lebih nyaman dengan disediakan tangga dari kayu yang sudah dapat dinaiki dari dasar hingga ke mahkotanya. Untuk menaiki tangga tersebut, pengunjung diminta untuk memberikan dana perawatan sebesar Rp 5.000,00 perorang. Selain itu, disamping tangga masuk juga ada penjual makanan dan minuman yang bisa digunakan sebagai obat perut lapar dan tenggorokan haus, tetapi ingat tetap harus menjaga kebersihan walaupun sudah dikenakan biaya perawatan.

View Candi Borobudur dan bukit dagi dari moncong ayam

Perjalanan menuju atas mahkota ayam terhenti di mocong atau mulut ayam karena Candi Borobudur dan Bukit Dagi dapat terlihat dengan jelas dari posisi ini. Hanya satu hal yang disayangkan karena Gunung Merapi dan Merbabu tidak dapat terlihat dengan jelas. Tempat ini memang potensial untuk dijadikan sebagai tempat sunrise tetapi menurut pengelola tempat ini huka mulai pukul 08.00 WIB, sedangkan pada Hari Sabtu dan Minggu buka lebih awal yaitu pukul 06.00 WIB. Admin mengharap ada keajaiban lagi, semoga admin memiliki kesempatan untuk masuk ketempat tersebut lebih awal sehingga admin dapat mengabadikan sunrise dari gereja ayam tersebut.

Punthuk Setumbu terlihat dari atas mahkota ayam

Purwosari / Cemuris terlihat dari atas mahkota ayam

Akhirnya samoailah diatas mahkota ayam, sebuah pemandangan yang menakjubkan dapat dilihat dari tempat tersebut. Selain Candi Borobudur, Bukit Dagi, Gunung Merapi, Merbabu, dapat juga untuk melihat Gunung Sumbing, Puncak Suroloyo dan perbukitan Menoreh karena tempat tersebut masih merupakan gugusan Bukit Menoreh. Sebuah tempat untuk memburu sunrise yang cukup terkenal juga dapat dilihat dari atas mahkota ayam yaitu Punthuk Setumbu dan Bukit Purwosari / Cemuris.

Itulah sedikiit cerita dari gereja ayam Bukit Rhema Borobudur yang dapat admin bagikan kepada konco dolan. Mohon maaf jika terjadi kesalahan dalam penulisan tempat. Jangan pernah bangga dolan sampai luar negeri jika tidak mengenal Indonesia, tetap semangat #dolandolan jangan lupa #selfie dan #jangannyampah

Minggu, 19 Juli 2015

Persiapan di keben

Hari Raya Idul Fitri banyak disebut-sebut orang sebagai hari kemenangan dan sejak hari itulah seperti terlahir kembali. Banyak cara untuk merayakan hari kemenangan tersebut, ada yang dengan bersilaturahmi sambil bermaaf-maafan dengan saudara sampai bagi-bagi angpau. Di Daerah Istimewa Yogyakarta ada sebuah tradisi yang berlangsung turun-trmurun sejak Sri Sultan Hamengkubuwono I yang bersedekah kepada rakyatnya. Sedekah ini dilakukan dengan cara membagikan hasil bumi kepada seluruh masyarakat yang dikemas dalam bentuk gunungan.

Tradisi ini dikenal masyarakat luas dengan nama grebeg syawal, dinamakan grebeg syawal karena diadakannya pada Bulan Syawal. Selain grebeg syawal masih ada lagi grebeg besar yang dilakukan pada waktu Idul Adha, grebeg maulud yang diadakan pada Bulan Maulud. Prosesi grebeg syawal dan besar tidak diawali dengan prosesi lain, tetapi pada grebeg maulud diawali dengan miyos gongso, sekaten, numplak wajik, kundhur gongso kemudian baru grebeg dan ditutup dengan wayangan.
 
Pada tahun ini grebeg syawal diadakan pada Hari Sabtu, 18 Juli 2015 yang diawali dengan persiapan di Keben Kraton Ngayogyakarta. Sejak pagi masyarakat sudah berdatangan ke Keben untuk melihat secara langsung prosesi grebeg syawal tersebut. Para abdi dalem kraton juga sudah mulai bersiap untuk nantinya mengawal gunungan yang dikeluarkan raja untuk masyarakat.
 
Langkah di bawah terik matahari

Sekitar pukul 08.00 WIB, prajurit kraton mulai berdatangan memasuki halaman Keben untuk bersiap mengawal gunungan. Diawali dengan suara musik yang menjadi cirikhas setiap prajurit, semakin siang halaman keben semakin padat. Walaupun usia sudah senja dan banyak uban dikepala, para prajurit tetap gagah membawa senjata untuk tetap menjaga tradisi yang dilakukan secara turun-temurun ini. Demi keamanan bersama, masyarakat yang menonton diminta untuk menepi supaya tidak menghalangi para prjurit yang sedang berbaris ini karena jarak antar prajurit sudah disesuaikan dan tidak bisa dipersempit lagi karena yang dibawa adalah senjata asli bukan mainan.
 
Prajurit Kraton

Setelah semua prajurit berkumpul di Keben, semua prajurit satupersatu berbaris menuju siti hinggil lor (utara) sebagai persiapan sebelum keluar ke pagelaran kraton kemudian menuju ketempat dimana nanti gunungan akan dibagikan.

Gunungan kakung keluar dari pagelaran

Sekitar pukul 10.00 WIB apa yang sudah ditunggu-tunggu akhir keluar. Setelah diawali dengan para prajurit yang keluar dari pagelaran kraton akhirnya sebuah gunungan kakung (laki-laki) mengawali keluarnya 6 gunangan lain. Pada grebeg syawal ini mengeluarkan 3 gunungan kakung, 1 gunungan wadon, 1 gunungan gepak, 1 gunungan pawuhan, 1 gunungan darat.

Gunungan Kakung menuju Masjid Agung melewati Alun-Alun Utara

7 buah gunungan tersebut dibawa ke 3 tempat yang berbeda, 1 gunungan kakung dibawa ke Pura Pakualaman, 1 gunungan kakung dibawa ke kepatihan malioboro (kantor gubernur) kemudian sisanya dibawa ke Masjid Agung Yogyakarta. Masyarakat tetap antusias mengikuti gunungan yang akan dibawa ke Masjid Agung walaupun jalan yang dilewati berdebu.

Kacang terbang

Setelah 5 buah gunungan sampai di halaman Masjid Agung, masyarakat langsung menyerbunya untuk berebut hasil bumi yang dikeluarkan oleh kraton. Orang yang berhasil memanjat gunungan terlebih dulu biasanya langsung mengambil hasil bumi kemudian melemparkannya kekerumunan penonton supaya penonton lain juga dapat memperolehnya. Ada penonton yang mempercayainya juka mendapat hasil bumi tersebut bisa mendapat berkah tetapi ada juga yang menganggapnya sebagai hal senang-senang saja. Tetapi yang jelas diadakannya acara grebeg adalah raja sedekah kepada masyarakat.

Hanya sebatas itulah yang dapat admin ceritakan untuk konco dolan semuanya, mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan tempat. Selamat Idul Fitri 1436 H, maaf lahir dan batin, meminta maaf itu mudah tetapi memaafkan dengan iklas itu yang susah. Tetap semangat #dolandolan dan jangan lupa #selfie

Site search