Kamis, 30 Maret 2017

ikon festival of light
 
Bisnis wisata selfie saat ini cukup menggiyurkan, dimana ada tempat yang asyik untuk berfoto, instagramble, pasti langsung diserbu anak-anak gahol. Di Jogja, sebuah daerah yang kaya dengan objek daya tarik wisata, selalu berkembang dan mengeksplor potensi-potensi yang ada. Mulai dari pantai yang masih perawan, bukit, hingga hutan, semuanya selalu ada spot selfienya.

Perlu diingat bahwa di Jogja sebelumnya sudah memiliki tempat wisata yang sudah dikembangkan sejak lama, contohnya di Pasar Seni Gabusan, Bantul. Tempat ini selalu dijadikan lokasi untuk memamerkan potensi-potensi yang ada di Kabupaten Bantul, misalnya setiap tahun selalu ada acara Bantul Expo yang diadakan di Gabusan. Kali ini Pasar Seni Gabusan digunakan untuk acara Festival Of Light, seperti yang ada di Monumen Jogja Kembali dan Kaliurang.

Untuk menuju ke Pasar Seni Gabusan sangatlah mudah, lewati saja Jalan Parangtritis dari Ring Road selatan ke selatan terus, ISI Yogyakarta ke selatan sedikit. Lokasinya ada di sebelah kanan jalan dari arah utara atau barat jalan. Dari pinggir jalan sudah terlihat gong raksasa dan tulisan Pasar Seni Gabusan.

loket masuk festival of light

Di belakang gong besar tersebut adalah lokasi yang digunakan untuk Festival Of Light. Pengunjung langsung disambut oleh gapura yang berhiaskan lampu warna-warni dan penjaga loket yang ramah. Harga tiket masuk di acara ini Rp 15.000,00 untuk hari Senin-Jumat, dan Rp 20.000,00 untuk hati Sabtu & Minggu. Jam buka acara ini mulai pukul 16.00 WIB sampai malam.

disambut oleh dinosaurus
 
 dijaga oleh ular cobra
 
kawanan burung merak
 
Setelah memasuki gapura Festival Of Light, pengunjung akan disuguhi lampion hias di sepanjang jalan dan tentunya akan disambut oleh dinosaurus. Berbagai macam lampion berbentuk hewan dapat dijumpai disini, mulai dari ular cobra, unta, burung beo, burung meark, buaya, macan, daaaan masih banyak lagi.

Setelah melewati sepanjang jalan yang penuh dengan lampu, pengunjung akan tiba di pagar langkan candi yang dibelakangnya terdapat stupa, selain itu desain gapura Majapahit juga menghiasi tempat ini. Bagi yang khawatir kelaparan, di dalam area Festival Of Light juga terdapat tempat untuk sekedar mencicipi camilan. Tidak perlu kawatir akan terlihat semrawut karena adanya pedagang, karena pedagang di tempat ini terbatas banget jumlahnya sehingga kenyaman pengunjung tetap terjaga.
 
tempat menikmati camilan
 
spot selfie banget
 
 Di tempat ini juga sudah disediakan beberapa meja kursi untuk pengunjung yang ingin makan. Settingnya juga cukup oke karena tidak mengganggu pandangan pengunjung yang ingin berfoto ria dengan latar belakang lampion. Karena bukanya di sore hari, bagi yang ingin menjalankan ibadah Shalat Maghrib juga sudah disediakan mushola, jadi tidak perlu kawatir akan menunda shalat.
 
jembatan cinta dari utara
 
 jembatan cinta dari selatan
 
Sekedar saran dari admin, jika ingin mengunjungi tempat ini, lebih baik pukul 17.00 WIB sudah sampai lokasi. Foto-foto di luar sebentar sambil menikmati sate, kemudian pukul 17.30 WIB beli tiket kemudian masuk, karena lampu lampion baru dinyalakan sekitar pukul 17.30 WIB. Nikmatilah keindahan lampion yang ada di acara Festival Of Light Pasar Seni Gabusan karena hanya sampai tanggal 2 April 2017.
 
hanya tinggal bayangmu
 
Tidak banyak yang dapat admin sampaikan, semoga dapat bermanfaat dan menginspirasi. Mohon maaf bila ada salah dalam penulisan dan penamaan. Semangat #dolandolan dan #jangannyampah

Selasa, 28 Maret 2017

Sajian ingkung Pajangan
Dolan memang sudah menjadi kebutuhan pokok untuk saat ini, tapi ada satu hal yang perlu diingat ketika kita dolan, yaitu makan. Karena tanpa makan, kita belum tentu bisa menghadapi kenyataan. Dalam posting kali ini, admin ingin sharing mengenai menu makanan yang Jawa banggget dan sudah dijadikan menu kuliner unggulan di kawasan Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, yaitu ingkung.

Rute untuk menuju Guwosari sangatlah mudah untuk dihafal, jika dari arah Jogja, perempatan Masjid Agung Bantul belok ke kanan atau ke arah barat, perempatan pertama belok kanan, kemudian ketemu jembatan Kali Bedog belok kiri atau ke arah Goa Selarong, setelah jembatan tersebut sudah kawasan kuliner ingkung Pajangan.
Lokasi ingkung Pak Budi
 Karena di Pajangan merupakan kawasan kuliner ingkung, tentunya konco dolan akan kebingungan mau mencicipi ingkung di tempat makan yang mana karena admin juga bingung mau mencicipi ingkung di tempat makan yang mana. Akhirnya admin melihat ada tempat makan dengan bangunan kayu, dengan slogan 'roso hotel rego ndeso' yang artinya cita rasa seperti hotel tetapi harganya desa/murah. Letaknya ada di selatan lapas Pajangan, tepatnya di Dusun Kalakijo, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan.
Pak Budi menunjukkan ayam yang masih mentah
Kalimat marketing seperti diatas tentunya dapat dibuat oleh semua orang, tetapi pasti ada cerita untuk inspirasinya. Ternyata yang membuat slogan tersebut bernama Pak Budi yang juga pemilik tempat makan tersebut sekaligus juru masaknya. Sebelumnya, Pak Budi pernah bekerja di salah satu hotel terkenal di Jogja sebagai juru masak yang kemudian memilih untuk resign dan membuka usaha sendiri. Pengalaman selama kerja di hotel tentunya diaplikasikan dalam mengelola usahanya sendiri, sehingga rasa dan kualitas jelas terjamin.

Pak Budi, baru memulai usaha ingkungnya selama 8 bulan, dan memiliki keinginan untuk mengembangkannya. Misalnya saja untuk dapurnya, Pak Budi berkeinginan mengembangkannya menjadi seperti dapur rumah jaman dahulu, karena saat ini dapurnya masih standar dapur saat ini. Walaupun begitu, untuk proses pemasakan ingkung tetap menggunakan tungku dari tanah liat karena akan mencipakan cita rasa yang berbeda.
Paket ingkung keluarga
Soal menu, ada banyak pilihan. Ada yang berbahan dasar ayam ada juga yang berbahan dasar bebek, semua tergantung selera pembeli. Soal harga jelas terjangkau, ada juga paket keluarga untuk 4 orang seharga sekitar 100 ribu, jadi cukup terjangkau dan murah karena ayam ingkung yang sesungguhnya adalah ayam yang masih utuh. Sedangkan isi paket keluarga tersebut sudah ada nasi, sayur, sambal, lalapan, dan minuman.

Jadi...sekarang konco dolan sudah lapar dan ingin makan ingkung? Langsung saja meluncur ke Desa Guwosari, pasti akan bingung karena terlalu banyak pilihan tempat makan. Tentunya setiap tempat makan di Guwosari memiliki ciri khas tersendiri dengan cita rasanya. Tidak banyak yang dapat admin sampaikan, semoga dapat bermanfaat dan menginspirasi. Mohon maaf bila ada salah dalam penulisan dan penamaan. Selamat makan ingkung, supaya tetap semangat #dolandolan dan #jangannyampah

Site search