Rabu, 22 Juli 2015

Dolan Ke Gereja Ayam Borobudur

Posted by Unknown On 03.27 No comments
Halaman gereja burung

Borobudur sebuah nama tempat yang mendunia karena disana terdapat Candi Borobudur, sebuah candi berlatarbelakang agama Budha yang terbesar di Indonesia dan terbesar kedua di dunia. Banyak turis yang mengunjungi Borobudur baik turis lokal maupun luar. Dahulu memang awalnya para turis mengunjungi Borobudur untuk melihat keindahan Candi Borobudur, tetapi sejak tahun 1970an kunjungan tersebut ada yang memiliki tujuan beribadah pada Hari Raya Waisak.

Dimasa kini, daya tarik daerah Borobudur bukan terletak pada Candi Borobudur saja karena disekitarnya sudah mulai tumbuh tempat-tempat wisata baru seperti Desa Wisata Candirejo, wisata gerabah Klipoh, omah kamera, tempat-tempat sunrise seperti Manohara Sunrise, Plataran, Aman Jiwo, Punthuk Setumbu, Purwosari / Cemuris, Pos Mati, Eden Sunrise, Sukmojoyo, Watu Kendil, Gunung Kendil / Gupakan, dan masih banyak tempat sunrise lain yang saat ini mulai dibuka. Di wilayah Borobudur ada sebuah bangunan yang sangat unik yang terletak diatas bukit yang sangat wajib untuk dikunjungi yaitu Gereja Ayam / Gereja Burung.

Jalan corblok menuju bukir rhema

Bangunan unik tersebut menimbulkan banyak tafsir mengenai binatang apa yang menjadi inspirasi arsitekturnya. Ada yang menafsirkan sebagai ayam, ada juga yang menafsirkan sebagai burung / manuk (bahasa jawa). Tetapi dalam postingan ini admin akan membuat kesepakatan untuk menyebut bangunan ini dengan subutan gereja ayam karena selain memiliki mahkota diatas kepala seperti jengger ayam, pada belakangnya juga terdapat bulu-bulu seperti ekor ayam. Karena jika bulu tersebut keatas biasanya bulu ekor ayam tetapi jika bulu tersebut kebawah maka bulu ekor burung.
 
Ada sebuah versi cerita mengenai sejarah pembangunan gereja ayam ini. Cerita ini admin dapatkan dari salah seorang penduduk lokal ketika admin mencari lokasi gereja tersebut. Kabarnya dahulu tahun 1990an ada seorang Tionghoa yang kaya raya yang jatuh cinta pada seorang gadis lokal. Akhirnya untuk menikahinya orang Tionghoa tersebut membelikan tanah seluas satu bukit (bukit rhema) yang sertifikat tanahnya tidak bisa dimiliki satu orang saja kemudian membangun gereja diatas bukit tersebut. Ketika pembangunan hampir selesai, pembangunan dihentikan oleh pemerintah daerah setempat karena tidak memiliki ijin untuk membangun akhirnya gereja ayam tersebut hanya berbentuk seperti sekarang ini. Satu hal yang perlu diingat, ini hanyalah sebuah versi cerita, mungkin masih ada versi cerita lain lagi mengenai keberadaan gereja ayam tersebut.

Untuk menuju ke gereja ayam yang berada di Dusun Gombong, Desa Kembanglimur, Kecamatan Borobudur dapat melewati pertigaan ojek borobudur ke arah Selatan kemudian perempatan arah Punthuk Setumbu ambil ke kanan mingikuti jalan utama searah dengan Punthuk Setumbu. Sampai SD Karangrejo ada belokan arah kanan ambil kanan mengikuti jalan utama sampai tikungan pertigaan, ambil jalan kiri menanjak. Kemudian ikuti jalan utama kemudian ambil kanan ikuti jalan utama kemudian ambil kiri lurus. Sebelum perempatan kecil ada tulisan parkir. Dari tempat penitipan kendaraan tinggal berjalan sekitar 5 menit mengikuti jalan cor blok menanjak.

Tangga naik menuju kepala ayam

Setelah berjalan melewati jalan cor blok,bangunan gereja unik berbentuk ayam sudah dapat terlihat menghadap ke arah Timur ke arah Candi Borobudur. Sejak gereja ayam ini dikenal masyarakat luas, banyak orang yang menggunakan tempat ini untuk bolos sekolah, mesum tetapi ada juga yang menggunakannya untuk hal positif seperti prewedding karena penikahan adalah ibadah. Dahulu tempat ini tidak dikelola sehingga hanya ada dua pilihan untuk memasukinya, yang pertama lompat jendela belakang atau melalui ruangan bawah tanah yang lembab dan 'kotor'. Tetapi awal tahun 2015 tempat ini sudah mulai dikelola dengan membuka akses di sati jalan saja dengan menjebol salah satu dinding kemudian memberinya pintu kemudian menutup semua akses masuk supaya tidak dipergunakan untuk hal-hal negatif lagi.

Untuk menuju kepala ayam juga sudah diberikan akses yang lebih nyaman dengan disediakan tangga dari kayu yang sudah dapat dinaiki dari dasar hingga ke mahkotanya. Untuk menaiki tangga tersebut, pengunjung diminta untuk memberikan dana perawatan sebesar Rp 5.000,00 perorang. Selain itu, disamping tangga masuk juga ada penjual makanan dan minuman yang bisa digunakan sebagai obat perut lapar dan tenggorokan haus, tetapi ingat tetap harus menjaga kebersihan walaupun sudah dikenakan biaya perawatan.

View Candi Borobudur dan bukit dagi dari moncong ayam

Perjalanan menuju atas mahkota ayam terhenti di mocong atau mulut ayam karena Candi Borobudur dan Bukit Dagi dapat terlihat dengan jelas dari posisi ini. Hanya satu hal yang disayangkan karena Gunung Merapi dan Merbabu tidak dapat terlihat dengan jelas. Tempat ini memang potensial untuk dijadikan sebagai tempat sunrise tetapi menurut pengelola tempat ini huka mulai pukul 08.00 WIB, sedangkan pada Hari Sabtu dan Minggu buka lebih awal yaitu pukul 06.00 WIB. Admin mengharap ada keajaiban lagi, semoga admin memiliki kesempatan untuk masuk ketempat tersebut lebih awal sehingga admin dapat mengabadikan sunrise dari gereja ayam tersebut.

Punthuk Setumbu terlihat dari atas mahkota ayam

Purwosari / Cemuris terlihat dari atas mahkota ayam

Akhirnya samoailah diatas mahkota ayam, sebuah pemandangan yang menakjubkan dapat dilihat dari tempat tersebut. Selain Candi Borobudur, Bukit Dagi, Gunung Merapi, Merbabu, dapat juga untuk melihat Gunung Sumbing, Puncak Suroloyo dan perbukitan Menoreh karena tempat tersebut masih merupakan gugusan Bukit Menoreh. Sebuah tempat untuk memburu sunrise yang cukup terkenal juga dapat dilihat dari atas mahkota ayam yaitu Punthuk Setumbu dan Bukit Purwosari / Cemuris.

Itulah sedikiit cerita dari gereja ayam Bukit Rhema Borobudur yang dapat admin bagikan kepada konco dolan. Mohon maaf jika terjadi kesalahan dalam penulisan tempat. Jangan pernah bangga dolan sampai luar negeri jika tidak mengenal Indonesia, tetap semangat #dolandolan jangan lupa #selfie dan #jangannyampah

0 komentar:

Posting Komentar

Site search